• News

  • Singkap Budaya

Zaman Milenium, Perempuan Melamar Lelaki Sudah Biasa dan Ada Contohnya

Ilustrasi lamaran dalam adat masyarakat Lamongan
foto: hipwee.com
Ilustrasi lamaran dalam adat masyarakat Lamongan

LAMONGAN, NETRALNEWS.COM - Apakah perempuan dilarang mengutarakan cinta kepada lelaki yang menjadi pujaan hati (bahasa gaul: nembak)? Lebih jauh lagi, apakah perempuan yang sudah berpacaran dilarang melamar pacarnya bila sudah siap menikah?

Umumnya, jawaban atas pertanyaan itu adalah “iya, dilarang”. Dasar dari larangan adalah soal adat dan tradisi yang secara tak tertulis mengatakan “wajarnya, kaum lelakilah yang boleh melamar kaum perempuan.”

Padahal, bila ditelaah, perempuan melamar lelaki bukanlah perbuatan yang bisa menimbulkan “dosa besar.” Artinya, kalaupun dilanggar biasanya menjadi bahan pergunjingan dari tetangga sekitar atau masyarakat adat di mana ia tinggal.

Apalagi, sekarang sudah zaman milenium di mana emansipasi kaum perempuan sangat dihargai. Hanya saja, soal lamar melamar masih didominasi kaum pria.

Namun, ada sejumlah daerah yang justru memberlakukan adat kebiasaan lamaran dilakukan kaum perempuan. Salah satunya adalah tradisi lamaran di Lamongan. Ini bisa menjadi bukti bahwa perempuan melamar lelaki bukanlah persoalan dosa atau tidak tetapi terkait etika adat.

Lamongan adalah satu kabupaten di Jawa Timur. Masyarakat di kota ini memang memiliki ritual adat lamaran di mana yang melamar adalah pihak perempuan. Itu adalah salah satu tradisi peninggalan leluhur yang dipertahankan hingga kini.

Dalam prosesi lamaran adat Llamongan, ada adegan percakapan apakah calon mempelai pria bersedia menerima calon mempelai putri. Bila bersedia, pembicaraan lamaran akan dilanjutkan dengan penentuan hari pernikahan dan kesepakatan-kesepakatan lainnya.

Pihak yang paling aktif dalam prosesi lamaran di Lamongan adalah orang tua di pihak calon mempelai perempuan. Bila orang tua kandung mempelai perempuan berhalangan (misalnya sudah meninggal), bisa digantikan oleh orang yang dituakan oleh keluarga tersebut.

Pihak yang dilamar atau keluarga calon mempelai lelaki, sudah siap menerima kedatangan tamu dengan aneka rupa sambutan. Dalam acara ini, pihak calon mempelai  pria juga diperkenankan menemui para tamu.

Saat lamaran dilaksanakan, pihak keluarga calon mempelai perempuan biasanya juga membawa berbagai macam buah tangan berupa aneka rupa makanan tradisional seperti gemblong, wingko, pisang, nasi lengkap dengan sayur dan lauk, lemet, dan rengginang.

Seiring perkembangan zaman, makanan yang dibawa banyak yang diubah dengan jenis makanan yang dianggap lebih modern misalnya kue bolu.

Bila ditelusuri asal usulnya, tradisi lamaran di Lamongan bisa jadi sudah ada sejak abad ke-17, tepatnya pada masa pemerintahan Raden Panji Puspokusumo. Ia adalah penguasa wilayah Lamongan selama tahun 1640 – 1665. 

Dalam silsilah raja Jawa, ia diyakini merupakan keturunan ke-14 dari raja Majapahit yakni Prabu Hayam Wuruk.

Raden Panji Puspokusumo disebut-sebut memiliki anak lelaki kembar yang sangat tampan. Mereka adalah Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris. Karena ketampanannya, banyak putri bangsawan yang tergila-gila kepadanya.

Suatu ketika, kedua pangeran tampan itu sedang menyalurkan hobi mereka yakni bermain sabung ayam.

Mereka pergi ke daerah Wirosobo (sekarang menjadi Kertosono, Nganjuk) untuk bertanding sabung ayam. Kedatangan mereka dilihat oleh perempuan kembar yang bernama Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi, putri penguasa Wirosobo.

Terpikat oleh ketampanan Panji Laras-Panji Liris, kedua perempuan itu langsung jatuh cinta. Tak hanya itu, kedua perempuan tersebut juga meminta orang tuanya untuk melamar Panji Laras dan Raden Panji Liris.

Walaupun pihak perempuan melamar lelaki adalah hal yang tidak sewajarnya, namun karena dorongan kedua putri begitu kuat, orang tuanya tak mampu menolaknya. Lamaran pun dilaksanakan.

Sejak itu, masyarakat sekitar kemudian tidak menabukan lamaran dilakukan pihak perempuan. Di kemudian hari, cara itu bahkan menjadi tradisi yang terus dipertahankan.

Hanya saja, cerita tentang Panji Laras dan Panji Liris sebenarnya ada berbagai versi. Ada yang menyebutkan bahwa lamaran itu gagal dilaksanakan karena Panji Laras dan Panji Liris tanpa sengaja mengetahui bahwa badan Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi berbulu lebat laksana kaki kuda.

Akibat kegagalan itu, timbulah peperangan antara kedua pihak. Konon Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi kemudian memilih lebih baik mati dari pada tidak mendapatkan seorang suami karena malu. Andansari mati dalam peperangan dan Andanwangi mati karena bunuh diri.

Sementara arti dari pertempuran itu konon melambangkan adanya perubahan zaman di mana era peradaban Hindu-Budha di Jawa telah tergeser oleh zaman baru yakni peradaban Islam.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?