• News

  • Singkap Budaya

Dendam di Hari Lebaran Kedua, Tokoh Adat Lampung Dibunuh dan Dibuang ke Laut

Rumah adat Lampung
foto: romadecade.org
Rumah adat Lampung

BANDAR LAMPUNG, NETRALNEWS.COM - Kisah ini adalah salah satu budaya tutur masyarakat Lampung. Setiap Lebaran tiba, kisah legenda ini selalu dikenang karena memberikan pesan moral agar manusia senantiasa memegang teguh nilai-nilai kebenaran dan kebajikan.

Alkisah, dahulu kala di kampung Putih Doh, Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, hiduplah seorang lelaki bernama Unang Batin. Sejak kecil, ia dididik ayahnya dalam tradisi beragama dan ilmu kanuragan (beladiri) yang ketat. Ia pun tumbuh menjadi anak yang baik.  

Selain itu, ia juga menjadi orang yang selalu mengingat pesan ayahnya, "Jadilah orang yang rendah hati seperti tanaman padi. Semakin berisi bukan mendongak tetapi merunduk. Jangan lupa pula menjadi pribadi yang jujur, karena nilai kejujuran berlaku di mana pun juga.”

Memasuki usia remaja, Unang Batin berkelana ke Palembang, Bengkulu, Pariaman, Aceh, hingga Kelantan Malaka. Ia berguru dan memperdalam ilmu agama, pengetahuan, dan ilmu beladiri. Dengan itu, ia berharap menjadi pendekar yang tangguh dan berilmu tinggi.

Usai berkelana, ia kembali ke kampung halamannya. Ayahnya menyambutnya dengan gembira ketika melihat kepribadian Unang Batin tidak menyimpang dari harapannya. Walau sudah berilmu, Unang Batin tetap rendah hati, jujur, dan tidak sombong.

Suatu hari, ketua adat kampung Putih Doh ingin mengirim salah satu pemuda kampung mengikuti pertandingan pencak silat antar kampung yang rutin digelar pada hari kedua Lebaran (Idul Fitri hari kedua).

Sang ketua adat tidak serta merta main tunjuk. Ia mengajak warga bermusyawarah untuk menentukan pemuda yang paling tepat mewakili mereka.

Ternyata, musyawarah itu memutuskan Unang Batin agar dikirim mengikuti perandingan. Musyawarah juga memberi gelar Mas Motokh kepada Unang Batin.

Tibalah Lebaran hari kedua. Bunyi gong bertalu-talu, tanda pertandingan silat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Halaman rumah kepala adat (Lamban Balak), tempat penyelenggaraan pertandingan sudah dipenuhi para penonton. Para pesilat antar kampung sudah menunggu giliran dan aba-aba para yuri pertandingan.

Pada masa itu, pesilat terkenal yang selalu menjadi juara dan sangat terkenal bernama Marga Pertiwi. Ketika mendapat giliran bertanding, Unang Batin ternyata langsung berhadapan peslilat tanggung itu.

Unang Batin tidak gentar. Ia yakin mampu menandingi Marga Pertiwi. Ia telah mendalami banyak jurus beladiri. Ia juga tetap mengingat pesan ayahnya untuk selalu tampil rendah hati.

Berbeda dengan sosok Marga Pertiwi yang juga dikenal memiliki ilmu gaib. Selama bertanding, tingkahnya sangat congkak. Ia terus meledek  dan memandang rendah lawannya. Marga Pertiwi sesumbar bahwa lawannya akan dijatuhkannya hanya dengan satu atau dua jurus saja.

Pertarungan antara Unang Batin dan Marga Pertiwi pun dimulai. Penonton bersorak sorai menyerukan nama pesilat yang mereka unggulkan. Satu, dua, tiga, dan empat jurus telah dikeluarkan Marga Pertiwi, tetapi Unang Batin tidak roboh.

Marga Pertiwi  kena batunya karena telah meremehkan lawan. Sesumbarnya ternyata tak terbukti, bahkan pada pertarungan jurus ke sekian, ia berhasil dipukul dan ditendang dengan keras oleh Unang Batin. Marga Pertiwi terjatuh dan tak mampu melanjutkan pertandingan.   

Unang Batin menang. Sorak sorai warga Kampung Putih Doh yang mendukungnya membahana. Ia berhasil mematahkan mitos yang menganggap Marga Pertiwi tidak bisa dikalahkan. Pertandingan pun berakhir.

Banyak orang memuji kehebatan Unang Batin. Namun, Unang Batin hanya menanggapinya, "Ah, semua itu hanya karena berkat Tuhan, Saya tidak ada artinya apa-apa jika tanpa pertolongannya."

Di pihak lain, Marga Pertiwi ternyata tidak menerima kekalahannya. Ia sangat kecewa dan mendendam. Ia tidak mau menunjukkan jiwa sportifitas. Ia bahkan berencana akan membuat Unang Batin dan warga Kampung Putih Doh  ditimpa malapetaka.

Marga Pertiwi bersekongkol dengan ilmu hitam. Ia mengirimkan teluh (sejenis santet) berbentuk cahaya putih ke warga kampung Putih Doh. Sasaran utama teluh itu tentu saja ditujukan kepada Unang Batin.

Unang Batin ternyata merasakan firasat buruk. Ia tahu sedang dikirim guna-guna. Dengan kesaktiannya, ditolaknya guna-guna itu dengan kekuatan berwujud cahaya kuning. Di atas langit kampung Putih Doh, tampaklah cahaya putih dan kuning saling bertarung.

Cahaya kuning berhasil menghalau cahaya putih. Cahaya putih meninggalkan kampung dan tidak dikejar oleh cahaya kuning. Padahal, jika Unang Batin mau, ia bisa membalas mengirim teluh kepada Marga Pertiwi, namun Ia tidak mau mencelakai orang lain.

Di pihak Marga Pertiwi, kekalahan kedua kalinya tidak membuatnya menyerah untuk mencelakai Unang Batin. Kali ini, ia merancang niat jahatnya dengan lebih saksama.

Ia mengendap-endap menuju rumah Unang Batin. Ia merusak tangga rumah Unang Batin dan mengganjalnya dengan batu. Maksudnya agar Unang Batin terjatuh saat menginjak anak tangga.

Niat busuk Marga Pertiwi ternyata berhasil. Usai menghadiri pesta, Unang Batin hendak masuk ke rumahnya. Kakinya menginjak anak tangga itu dan ia pun terjerembab di atas tanah.

Serta merta, Marga Pertiwi  bersama teman-temannya mengepung dan menyerang dengan senjata tajam. Unang Batin dikeroyok secara biadab.

Perkelahian tidak seimbang itu membuat Unang Batin kewalahan. Ia sempat memperingatkan kepada Marga Pertiwi dan kawan-kawannya, "Ingat! Jika kalian membunuhku, empat puluh hari setelah kematianku, kalian semua juga akan mati!”

Marga Pertiwi tidak juga mengurungkan niatnya. Ia dan teman-temannya menganiaya Unang Batin dengan keji. Unang Batin pun mati. Mayatnya kemudian dibuang Marga Pertiwi  ke tengah laut .

Warga Kampung Putih Dot gempar. Mereka tidak tahu pemuda pujaan mereka telah dibunuh dengan sewenang-wenang. Mereka juga tidak tahu siapa pelakunya.

Anehnya, empat puluh hari setelah kematiannya, Marga Pertiwi  dan pengikutnya tiba-tiba menjadi orang yang ketakutan dan merasa bersalah atas perbuatan yang telah dilakukan. Kepada warga kampung, mereka mengaku telah membunuh.

Yang lebih mengherankan, semua pembunuh itu kemudian melakukan bunuh diri dengan carannya masing-masing. Tentu saja, warga Kampung Putih Dot  kembali gempar.

Selang beberapa lama, mereka baru tahu, rangkaian bunuh diri itu merupakan bagian kutukan dari Unang Batin. Warga pun semakin hormat kepada sosok Unang Batin. Sejak itu, ia dikenang warga sebagai simbol pribadi yang rendah hati, jujur, berilmu, dan ahli beladiri.

Editor : Taat Ujianto