• News

  • Singkap Budaya

Jorok tapi Nikmat di Hari Lebaran, ‘K**tol Gejepit’ hingga ‘Buah Dada’

Penjual dawet hitam di sebelah timur Jembatan Butuh, Purworejo
Netralnews/dok.istimewa
Penjual dawet hitam di sebelah timur Jembatan Butuh, Purworejo

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Orang Indonesia itu memang sangat unik dan kreatif. Dalam hal kuliner, ada saja cara untuk membuat makanan menjadi terkenal. Istilah bernada jorok pun digunakan.

Di bulan Ramadan hingga Idulfitri atau Lebaran, makanan-makanan itu ternyata selalu dincar oleh banyak pemudik. Ada juga yang sengaja disajikan untuk hidangan buka puasa bersama dan halalbihalal.

Dari sekian banyak makanan tradisional, ini 8 jenis kuliner dengan nama jorok tapi nikmat dan digandrungi masyarakat selama Ramadan dan Lebaran.

1. Kupat Jembut

Kuliner ini terkenal di daerah Jawa Tengah, khususnya Semarang. Setiap seminggu setelah Idulfitri tiba, di Kampung Jaten Cilik, Kecamatan Pedurungan, Semarang, selalu diadakan tradisi “Kupat Jembut”.

Jenis ketupat yang digunakan untuk acara tradisi tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ketupat pada umumnya hanya saja pada bagian tengah diisi dengan sayuran seperti taoge atau kecambah.

Ada yang berpendapat bahwa asal usul “Kupat Jembut” pertama kali terjadi pada masa-masa meletusnya rangkaian penembakan misterius (Petrus) sekitar tahun 1980-an.

Kupat dibagikan oleh setiap keluarga dan anak-anak akan saling berebut untuk mendapatkannya. Prosesi ini dilangsungkan dengan suasana gembira dalam mengungkapkan hari Lebaran dan untuk mempererat silaturahmi.

2. Kerupuk Upil

Jenis kuliner ini banyak beredar di daerah Cirebon, Jawa Barat. Namanya unik karena menggunakan istilah “kotoran di lubang hidung”. Bentuknya seperti kerupuk   biasa tapi imut laksana “upil”.

 

3. Kue Lumpur

Untuk kue jenis ini, dipastikan sudah diketahui oleh banyak orang. Kue lumpur yang cukup terkenal berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur.

Kue lumpur terbuat dari dari olahan santan, kentang, telur dan tepung terigu, dan ditaburi irisan kelapa muda atau kismis di bagian atasnya.

4. Nasi Kentut

Nasi Kentut adalah kuliner khas Medan, Sumatera Utara. Namanya jorok tapi rasannya nikmat sekali. Makanan ini biasanya disajikan dengan dibalut daun, kemudian dikukus dengan rempah dan lauk pauk seperti tempe, ikan pepes.

Mengapa dinamakan “kentut” karena daun yang digunakan untuk membungkus adalah daun sembukan atau nama lainnya adalah daun kentut.

Tetapi, aroma daun ini sebenarnya harum dan bukan busuk. Entah mengapa kemudian berubah menjadi laksana “kentut”.

5. Kontol Gejepit

Kuliner bernama jorok yang berikutnya bernama “Kontol Gejepit”. Ini adalah makanan khas dari Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Istilah itu lahir karena bentuk makanan ini menyerupai skortum pria yang terjepit. Padahal, makanan ini memiliki nama lain yakni adrem. Entah mengapa, sekarang lebih terkenal disebut “Kontol Gejepit” atau “Tolpit”.

Bahan dasar pembuatan makanan ini cukup sederhana yakni hanya tepung beras dan gula jawa kemudian digoreng. Rasanya legit apalagi disantap dalam kondisi masih hangat.

Walaupun bahannya sederhana, tetapi jenis makanan ini sudah terlanjur menjadi identitas kota Bantul. Para pemudik biasanya menjadikannya sebagai oleh-oleh khas Bantul.

6. Kue Tete

Makanan kecil yang mirip serabi ini terkenal sebagai makanan khas masyarakat Betawi di Jakarta. Karena bentuknya menyerupai “buah dada”, orang-orang kemudian memplesetkannya menjadi “kue tete”.

Kini, kue tete sudah menyebar tidak hanya disukai masyarakat Betawi. Di berbagai kota, terutama di pasar tradisional sudah banyak orang yang menjajakannya.

7.  Jembut Kecabut

Kuliner ini merupakan julukan minuman dawet hitam. Nama “Jembut Kecabut” sebenarnya merupakan singkatan dari “Jembatan Butuh, Kecamatan Butuh". Wilayah tersebut terletak di kota Purworejo, Jawa Tengah.

Rasanya sangat nikmat dan menyegarkan. Banyak orang menikmatinya sebagai santapan berbuka puasa. Saat Lebaran pun banyak dipesan untuk sajian bagi para pemudik.

8.  Mie Penthil

Kuliner ini juga berasal dari Bantul, Yogyakarta. Hanya saja, nama “penthil” sebenarnya bukan menunjuk organ buah dada. Nama itu sebenarnya menunjuk pada karet yang biasanya ada di roda sepeda.

Disebut seperti itu karena bentuk mie jenis kuliner ini berukuran mini menyerupai penthil sepeda. Untuk rasanya, jangan diragukan lagi. Dijamin makyoooss.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?