• News

  • Singkap Budaya

Warok Suro Bledug: Cintailah Keris Jawa Sebelum Direbut ‘Siamang Tunggal Malaysia‘!

Bernardus Nurqiantoro atau Warok Suro Bledug
Netralnews/Dok.Pribadi
Bernardus Nurqiantoro atau Warok Suro Bledug

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Upin, Ipin, dan teman-temannya terkaget-kaget. Sebuah gagang keris tiba-tiba bergerak sendiri dari dalam peti di gudang milik Tok Dalang. Keris itu sakti mandraguna sehingga membuat Upin, Ipin, dan teman-temannya tersedot dalam pusaran gaib menuju dunia lain.

Upin, Ipin, dan teman-temannya terdampar di sebuah negeri yang berbeda dari alam nyata. Negeri itu bernama Kerajaan Indraloka yang sedang berada dalam ancaman bahaya.

Singkat cerita, Upin, Ipin, dan teman-temannya tak bisa diam dan membiarkan Kerajaan Indraloka direbut oleh Raja Bersiong yang berilmu hitam dan super jahat.

Petualangan bocah-bocah cilik ini mengingatkan betapa tulusnya anak-anak ketika ikut berjuang menyelamatkan negeri dari ancaman kejahatan yang disimbolkan dalam sosok Raja Bersiong.

Ternyata, ketulusan si kembar Upin-Ipin memang sudah dinubuatkan dalam keris Siamang Tunggal. Mereka menjadi kunci penyelamatan Kerajaan Indraloka. Keris Siamang Tunggal yang sebelumnya menghilang akhirnya kembali berkat Upin-Ipin.

Itulah garis besar cerita film Upin Ipin: Keris Siamang Tunggal yang sudah tayang sejak 9 Mei 2019 di berbagai bioskop di Indonesia. Walaupun cukup sederhana, film tersebut sangat menarik dalam konteks mengajak generasi muda di Malaysia (dan Indonesia) untuk mencintai budaya aslinya.

Bila kita mau mencermati isi pesan film Upin dan Ipin di atas, kita patut mengelus dada. Malaysia saja menggiatkan kesadaran budaya peninggalan para leluhurnya, apakah juga demikian halnya dengan yang terjadi di Indonesia?

Walau bukan karena terinspirasi Upin dan Ipin, keprihatinan dan kekhawatiran budaya luhur dilupakan ternyata juga menghinggapi seorang lelaki kelahiran Wanasari, DI Yogyakarta pada 19 November 1977. Nama aslinya adalah Bernadus Nurqiantoro.

Warok Suro Bledug tengah bersemedi

“Sejak kecil, saya sebenarnya mempunyai ketertarikan dengan budaya Jawa dan hasil-hasilnya. Sebagai orang Jawa, saya merasakan budaya Jawa sudah seperti tinggal aran (hanya tinggal nama saja),” tuturnya kepada Netralnews.com hari Jumat (31/5/2019).

Ia menambahkan, “Sebutannya saja sebagai wong (orang) Jawa tetapi sudah tidak tahu babar blas (apapun)  tentang undering manungsa Jawa (budaya orang Jawa). Bahasa Jawa sudah memudar terutama krama hinggil, pakaian kejawen, unggah ungguh (tatakrama) khas Jawa, etika kejawen sudah terkikis, dan sebagainya.”

Berangkat dari keprihatinan dan tidak mau hanya tinggal diam, sejak 10 tahun lalu, Nurqiantoro memutuskan menceburkan dan menggeluti budaya Jawa secara langsung. Sebagai tanda ikrar dan niat tersebut, ia mengubah namanya menjadi “Warok Sura Bledug.”

“Nama itu saya pilih untuk mengingatkan bahwa leluhur saa berasal dari Jawa Timur. Meskipun warok khas Ponorogo sementara leluhur dari Malang, namun leluhur saya dahulu memang seorang yang disegani dengan nama Jaya Mustaram,” papar Sang Sura Bledug.

Sambungnya, “Tadinya mau memakai nama ‘Singo Barong’ yang khas Malang dan kebetulan leluhur  memiliki ilmu  penggendaman (kemampuan memengaruhi pikiran orang) secara massal tingkat tinggi yaitu aji singo barong secara turun-temurun. Namun kemudian menjadi sinengker (rahasia) yang tidak akan mungkin diungkap lagi.”

Nurqiantoro akhirnya memutuskan untuk menggunakan nama “Warok Suro Bledug.

“Sosok warok ini memiliki sifat ksatria. ‘Suro’ itu kerbau sebagai simbol pendiam dalam arti penyabar namun sebenarnya mempunyai kekuatan yang sangat besar dalam menghadapi kehidupan.”

Tambahnya, “Sedangkan ‘Bledug’ artinya ‘debu’ (bukan anak gajah). Kenapa debu? Ini adalah simbol bahwa aktivitas Sang Kerbau akan berlangsung tiada pernah berhenti.”

Dalam penghayatan Nurqiantoro atau Warok Suro Bledug, orang Jawa yang sadar akan kejawaannya memiliki sifat melakukan screening (penyaringan) segala hal yang dihadapi dengan menggunakan olah rasa pangrasa (olah rasa tinggi). 

Menyerahkan warangka keris kepada klien dari Lampung

Bentuk perilaku olah rasa pangrasa bisa beraneka rupa tetapi biasanya tercermin dalam "laku" sehingga selalu penuh pertimbangan matang, menyukai keheningan, refleksi mendalam. Hal ini dilakukan agar segala tindakan yang dihasilkan seminimal mungkin membawa efek yang tidak baik.

“Sikap hening biasanya diolah melalui cara meditasi  dengan ubarampe seperti dupa, bunga, dan sebagainya. Itu adalah sarana menuju keheningan dalam mengabdi kepada Sang Pencipta. Dalam keheningan bisa memaksimalkan pribadinya senantiasa menyatu dalam harmonisme dengan Sang Pencipta. Istilahnya, manunggaling kawula lan Gusti,” tuturnya.

Orang yang tidak mengenal budaya Jawa seringkali menganggap semua ritual itu sebagai semacam sinkretisme. Padahal, agama manapun ternyata juga sering menggunakan sarana semedi untuk mengarahkan jiwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Berdasar pada prinsip spiritualitas dan jiwa orang Jawa, Nurqiantoro kemudian menekuni pembuatan benda-benda kebudayaan Jawa seperti:  warangka keris, surjan, singep, jagrak, blawong, dan lain-lain.

“Pemesan keris itu biasanya mempunyai harapan atau cita-cita yang ingin tercapai. Ikrar mewujudkan impiannya kemudian dicurahkan dalam bentuk keris. Ada ratusan bentuknya yang disebut ‘dhapur’, contohnya dhapur jalak, dhapur tilam sari, keris luk seperti keris jangkung luk 3, pandawa luk 5, dan seterusnya,” tutur Nurqiantoro.

Masih menurut penuturannya, “Di dalam keris juga istilah ‘pamor’ atau warna putih yang membentuk motif dalam permukaan keris, misalnya pamor woswutah, udan mas, junjung derajad, dan sebagainya. Semuanya memiliki filosofi yang sangat dalam dan tak bisa dijabarkan hanya dalam dua lembar tulisan.”

Bahkan masing-masing bahan dasar pembuatan keris pun memiliki filosofinya sendiri-sendiri yang juga tak akan selesai dibahas dalam tempo dua hari dua malam. Itu disebabkan karena begitu banyak detail pernak-pernik dalam pembuatan keris dan masing-masing memiliki arti dan tujuan.

Mengenakan busana Jawa produk sendiri

Dalam hal pembuatan warangka keris, Warok Sura Bledug menjelaskan, “Warangka juga banyak macamnya. Bentuk warangka biasanya menunjukkan daerah tertentu. Ada model warangka Bali, Melayu, Bugis, Madura, Yogyakarta, Solo, dan lain-lain.”

Bahkan satu daerah saja ternyata memiliki keberagaman bentuk dan arti. Misalnya, di Yogyakarta, model branggah, gayaman, pakualaman, dan sebagainya. Model warangka itu biasanya dinamakan juga dengan istilah wanda atau wandan, misalnya warangka Yogyakarta wandan Pakualaman.

Keberagaman dan kekayaan yang tersimpan dalam keris juga bisa dilihat dari gagang atau handle keris, atau sering disebut juga deder atau ukir. Bentuk dan modelnya ada banyak sekali.

Nama-nama berikutnya dalam bagian keris antara lain mendak yakni bagian seperti cincin yang terdapat di pangkal keris. Kemudian pendok yakni logam yang menutupi sarung keris. Semua itu juga memiliki banyak motif.

Bila di Malaysia saja begitu peduli dengan keris sebagai peninggalan budaya leluhur, kapan generasi muda Indonesia juga mau peduli?

“Pesan saya, apa yang sudah ada di Indonesia (budaya Jawa), mari kita lestarikan. Ini budaya adiluhung bahkan Unesco pun mengakuinya. Keris sebagai salah satu budaya Jawa sebenarnya merupakan perpaduan teknologi, spiritual, seni, dan budaya. Jangan sampai kita itu sekadar hidup di tanah Jawa tetapi tak tahu artinya Jawa,” demikian pesan Nurqiantoro, Sang Warok Sura Bledug.

Aneka benda budaya Jawa yang diproduksi Bernardus Nurqiantoro bersama istri, dipajang di rumahnya yang berlokasi di Dusun Ngijorejo, Desa Gari, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Editor : Taat Ujianto