• News

  • Singkap Budaya

Menakjubkan, Potret Lawas dari Rumah Adat hingga Lebaran Sunda Tempo Dulu

Lebaran yang diadakan keluarga menak di Bandung sekitar tahun 1937-1939
Netralnews/Spaarnestad Photo
Lebaran yang diadakan keluarga menak di Bandung sekitar tahun 1937-1939

BANDUNG, NETRALNEWS.COM - Menelusuri dokumen foto lawas seperti koleksi Tropenmuseum-KITLV, Universiteit Leiden, dan Nationaal Archief sungguh menarik. Walaupun tidak dilengkapi kisah layaknya buku sejarah, kita dapat menangkap pesan terselubung di dalamnya.

Gambaran kehidupan Indonesia tempo dulu (Hindia Belanda) tetap melekat kuat. Kita dapat menganalisanya melalui kesan-kesan budaya yang dihidupi sehari-hari.

Perkampungan masyarakat Sunda zaman Kolonial Belanda terdiri dari rumah-rumah sederhana yang bergerombol. Rumah didirikan saling berdekatan dengan tetangga, berbentuk  panggung satu lantai dengan jarak cukup dekat dengan permukaan tanah.

Tiang rumah menggunakan kayu dan dindingnya menggunakan anyaman bambu. Kemiringan atap cukup curam. Di masa paling awal, atap berbahan rumbia, ijuk, atau dahan. Di masa lebih muda sudah menggunakan genteng tanah liat yang dibakar.

Rumah tertentu memiliki beranda di depan pintu masuk. Hanya saja, tempat cuci, kakus, toilet atau kamar mandi, sepertinya tidak dibuat secara khusus. Bisa jadi, aktivitas buang hajat dilakukan di pinggir kali, sumber mata air, dan di sekitar kolam ikan.

Pemandangan lainnya menggambarkan tentang tradisi lebaran, tradisi mengenakan pakaian kebaya, mandi di kali, kesenian wayang, dan juga ada kebiasaan pria Sunda saat membuat kopi bubuk. Selamat menikmati! 

Foto 1: Kampung di pinggir kali pada tahun 1875. (Hak cipta: Universiteit Leiden, fotografer: Kurkdjian)

Foto 2: Kampung di Garut, Jawa Barat pada tahun 1900. (Hak cipta: Universiteit Leiden, fotografer: Kurkdjian)

Foto 3: Kampung di lereng pegunungan Jawa Barat tahun 1910. (Hak cipta: Universiteit Leiden, fotografer: Kurkdjian)

Foto 4: Persawahan di Garut yang berlatar belakang gunung Gunung Cikuray tahun 1933. (Hak cipta: KITLV, fotografer: KT Satake). 

Mengenai KT Satake, ia adalah seorang fotografer dari Jepang yang pernah berkeliling ke Hindia-Belanda sekitar 1930-an. Foto koleksinya kemudian dipublikasikan dalam album berjudul Sumatra Java Bali pada tahun 1935. 

Foto 5: Rumah tradisional Sunda di Papandak, Wanaraja, Garut, Jawa Barat tahun 1933. (Hak cipta: KITLV, fotografer: KT Satake)   

Foto 6: Sebuah kampung di Garut abad ke-19. (Hak cipta: Spaarnestad Photo,  Fotografer: J Demmeni).

Foto 7: Sebuah rumah adat Sunda sekitar tahun 1937-1939 (Hak cipta: Nationaal Archief/ Spaarnestad Photo, fotografer: Wijnand Kerkhoff).

Foto 8: Acara selamatan di hari Lebaran yang diadakan keluarga menak (bangsawan Sunda) di Bandung (duduk di kanan) sekitar tahun 1937-1939. (Hak cipta: Spaarnestad Photo, fotografer: Wijnand Kerkhoff).

Foto 9: Lelaki Sunda menyadap aren sebagai bahan membuat gula merah sekitar tahun 1937-1939. (Hak cipta: Spaarnestad Photo, fotografer: Wijnand Kerkhoff).

Foto 10: Warga Sunda sedang mengolah tanaman jarak kepyar untuk menjadi minyak, sekitar tahun 1937-1939. (Hak cipta: Spaarnestad Photo, fotografer: Wijnand Kerkhoff).

Foto 11: Gadis Sunda di Bogor sedang mandi di kali. (Hak cipta: Universiteit Leiden)


Foto 12:  Sekitar 1880, Dua wanita Sunda di studio foto mengenakan kebaya yang terlihat mewah. (Hak cipta: Universiteit Leiden).

Foto 13: Sekitar 1930, sekelompok mojang berkebaya. (Hak cipta: Universiteit Leiden).

Foto 14: Sekitar 1910, sejumlah pria Sunda sedang mengolah buah kopi, sebelum kopi luwak terkenal. (Hak cipta: Universiteit Leiden).

Foto 15: Garut, sekitar 1910, sekelompok mojang penari wayang orang. (Hak cipta: Universiteit Leiden).

Foto 16: Pembuat wayang golek. (Hak cipta: Universiteit Leiden).

Foto 17. Wayang golek di sekitar tahun 1900. (Hak cipta: Universiteit Leiden).

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber