• News

  • Singkap Budaya

Jangan Takut, ‘Perang’ Sebentar Lagi Melanda Pidie, Aceh

Tradisi perang meriam di Pidie, Aceh, untuk merayakan Lebaran Idul Fitri
foto: zianmustaqin.com
Tradisi perang meriam di Pidie, Aceh, untuk merayakan Lebaran Idul Fitri

PIDIE, NETRALNEWS.COM - Malam yang ditunggu masyarakat Gampong Meunasah Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam, sebentar lagi tiba.

Mereka akan berbondong-bondong keluar rumah meramaikan malam untuk merayakan “perang”. Uniknya, perang kali ini dilakukan dengan gembira dan sukacita.

“Perang” yang dimaksud bukanlah perang bunuh-membunuh, namun perang membunyikan meriam bambu. Potongan bambu besar diberi lubang kecil, potongan karbit dimasukkan, lubang ditutup sebentar, kemudian disulut korek api, dan “buumm!” Ledakan pun terdengar laksana meriam.

Tak hanya dengan bambu, drum ikut pula digunakan. Sama saja prinsipnya. Tabung drum diberi lubang, drum diberi air secukupnya, kemudian potongan karbit dimasukkan, tunggu sebentar, lalu nyalakan, dan “baammm!” Suara gemuruh jauh lebih keras terdengar.

Sepi dan gelapnya malam berubah hingar bingar. Bunyi meriam drum dan bambu bersahutan. Itulah pertanda malam takbir sudah tiba. Malam menjelang Idul Fitri, hari kemenangan umat muslim sedang dirayakan masyarakat Pidie.

Meriam karbit biasanya dinyalakan di pinggiran sawah kampung. Selain untuk keamanan rumah dari guncangan ledakan, suara hasil meriam karbit akan jauh lebih menggema dan tedengar hingga ke kampung sekitarnya.

Entah sejak kapan tradisi ini menjadi kebiasaan msyarakat Pidie. Yang pasti, gemuruhnya ikut meramaikan setiap takbir berkumandang di meunasah-meunasah dan masjid. Kesan meriah tak bisa dimungkiri dalam menyambut Idul Fitri yang suci.

Meriam karbit biasanya sudah dimulai begitu terdengar Azan Isya. Dentuman-dentuman akan terus terdengar bersahutan hingga Azan Subuh tiba. Ketika umat muslim mempersiapkan Salat Idul Fitri, barulah mereda.

“Perang” tahunan ini memberikan sensasi tersendiri dalam memberi makna hari kemenangan. Setelah memerangi hawa nafsu selama satu bulan, umat muslim di Pidie bergembira merayakan itu dengan simbol bunyi-bunyian laksana kemenangan perang sungguhan.

Mengenai meriam karbit, sesungguhnya bukan muncul tiba-tiba. Sebelumnya, bahan yang digunakan adalah minyak tanah dan batang bambu.

Meriam bambu berbahan minyak tanah, pada prinsipnya hampir sama dengan meriam karbit. Minyak dimasukkan ke dalam lubang kecil dari bambu ukuran besar. Agar lebih lantang, biasanya dimasukkan serbuk garam.

Lubang kemudian dipanaskan dengan menyalakannya kemudian sebentar-sebentar ditiup. Ketika bambu sudah sangat panas, maka di lubang bambu akan mengasilkan asap putih. Itu pertanda sudah siap menghasilkan suara dentuman keras.

Begitu lubang kecil disulut api dari potongan kayu, otomatis akan menghasilkan suara ledakan. Suara itu akan berbunyi terus dan berulang-ulang setiap disulut. Ketika minyak habis pun bisa dituang kembali, begitu seterusnya.

Sayangnya, minyak tanah sudah sulit diperoleh sejak pemerintah mencabut subsidi minyak tanah pada tahun 2009. Dahulu minyak tanah menjadi bahan bakar utama memasak namun kemudian digantikan dengan tabung elpiji 3 kilogram.

Sejak saat itu, minyak tanah mahal harganya dan secara perlahan menghilang dari pemasaran. Minyak tanah kini menjadi barang langka di Pidie.

Oleh sebab itu, masyarakat kemudian menggantinya dengan karbit. Selain mudah didapat, meriam berbahan karbit menghasilkan suara dentuman yang lebih keras.

Hanya bedanya, bila dibanding dengan minyak tanah, dentuman hanya terjadi sekali setiap potongan karbit digunakan. Oleh sebab itu, harus disediakan potongan karbit yang banyak bila ingin merayakan perang meriam bambu selama semalam suntuk.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber