• News

  • Singkap Budaya

Bukan dengan Daging Babi, Umat Muslim Papua Gelar Bakar Batu Sambut Ramadan

Umat muslim di Papua sedang bakar batu
Foto: portal.merauke.go.id
Umat muslim di Papua sedang bakar batu

JAYAPURA, NETRALNEWS.COM - Tidak sedikit orang Papua yang sudah menganut agama Islam. Mereka tersebar di beberapa daerah. Salah satunya adalah komunitas umat muslim Wamena di Jl. Krisna Nomor 23, Angkasa Kota Jayapura, Provinsi Papua.

Seperti umat muslim lainnya, dalam rangka menyambut menyambut Ramadan 1440 Hijriyah Tahun 2019, mereka juga menunaikan ibadah puasa. Uniknya, menjelang Ramadan tiba, mereka akan menggelar acara pawai, juga tradisi asli mereka, barapen.

Pawai menyambut Ramadan biasanya dilakukan oleh seluruh umat muslim di Kabupaten Jayapura. Massa yang terdiri dari siswa/siswi pondok pesantren, majelis taklim, dan sejumlah organisasi muslim berkumpul dan berpawai mulai sekitar pukul 14.00 WIT.

Dengan acara ini, tali silaturahmi antar umat muslim di Papua diharapkan bisa tetap terjaga. Selain itu, dengan pawai ini, umat muslim bisa saling menguatkan untuk menjalankan ibadah puasa.

Selain acara pawai, tradisi yang tak kalah unik dilakukan umat muslim di Papua adalah penyelenggaraan bakar batu atau barapen.

Bakar batu adalah tradisi yang sangat baik yang memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk menguatkan tali silaturahmi, sebab di hampir semua tahapan prosesi bakar batu, memerlukan kerjasama dan kebersamaan.

Umat muslim di bumi Cenderawasih ini sesekali mengeluarkan seruan “wa wa wa”. Hanya saja, seruan seperti itu sudah sedikit berbeda dengan seruan saudara-saudara mereka di pedalaman.    

Ada pula perbedaan lainnya. Dalam suku Papua, selain umbi-umbian, yang dimasak dalam barapen adalah daging babi. Namun, karena ini adalah komunitas orang Papua yang telah menganut agama Islam, maka daging babi diganti daging ayam.

Saat barapen dilaksanakan, seluruh anggota keluarga ikut berkumpul. Mereka saling bermaaf-maafan dan saling mendoakan agar selama bulan Ramadan bisa menenuaikan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya.

Setelah berpuasa satu bulan lamanya, mereka juga akan merayakan Idul Fitri. Komunitas muslim Papua juga memiliki tradisi berkeliling, saling memaafkan ketika Idul Fitri tiba.

Untuk tradisi barapen, biasanya juga diadakan mereka bila ada keperluan untuk menyambut kelahiran, perkawinan adat, penobatan kepala suku, dan sebagainya.

Mengenai tradisi bakar batu, berikut ini gambaran secara ringkas bagaimana tahapan tradisi barapen dilaksanakan.

Pertama, batu diletakan di atas perapian lalu dibakar sampai kayu habis terbakar sehingga batu menjadi panas, terkadang sampai berwarna merah membara.

Kedua, bersamaan dengan pembakaran batu, warga membuat lubang yang cukup dalam untuk menempatkan makanan dan batu bakar.

Ketiga, batu panas tadi diletakan di dasar lubang yang sebelumnya sudah dialasi daun pisang serta ilalang.

Keempat, setelah diletakan batu panas, lalu diletakan lagi daun pisang di atas batu panas. Selanjutnya, daging (biasanya daging babi, tetapi untuk umat muslim Papua menggantinya dengan daging ayam) diletakkan di atasnya.

Kelima, di atas daging ditutup daun pisang, kemudian di atasnya diletakkan batu panas lagi, lalu ditutup daun.

Keenam, di atas daun, ditaruh ubi jalar (batatas), singkong (hipere), dan sayur-sayuran lainnya dan ditutup daun lagi.

Ketujuh, di atas daun paling atas, ditumpuk lagi batu panas dan terakhir ditutup daun pisang dan daun alang-alang.

Kedelapan, setelah sekitar tiga jam, makanan akan matang dan siap disajikan untuk dinikmati bersama-sama.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber