• News

  • Singkap Budaya

Dahulu Ada Tradisi Memperkenalkan Seks kepada Pria Remaja Jawa Usai Disunat

Ilustrasi gowok dalam masyarakat Jawa tempo dulu
Foto: dewisundari.com
Ilustrasi gowok dalam masyarakat Jawa tempo dulu

BANYUMAS, NETRALNEWS.COM - Tradisi masyarakat Jawa tempo dulu yang satu ini telah ditinggalkan. Jejaknya masih sempat bisa diketahui berdasarkan cerita masyarakat antara lain di Banyumas, Purworejo, dan di beberapa daerah lain di Jawa.

Tradisi itu bernama “gowokan” atau “nyantrik”. Tradisi unik ini merupakan semacam edukasi seks yang ditujukan bagi remaja yang lamarannya sudah diterima (siap menikah) sehingga ingin mempersiapkan dirinya agar mampu menjalani malam pertama dengan baik.

Bahkan, konon tradisi ini juga diberlakukan bagi remaja yang telah “mbekuki” (telah mimpi basah)  dan telah sembuh dari khitan (usai disunat). Tentu saja ada tujuannya, salah satunya agar remaja tersebut mampu belajar bagaimana kelak bisa membahagiakan istrinya lahir dan batin.

Dalam “Gogowokan, Persiapan Pernikahan Laki-Laki Banyumas (Perspektif Etic dan Emic pada Kesejajaran dengan Praktek Prostitusi)” seperti diunggah dalam jurnalnasional.ump, Dyah Siti Septiningsih menyebutkan bahwa tradisi gowok sebenarnya sudah tergolong prostitusi.

“Pada perspektif etic, gowokan dapat disejajarkan dengan praktek prostitusi sebab telah memenuhi unsur-unsurnya, yaitu ada transaksi harga berupa kesepakatan antara orangtua calon pengantin dengan gowok, ada penjual jasa yaitu gowok, ada pengguna jasa yaitu laki-laki yang akan memasuki pernikahan, ada hubungan seks berupa ‘pelatihan’ sampai mahir, dan adanya spirit yang mendukung pada penentang seks bebas,” tulis Septiningsih.

Sambungnya, “Pada perspektif emic, gowokan ditempatkan pada posisi karena bersifat solutif bagi calon pengantin laki-laki yang harus memerankan tugas suami dengan sempurna. Hal itu berkaitan dengan budaya masyarakat yang permisif serta adanya spirit yang mendukung pada penganjur seks bebas.”

Kajian Septiningsih rasanya sangat tepat sebagai kacamata untuk melihat tradisi tersebut secara bijak, sebab bila tidak demikian, bisa jadi tradisi ini disalahgunakan. Bersyukur pula bahwa tradisi ini sudah lama ditinggalkan.

Bagaimana sebenarnya prosesi tradisi tersebut? Ketika tradisi ini masih berlaku, pemuda yang lamarannya sudah diterima keluarga calon istri, akan mendatangi seorang perempuan yang menjadi gowok sesuai kesepakatan bersama dengan pihak keluarga calon mempelai.  

Pihak pemuda akan membayar gowok dengan tarif tertentu. Calon pengantin pria kemudian diserahkan kepada gowok untuk tinggal beberapa lama untuk mendapat pelajaran mengenai seluk beluk tubuh wanita dan bagaimana berhubungan seksual.

Kisah mengenai gowok pernah diangkat Budi Sardjono melalui kisah novel berjudul Nyai Gowok (2014). Latar belakang kisah novel ini mengambil era 1950-an.

Alkisah, ada pemuda bernama Bagus Sasongko yang mendatangi seorang gowok bernama Nyai Lindri. Ternyata, Nyai Lindri adalah seorang wanita Tionghoa bernama Goo Hwang Lin.

Ia adalah keturunan dari Goo Wok Niang, perempuan yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho ke tanah Jawa.

Dalam kisah fiksi tersebut, Goo Wok Niang disebut-sebut sebagai pembawa tradisi (dari Tiongkok) sehingga dikenal oleh masyarakat Jawa. Dua kata depan dari nama perempuan itu (Goo Wok) kemudian digunakan untuk menyebut tradisi tersebut (gowok).

Karya sastra lainnya yang menyinggung tradisi ini adalah Ronggeng Dukuh Paruk (1982) karya Ahmad Tohari. Dalam novel ini juga diceritakan tentang seorang perempuan yang bisa disewa bagi seorang remaja yang hendak menikah.

“Seorang gowok akan memberi pelajaran kepada anak laki-laki itu banyak hal perikehidupan berumah-tangga. Dari keperluan dapur sampai bagaimana memperlakukan seorang istri secara baik,” tulis Ahmad Tohari.

Ia juga menambahkan, “Masa pergowokan biasanya berlangsung hanya beberapa hari, paling lama satu minggu. Satu hal yang tidak perlu diterangkan tetapi harus diketahui oleh semua orang adalah hal yang menyangkut tugas inti seorang gowok. Yaitu mempersiapkan seorang perjaka agar tidak mendapat malu pada malam pengantin baru.”

Sementara menurut Iman Budhi Santosa, dalam Kisah Polah Tingkah: Potret Gaya Hidup Transformatif (2001) menyebutkan bahwa profesi gowok berperan penting di Banyumas. Perempuan yang menjadi  gowok biasanya berusian antara 23-30 tahun.

“Diharapkan apa yang diperoleh dan dipraktikkan gowok tersebut dapat dikuasai dengan baik (mahir) supaya nantinya dapat mengajari istrinya,” tulis Budhi Santoso.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber