• News

  • Singkap Budaya

Bukan Abal-Abal, Ulama Ini Menggandakan Diri Menjadi Empat Saat Buka Puasa

Surau Tuo Taram, Sumatera Barat
foto: nagaritaram.com
Surau Tuo Taram, Sumatera Barat

AGAM, NETRALNEWS.COM - Sekali peristiwa pada bulan Ramadan di Nan Tujuah yakni salah satu Nagari di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, hiduplah tiga keluarga yang sedang menyelenggarakan acara buka puasa bersama di rumahnya masing-masing.

Ketiga keluarga tersebut adalah keluarga Nuraya, keluarga Wastiah, dan keluarga Syamsidar. Mereka sama-sama mengundang Ulama setempat agar berkenan hadir dalam acara mereka. Kehadirannya diyakini bisa mendatangkan berkah bagi keluarga mereka masing-masing.

Acara pun berlangsung sesuai yang diharapkan. Usai berbuka puasa, ketiga keluarga itu saling berjumpa dan masing-masing mengucap syukur dan meyakinkan satu sama lain bahwa acara mereka dihadiri Sang Ulama. Kesalahpahaman pun terjadi.

Pasalnya, masing-masing keluarga ngotot bahwa Sang Ulama itu berada di tengah-tengah keluarga mereka masing-masing. Bagaimana mungkin di tempat berbeda dan di waktu yang sama, ada tiga orang? Bukankah Sang Ulama hanya ada satu?

Baik keluarga Nuraya, keluarga Wastiah, maupun keluarga Syamsidar, masing-masing bersumpah dan membawa saksi bahwa acara mereka dihadiri Ulama itu.  Perdebatan pun semakin seru karena muncul pihak keempat yang mengatakan bahwa Sang Ulama yang dimaksud tidak pergi ke mana-mana.

Pihak yang mengatakan tidak pergi ke mana-mana menyebutkan bahwa pada hari dan jam yang sama, Sang Ulama sedang berzikir, itikaf, dan berbuka bersama dengan jamaah di Surau Tuo.

Demikianlah sepenggal kisah tentang kehebatan dan misteri sosok Ulama di Nagari Taram Nan Tujuah, Sumatera Barat. Sosok Ulama tersebut bernama Buya Ibrahim Mufti atau sering disebut juga dengan sebutan Syaikh Ibrahim Mufti.

Legenda Minang

Ini adalah salah satu budaya rakyat Minang di Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Legenda ini hingga kini menjadi salah satu budaya tutur yang diwariskan turun-temurun yang menggambarkan bagimana proses Islamisasi di Sumatera Barat.

Ajaran Islam disebarkan berkat peran tokoh Ulama yang bernama Buya Ibrahim Mufti. Dengan kesabaran dan kesaktiannya, ia berdakwah dan hidup bersama dengan masyarakat kampung di wilayah yang bernama Nagari Taram Nan Tujuah.

Ia mulai dikenal dan dipercaya bisa mendatangkan berkah bagi warga Nagari sejak mampu mengatasi bencana kekeringan yang melanda daerah tersebut. Musim kemarau berkepanjangan. Sawah kekeringan sehingga bahaya kelaparan pun mulai datang mengancam.

Nagari Taram sebenarnya dilalui satu sungai yang bernama Batang Sinamar. Selain sebagai sumber pengairan, sungai ini juga berfungsi sebagai jalur transportasi.

Di suatu hari, datanglah rombongan saudagar dari Persia yang menyusuri Sungai Batang Sinamar dan ingin menjual dagangannya kepada penduduk Minangkabau. Ia berhenti di Nagari Taram.

Rombongan pedagang itu tidak lama karena merasa Nagari Taram gersang dan penduduknya miskin. Akan tetapi, ada seorang dari saudagar itu memutuskan turun dan menetap di Nagari Taram yang tandus itu. Dialah Buya Ibrahim Mufti.

Saudagar lain sebenarnya heran dengan keputusan Buya Ibrahim Mufti. Lain halnya dengan Buya Ibrahim Mufti yang merasa yakin dengan keputusannya.

Singkat cerita, Buya Ibrahim Mufti  kemudian memasuki kampung kemudian menancapkan ujung tongkat yang ia bawa ke dalam tanah. Demikian hal itu terus dilakukan sambil berjalan ke arah Timur. Mukjizat kemudian terjadi.

Tanah yang digerus oleh tongkat Buya Ibrahim Mufti tiba-tiba menjadi lembab, basah, dan keluar mata air. Ketika Buya Ibrahim Mufti sampai di ujung Nagari paling Timur, ia menancapkan tongkatnya dan dibiarkan tidak dicabut.

Di kemudian hari, lokasi ini dinamakan Kapalo Banda atau Hulu Sungai. Inilah yang kemudian menjadi pusat mata air yang mengalir ke sungai-sungai kecil. Ketika sungai-sungai kecil itu bertemu, jadilah sungai besar yang dinamakan Batang Mungo.

Karena keberlimpahan air itu, masyarakat di luar wilayah itu terheran-heran. Mereka kemudian menyebut daerah tempat Buya Ibrahim Mufti menunjukkan mukjizatnya dengan sebutan “Taoram” yang berarti “terendam”.   

Dengan air itu, lahan persawahan di Nagari bisa kembali subur. Para petani di Nagari bersorak karena bisa menanam padi dan tanaman pangan lainnya.

Sejak peristiwa itu, Buya Ibrahim Mufti sangat dihormati oleh pedunduk setempat. Berkat bantuannya, warga tidak lagi tergantung pada hujan. Walaupun musim kemarau, penduduk tetap memperoleh sumber air yang cukup untuk keperluan pertanian dan keperluan sehari-hari.

Dengan dibantu warga, Buya Ibrahim Mufti kemudian membangun sebuah surau. Di surau inilah ia tinggal sehari-hari sambil mengajarkan ajaran Islam. Setiap sore anak-anak berdatangan untuk mengaji.

Surau itu kemudian dinamakan Surau Tuo yang artinya surau tertua dan pertama yang dibangun oleh Buya Ibrahim Mufti di Nagari Taram. Tempat itu menjadi pusat kegiatan Buya Ibrahim Mufti  sebagai guru mengaji, guru wirid, dan guru tasawuf.

Misteri Menggandakan Diri

Mengenai cerita kemunculan Buya Ibrahim Mufti di empat lokasi, masyarakat meyakini bahwa Buya Ibrahim Mufti memiliki ilmu spiritual yang dinamakan “bayang-bayang tujuh”.

Karena ilmu inilah, kejadian empat tempat dan di waktu yang sama, bisa muncul  sosok Buya Ibrahim Mufti secara bersamaan, bisa dipahami oleh warga setempat.

Artinya, jangankan empat tempat, Buya Ibrahim Mufti pun bisa menggandakan dirinya menjadi tujuh. Demikian keyakinan warga di Nagari  Taram kala itu.

Buya Ibrahim Mufti hidup di Nagari Taram hingga masa tua. Suatu malam yang gelap dan hanya diterangi bulan sabit, warga kampung dihebohkan oleh munculnya sinar terang laksana bola api yang melayang dan berputar-putar di atas Nagari Taram.

Warga mengejar bola api itu. Sinar tiba-tiba berhenti di suatu tempat, kemudian menghilang. Anehnya, di tempat itu kemudian muncul gundukan tanah.

Gundukan itu di kemudian hari diyakini sebagai makam keramat Buya Ibrahim Mufti. Di masa berikutnya, di lokasi ini didirikanlah masjid besar yang kemudian diberi nama Masjid Raya Taram. Lokasinya tidak jauh dari Surau Tuo.  

Di masa kemerdekaan semua tempat ini kemudian dirawat dan dibangun sehingga kini menjadi objek-objek wisata religi yang tekenal di wilayah Taram. Objek religi itu meliputi Surau Tuo, Kuburan Keramat Buya Ibrahim Mufti, dan Kapalo Banda.

Arsitektur Surau Tuo tetap dipertahankan hingga kini walaupun bangunan pernah dipugar beberapa kali. Sementara itu, makam Buya Ibrahim Mufti  ditutupi kelambu. Tempat ini sering ramai dikunjungi banyak wisatawan selama bulan Ramadan untuk berdoa dan memohon berkah.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber