• News

  • Singkap Budaya

Bulan Ramadan Ali Merana, Makanan Kesukaannya Dilupakan Peranakan Arab

Keturunan Arab-Betawi di Condet, Jakarta Timur
Foto: in.al-atheer.id
Keturunan Arab-Betawi di Condet, Jakarta Timur

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Alkisah dahulu kala di kota yang bernama Batavia, hiduplah seorang pemuda keturunan Arab-Tionghoa-Jawa. Ia memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh pemuda lainnya.

Saat Bulan Suci Ramadan, ia selalu tergila-gila menikmati jenis makanan khas di kota kelahirannya. Saking sukanya pada makanan itu, ia meminta orang tuannya selalu rutin membuatkan untuk dirinya.

Alasan Ali meminta makanan itu kepada ibunya, “Ali bah ente! Ali bah ente!“ Arti perkataannya adalah “Ali cinta kamu!” Ali cinta makanan itu dan ia tentu juga cinta kepada ibunya. Karena kebiasannya diulang-ulang, warga sekitarnya kemudian menyebut makanan itu “Ali Bagente.”

Sebenarnya, seperti apa jenis makanan itu? Bagi Anda yang belum mengenalnya, nama itu mungkin terdengar asing di telinga. Makanan ini menjadi sajian khas masyarakat Betawi (khususnya campuran Tionghoa-Jawa-Arab) di Batavia selama Bulan Suci Ramadan di zaman Kolonial Belanda.

Cara membuatnya sangat mudah. Bahan dasarnya adalah sisa atau kerak nasi yang menempel di bagian bawah saat menanak nasi dengan cara diliwet (ditanak dengan kuali atau ketel). Bisa juga dengan sengaja menjadikan nasi menjadi kerak.   

Kerak nasi itu kemudian di jemur hingga kering. Ukurannya bisa berbentuk seperti dasar kuali atau ketel. Bisa pula dipotong kecil sesuai selera. Setelah itu digoreng kering.

Saat disajikan, Ali Bagente akan dicampur dengan adonan gula ganting (gula merah yang dikentalkan). Rasanya gurih, asin, manis. Bisa pula ditambahkan sambal bagi yang suka pedas.

Sayangnya, makanan itu dari masa ke masa kemudian mengalami kepunahan. Generasi milenial dijamin sudah asing dengan makanan ini. Walau sudah ada sejak zaman leluhur Betawi, banyak anak Betawi kini tak kenal makanan ini.

Bisa jadi, generasi milenial peranakan Arab juga sudah asing dengan Ali Bagente. Mengapa? Zaman now, begitu banyak menu makanan sehingga membuat bingung generasi muda, sementara makanan ini jarang diperkenalkan ke mereka. 

Maka bisa dibayangkan, bila Ali keturunan Arab itu masih hidup, bisa-bisa ia akan menangis sepanjang Bulan Suci Ramadan karena makanan kesukaannya tidak ditemukan lagi.

Kalaupun masih ada yang membuat, kemungkinan hanya warga Betawi yang tinggal di daerah Condet (Kramatjati, Jakarta Timur). Di wilayah ini masih banyak komunitas Betawi keturunan Arab.

Padahal di masa masih bernama Batavia, komunitas keturunan Arab-Betawi masih cukup banyak, antara lain di kawasan Kebon Pala (Tanah Abang), Kebon Nanas (Jatinegara), Pekojan, dan sebagainya.

Khusus peranakan Arab dari Pekalongan, Jawa Tengah, kebanyakan membangun permukiman di kawasan Condet, sekitar Batu Ampar.

Tahun 1970-an, seiring pemekaran dan pembangunan metropolitan, permukiman kampung Arab-Betawi banyak yang digusur. Saat pindah, cukup banyak yang kemudian ikut bermukim atau berkumpul juga di kawasan Condet.

Sebagai catatan tambahan, selain Ali Bagente, sajian makanan dan minuman khas Arab-Betawi lainnya adalah Ayam Bakar, Ayam Goreng, Empal Ayam dan Ati Ampela, Nasi Uduk, Nasi Ulam, Nasi Kebuli, Gurame Kuah Pucung, Lontong Cap Gomeh, Es Selendang Mayang, Bir Pletok, Kue Biji Ketapang, Kue Akar Kelapa, Kembang Goyang, Kue Talam, dan Soto Betawi.

Semua jenis kuliner tersebut selalu menemani warga Betawi saat makan sahur dan berbuka puasa. Kuliner itu adalah sahabat setia yang selalu menemani ibadah puasa selama Ramadan.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber