• News

  • Singkap Budaya

Ajaib! Saat Ramadan, Air Sumur Ini Hanya Bisa Diambil Setelah Malam Jumat Kliwon

Seorang pengunjung mencoba menimba air dari Sumur Sendang Mas, Banyumas, Jawa Tengah
Foto: wacana.id
Seorang pengunjung mencoba menimba air dari Sumur Sendang Mas, Banyumas, Jawa Tengah

BANYUMAS, NETRALNEWS.COM - Ini adalah salah satu peninggalan budaya dan sistem keyakinan yang menjadi ciri khas masyarakat di Nusantara. Lokasi tepatnya berada di Kecamatan Bantumas, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Nama peninggalan tersebut adalah Sumur Sendang Mas.

Selain bentuknya yang sangat unik, sumur ini dipercaya merupakan situs keramat, bersejarah, dan memiliki kekuatan supranatural yang bisa memberikan berkah kehidupan bagi orang yang meyakininya.

Menurut tradisi cerita lisan, bila Bulan Suci Ramadan tiba, air dari sumur ini hanya bisa diambil 3 kali yaitu setelah malam Jumat Kliwon menurut sistem penanggalan Jawa.

Kalau pengambilan air dilakukan secara paksa (lebih dari 3 kali) maka dipastikan air bersih tidak akan diperoleh, kalaupun didapat paling hanya air keruh. Mengapa bisa demikian?

Asal Usul

Alkisah, pada abad ke-18,  hiduplah seorang lelaki berdarah biru yang merupakan salah satu panglima di Keraton Kertosuro. Ia pergi ke Banyumas karena sedang dilanda kegalauan. Seluruh negeri Banyumas sedang mengalami kekisruhan yang menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat jelata.

Ia kemudian berusaha menenangkan diri dan memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa agar kekisruhan itu bisa diatasi. Nama bangsawan itu adalah Raden Mas Gandakusuma.  

Tak disangka, langkah kakinya membawa Gandakusuma menuju ke sebuah lokasi perbukitan angker yang terletak di Desa Binangun, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Di tempat itu ia melihat penampakan cahaya misterius yang dipercaya sebagai wangsit.

Ternyata, penampakan cahaya itu berasal dari satu sumur atau satu mata air (tuk) yang airnya memancar berwarna keemasan karena memantulkan cahaya matahari. Raden Gandakusuma kemudian berhenti dan mengambil air dari sumur itu untuk wudu dan menjalankan Salat Magrib.

Dalam doanya, ia mendengar bisikan agar suatu ketika bisa membangun pusat pemerintahan di sekitar mata air tersebut. Mata air tersebut akan memancarkan energinya untuk mengusir kekuatan negatif dan segala marabahaya yang mengancam masyarakat.

Singkat cerita, Raden Mas Gandakusuma kemudian diangkat menjadi adipati menggantikan Tumenggung Suradipura. Ia tidak melupakan bisikan gaib itu.

Ia segera memindahkan pusat pemerintahan Kadipaten Banyumas yang sebelumnya berada di kawasan Hutan Mangli  (barat kota lama Banyumas) ke lokasi dimana Sendang Mas berada.

Raden Mas Gandakusuma menjabat adipati Banyumas selama tahun 1707-1743 dengan gelar Adipati Yudanegara II (Bupati ke-7). Ia wafat saat berada di pendapa kadipaten sehingga dijuluki Tumenggung Yudanegara Seda Pendapa .

Cagar Budaya yang Keramat

Hingga kini, keberadaan Sumur Sendang Mas dan kisah asal usulnya dilestarikan bahkan menjadi literasi utma tentang sejarah cikal bakal Kabupaten Banyumas. Sumur Sendang Mas, tradisi lisan, dan bangunan pendapa kota lama Banyumas menjadi satu kesatuan budaya khas Banyumas.

Keberadaan air Sumur Sendang Mas yang jernih merupakan simbol agar masyarakat Banyumas senantiasa memiliki hati dan pikiran yang jernih. Air itu harus diperjuangkan (ditimba) dengan suatu perjuangan.

Simbol perjuangan menjaga hati dan pikiran jernih tercermin dari timba kecil dari tempurung kelapa yang menyesuaikan diameter sumur yang hanya 15 cm. Untuk mendapatkan air jernih dan bisa diminum, siapapun yang menimba membutuhkan konsentrasi sehingga air tidak tumpah atau kotor.

Selain itu, dalam keyakinan dan cerita yang beredar di masyarakat, banyak fenomena aneh di sumur ini. Bila musim penghujan tiba, belum tentu seseorang bisa mengambil air karena terkadang justru kering. Sementara di musim kemarau menunjukkan hal sebaliknya.

Banyak orang berdatangan dari rakyat biasa hingga para tokoh atau pejabat publik untuk datang dan memohon berkah dari air sumur. Konon, berkah tidaknya bisa diukur dari air yang bisa ia timba.

Sejumlah orang yang datang biasanya membawa kembang telon, kinangan, rokok, pisang mas raja, kemenyan, dan minyak duyung. Benda-benda ubarampe itu menjadi prasarana agar bisa memperoleh air yang dikehendaki.

Masyarakat sekitar Banyumas sangat menghormati cagar budaya tersebut. Seruan untuk melestarikan cagar budaya ini juga disampaikan oleh Kapolsek Banyumas, Polres Banyumas, Polda Jawa Tengah AKP Soetrisno seperti dikutip Tribatanews,go.id beberapa waktu lalu (07/02/2019).

Ketika menyambangi Sumur Sendang Mas, AKP Soetrisno menghimbau juru kunci Sumur Sendang Mas agar selalu menjaga keamanan sekitar dan jangan sampai ada orang yang berniat jahat merusak kelestarian budaya di sumur tersebut.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber