• News

  • Singkap Budaya

Mukjizat Rambut Putri Raja yang Menjadi Mualaf, Dikenang Warga Saat Ramadan

Makam Raden Ayu Siti Khotijah
Foto: Kimbaharisukolilobaru
Makam Raden Ayu Siti Khotijah

DENPASAR, NETRALNEWS.COM - Alkisah di abad ke-18, hiduplah seorang putri raja yang cantik jelita. Ayahnya, Raja Kerajaan Pemecutan, Denpasar, Bali, sangat menyayangi anak tersebut. Nama putri itu adalah Gusti Ayu Made Rai.

Karena kecantikannya, Gusti Ayu Made Rai sangat tersohor di  seluruh Bali. Banyak para bangsawan yang tergila-gila dan ingin meminangnya.

Namun malang tidak bisa diduga dan ditolak. Belum juga tiba masa yang tepat untuk dinikahkan, Gusti Ayu Made Rai tiba-tiba ambruk akibat penyakit kuning atau penyakit yang mengganggu  organ liver.

Ayah Gusti Ayu Made Rai sudah mengundang semua Balian (dukun) terkenal yang ada di Bali, akan tetapi penyakit Tuan Putri belum bisa disembuhkan. Sang Raja dilanda kekhawatiran yang mendalam terhadap keselamatan putri kesayangannya.

Siang malam ia berdoa agar diberikan petunjuk bagi pengobatan Gusti Ayu Made Rai. Sampai suatu ketika, di tengah semedi, ayahnya mendapat suara gaib (pawisik) agar ia membuat sayembara, sebagai syarat supaya anaknya bisa mengalami kesembuhan.

Sayembara yang dimaksud adalah barangsiapa mampu menyembuhkan anaknya, bila perempuan akan diangkat sebagai puteri raja, dan bila laki-laki maka ia akan dinikahkan dengan Gusti Ayu Made Rai.

Pengumuman sayembara itu kemudian disebarluaskan ke segala penjuru desa di Bali bahkan hingga wilayah di luar Bali, termasuk Jawa dan Madura.

Pengumuman sayembara dari Raja Pamecutan terdengar oleh telinga seorang ulama sekaligus alhli sipirual di tanah Jawa (syekh). Ia kebetulan memiliki murid kesayangan dari daerah Bangkalan, Madura. Namanya Pangeran Cakraningrat IV (hidup antara 1718-1746 ).

Singkat cerita, ulama itu memanggil Cakraningrat IV agar datang ke Yogyakarta. Setelah diberikan bekal dan arahan, ia diutus menuju Bali untuk mengobati Gusti Ayu Made Rai.

Pangeran Cakraningrat IV segera berangkat menuju Bali dengan dikawal sekitar 40 orang prajurit.  Begitu sampai di Kerajaan Pemecutan, Pangeran Cakraningrat IV langsung menghadap sang raja serta menyampaikan maksud kedatangannya.

Setelah diizinkan Raja Pamekasan, Pangeran Cakraningrat IV segera mengeluarkan seluruh kesaktian yang telah diberikan oleh gurunya. Mantra-mantra ia bacakan. Gusti Ayu Made Rai pun berhasil disembuhkan.

Betapa gembira Raja Pamecutan karena putrinya telah pulih kembali. Sesuai janji dalam sayembara, Sang Raja kemudian merestui anaknya untuk dinikahkan dengan Pangeran Cakraningrat IV. Kebetulan juga, Gusti Ayu Made Rai juga mengaku jatuh cinta dengan Sang Pangeran.

Usai pernikahanan, Gusti Ayu Made Rai diboyong Pangeran Cakraningrat menuju Bangkalan, Madura. Begitu sampai di Madura, Gusti Ayu Made Rai disambut dan dirayakan dengan pesta yang berbeda dengan model di Kerajaan Pamecutan.

Upacara pernikahan di Madura bercorak Islami. Gusti Ayu Made Rai ternyata kemudian bersedia meninggalkan kepercayaan lama dan bersedia menganut ajaran agama Islam. Ia menjadi seorang mualaf (pemeluk agama Islam) dengan nama Raden Ayu Siti Khotijah.

Istri keempat Pangeran Cakraningrat IV itu benar-benar menunjukkan dirinya sebagai istri yang baik dan sangat taat beribadah. Salat lima waktu tak pernah ia tinggalkan.

Suatu hari, ia meminta izin kepada Pangeran Cakraningrat IV, agar diperkenankan berkunjung sebentar ke kampung halamannya di Bali. Ia sangat merindukan ibu, bapak, dan sanak-saudaranya.

Permintaan itu dipenuhi Pangeran Cakraningrat IV. Sejumlah dayang dan prajurit segera mengawal perjalanan Gusti Ayu Made Rai yang kini telah berubah namanya menjadi menjadi  Raden Ayu Siti Khotijah .

Sebelum berangkat menuju Bali, Raden Ayu Siti Khotijah  diberi bekal Pangeran Cakraningrat IV berupa guci, keris, dan pusaka yang diselipkan di rambutnya.

Kemudian, tibalah Raden Ayu Siti Khotijah di Bali. Ia disambut dengan segala kebesarannya di antaranya dirayakan dengan upacara Maligia.

Usai penyambutan, hari telah sore. Seperti biasa, Raden Ayu Siti Khotijah segera menunaikan Salat Magrib. Setelah mengambir air wudu, ia segera masuk ke rumah dan menjalankan salat dengan mengenakan pakaian mukena putih sertra menghadap ke arah Barat.

Tiba-tiba, datanglah Patih Kerajaan Pamecutan dan melihat Raden Ayu Siti Khotijah sedang mengenakan pakaian putih dan perilakunya aneh karena ia belum pernah melihatnya.

Malangnya, Patih Kerajaan Pamecutan mengira Raden Ayu Siti Khotijah sedang melakukan ritual gaib atau praktik ilmu hitam (leak). Ia kemudian bangkit dan segera melaporkannya kepada Sang Raja Pamecutan.

Raja sangat marah mendengar laporan anak buahnya. Ia tidak mengira anak kesayangannya berubah menjadi penganut ilmu hitam. Ia kemudian memerintahkan agar Raden Ayu Siti Khotijah dihukum mati.

Raden Ayu Siti Khotijah segera ditangkap dan dibawa ke depan Pura Kepuh Kembar. Saat itu juga Raden Ayu Siti Khotijah merasakan firasat bahwa ajalnya sudah dekat. Sebelum dihukum mati, ia menyampaikan suatu pesan kepada Sang Patih.

Ia meminta agar jangan dibunuh dengan senjata tajam. Ia meminta agar dibunuh dengan menggunakan cucuk konde yang telah disatukan dengan daun sirih dan diikat benang Tridatu (benang tiga warna: putih, hitam, dan merah).

Cucuk konde itu diminta agar dihujamkan ke dada sebelah kiri. Raden Ayu Siti Khotijah juga berpesan, seandainya telah meninggal dan dari tubuhnya keluar asap berbau busuk maka ia meminta agar jasadnya dikubur di sembarang tempat.

Akan tetapi jika keluar asap berbau harum, Raden Ayu Siti Khotijah meminta agar jasadnya dikubur di suatu tempat suci dan keramat.

Ternyata terbukti. Begitu cucuk konde menancap pada dada kiri Raden Ayu Siti Khotijah, ia segera meninggal dan dari tubuhnya keluar asap putih berbau harum. Peristiwa itu sempat membuat hati Patih dan Raja Pamecutan sangat menyesal atas keputusannya.

Begitu jasad Raden Ayu Siti Khotijah dikebumikan di suatu lokasi yang dianggap keramat, tiba-tiba dari kuburnya tumbuh pohon dengan ketinggian sekitar 50 centimeter. Begitu pohon itu dicabut, tumbuh lagi berulang-ulang.

Masyarakat percaya bahwa pohon itu sebenarnya tumbuh dari rambut Raden Ayu Siti Khotijah yang sebelum meninggal sudah diberikan mantra dan jimat pusaka dari Pangeran Cakraningrat IV.

Pohon yang tumbuh di tengah makam Raden Ayu Siti Khotijah kemudian dirawat oleh warga sekitar hingga kini. Pohon itu menjadi salah satu mukjizat yang melambangkan kesucian Raden Ayu Siti Khotijah. Pohon tersebut sudah tumbuh besar dan menjulang tinggi serta dinamakan pohon rambut atau taru rambut.

Saat Ramadan tiba, banyak umat muslim berdatangan untuk berdoa di makam Raden Ayu Siti Khotijah sekaligus untuk melihat mukjizat pohon rambut tersebut.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber