• News

  • Singkap Budaya

Potret Batak Tempo Dulu: Perempuan, Kalender Kuno, hingga Kuburan Balige

Kubur batu di Balige
Foto: Het Nationaal Archief
Kubur batu di Balige

MEDAN, NNC - Suku Nusantara yang satu ini sangat mudah ditengarai karena memiliki ciri khas yang tidak dimiliki suku lain. Mereka selalu mencantumkan nama keluarga atau nama marga. Mereka itulah suku Batak.

Menelusuri budaya, sejarah, dan asal mula suku ini, selalu menghadirkan sesuatu yang unik dan menarik. Memang, untuk sumber sejarah mengenai Batak, mulanya didominasi dari catatan orang Belanda. Namun kini sudah bermunculan hasil kajian putra-putri Batak.

Di zaman Hindia Belanda, sejarah suku Batak pernah menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah kolonial. Tak tanggung-tanggung, untuk menggali budaya tersebut, pemerintah menugaskan beberapa pejabat mengadakan riset.

Mereka yang kemudian melakukan penelitian  diantaranya adalah Dr Warneck, Joustra, Kontelir van Dijk, Residen Ypes, Vergouwen, Residen Poortman, Kontelir James dan lain-lain.

Para peneliti asing di era Kolonialisme yang sangat penting adalah Van Dijk (seorang kontelir di Balige sesudah Kontelir Welsink) yang menulis buku Tijdschrift Bataviasche Genootschap (1890) dan Dr J Wanzeck (mula-mula Pendeta di Nainggolan, Pulau Samosir) dengan bukunya Tobabataks Worterboek (1903).

Peneliti lain yang tak kalah penting adalah Residen Ypes karena berhasil membukukan hasil penelitiannya dengan judul Bijdrage tot de kennis van de stamverwantschappen en het grondrecht der Toba-en Dairibataks (1932).

Jejak kajian mereka bisa pula didapatkan dari dokumentasi foto-foto lawas koleksi Nederlands Fotomuseum, National Geographic Society, Spaarnestad Photo yang di antaranya pernah dipublikasikan juga di website pribadi indonesia-zaman-doeloe.

Berikut beberapa koleksi foto lawas yang bisa kita simak, dari mulai wajah-wajah perempuan Batak tempo dulu, kubur batu, kalender kuno, hingga kondisi kehidupan masyarakat Batak di pegunungan.

Foto 1 dan 2: Wajah seorang gadis dan wanita Batak di tahun 1920-an (Hak cipta: Nederlands Fotomuseum, fotografer: K.T. Satake)

Foto 3, 4, 5: Suasana di desa Batak tahun 1930. (Hak cipta: Fotografer: National Geographic Society / Corbis, fotgrafer: W. Robert Moore).

Foto 6: Potret sejoli dari Batak Angkola/Mandailing sekitar awal abad ke-20. (Hak cipta: Spaarnestad Photo).

Foto 7, Sebuah rumah tradisional Batak di awal abad ke-20. (Hak Cipta: Het Nationaal Archief).

Foto 8 dan 9: Kuburan batu suku Batak di Lumban Suhi Suhi dan Balige di awal abad ke-20. (Hak cipta: Het Nationaal Archief).

Foto 10, 11, dan 12: Wajah masyarakat Batak di tahun 1910-an. (Hak cipta: Het Nationaal Archief, fotografer: Franz Otto Koch).

Foto 13 dan 14: Masyarakat Batak di pegunungan sekitar tahun 1920. (Hak cipta: National Geographic Society/Corbis, fotografer: Melvin A. Hall).

Foto 15: Kalender Batak kuno dari kayu tahun 1930. (Hak cipta: Three Lions/Getty Images)

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber