• News

  • Singkap Budaya

Rahasia Sukses Etnis Tionghoa: Jadilah Burung Phoenix Dalam Badai

Ilustrasi burung phoenix
Netralnews/Dok.Istimewa
Ilustrasi burung phoenix

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Apakah anda pernah mendengar istilah "baik kucing hitam atau putih, semuanya sama baiknya asal bisa mencari makan"? Arti dari ungkapan itu adalah “mau orang dari ras, agama, dan suku manapun asal mau bekerja dengan baik pasti bisa mencari nafkah untuk hidupnya.

Peribahasa tersebut ditulis oleh mantan Presiden Tiongkok Deng Xiao Ping. Secara lebih dalam dan lebih khusus, peribahasa itu ditujukan bagi orang Tionghoa di manapun berada.

Etnis Tionghoa artinya keturunan Tiongkok. Mereka tersebar ke berbagai belahan dunia baik Asia, Amerika, maupun Eropa.

Penulis, selaku keturunan orang Tiongkok, sangat memuji dan mengacungi jempol terhadap semangat dan prinsip tersebut.

Bila dijabarkan lebih jauh, ada beberapa prinsip hidup yang terkandung dalam peribahasa itu dan menjadi kepribadian kalangan etnis Tionghoa agar mampu sukses di manapun berada. Ini adalah 6 prinsip utama yang penulis simpulkan:

1. Hidup adalah kerja keras

Jika ingin lebih berhasil dari orang lain, kita tidak punya pilihan, kecuali bekerja dengan “lebih keras dan rajin.”

Ini adalah pepatah Ann Wan yang mengajarkan bahwa siapapun yang ingin sukses dalam hidupnya harus kerja keras dan rajin melebihi orang lain.

2. Makan bubur sebelum sukses

Jadi, saat belum sukses, ada baiknya kita mengerem segala keinginan walaupun itu tidak mengenakkan.

Setelah sukses bisa diraih, barulah bisa menikmati apa yang diinginkan. Kesuksesan bisa dirasakan ketika apa yang diinginkan sudah tidak lagi harus diraih dengan bersusah-susah.

3. Bersikap ekonomis

Ini adalah pepatah Confucius. Hidup hemat begitu ditekankan oleh kebanyakan etnis Tionghoa.

Kebanyakan etnis Tionghoa lebih memilih berbelanja dengan uang cash dibanding dengan menggunakan kartu kredit atau dengan model pembayaran cicilan. Bila uang belum cukup, mereka lebih memilih menunda pembelian.

4. Jadikan pelanggan sebagai raja

Mengapa orang Tionghoa bisa sukses? Mereka memperlakukan pelanggan sebagai “raja”. Ini adalah salah satu prinsip yang diajarkan Ann Wan Seng.

5.  Harus bisa tersenyum

Orang Tionghoa yang ingin menjadi pedagang harus bisa tersenyum. Dengan prinsip ini, orang Tionghoa bisa berdagang dengan baik.

Menjadi pedagang harus bisa bersikap ramah pada pelanggan agar toko menjadi nyaman sehingga dagangan laris-manis. Kesuksesan sebuah usaha bukan hanya karena harganya yang murah tetapi juga ditentukan dari pelayanan yang diberikan.

6.  Jadilah burung Phoenix

Orang Tionghoa perantauan memiliki pengetahuan budaya tanah leluhurnya. Mereka turut menebarkan budaya asli mereka.

Manukil artikel “Hakikat Makna Burung Phoenix dalam Tradisi Cina” dalam nationalgeographic.grid.id, phoenix (feng huang) bagi masyarakat Cina merupakan salah satu dari empat mahluk supranatural (si ling) bersama naga (long), kilin (qilin), dan kura-kura (gui).

Secara etimologi beberapa penjelasan mengenai feng huang cukup beragam. Misalnya, “feng” bermakna phoenix jantan dan “huang” adalah phoenix betina sehingga feng huang merupakan simbol persatuan antara jantan-betina, laki-laki dan perempuan.

Ada pendapat legenda yang menyebutkan feng huang mengindikasikan bahwa feng adalah kata ‘angin’ sehingga pada masa legenda phoenix dikenal sebagai dewanya angin. Phoenix juga diasosiasikan dengan arah Utara.

Burung phoenix dalam legenda Rajawali Utara, dikisahkan hampir tewas kelaparan dan kedinginan karena badai yang melanda Gunung Baiyun, sehingga burung tersebut jatuh di rerumputan yang sudah membeku karena badai dan salju.

Namun dengan kegigihannya dia mencoba mengepakkan sayapnya hingga api yang menjadi ciri khasnya memancar kembali, dia bisa terbang tinggi lagi menerobos badai.

Demikian juga dengan orang Tionghoa. Saat orang Tionghoa berpetualang di mancanegara, karakter pada umumnya menjadi progresif di luar keluarga, namun konservatif di dalam.

Dengan kata lain, orang Tionghoa sangat menghargai ilmu pengetahuan terbaru dan tren-tren kultural terbaru yang merupakan bentuk kesempatan-kesempatan baru. Di samping itu, mereka sangat sayang dengan keluarga mereka.

Karakter “tahan banting” alias bermental baja dengan rasa iri yang minimal juga merupakan salah satu kunci sukses mereka.

Berbagai masalah dihadapi dengan kepala dingin, bukan dengan rasa iri dan dengki karena dua hal ini tidak bisa memecahkan masalah bahkan memperkeruh. Sinergi seringkali dilakukan dengan partnership bisnis sebagai salah satu bentuk pemecahan masalah.

Mereka juga menggunakan kekalahan sebagai momentum untuk menukik ke atas dengan mengadopsikan hal-hal dan strategi-strategi baru.

Agresifitas disertai dengan realitas dan keberanian memulai dan follow through (meng-eksekusi-kan) membantu revitalitasi pasca-kegagalan. Itulah yang penulis sebut "orang Tionghoa adalah burung phoenix dalam badai"

 

Penulis : Ronald Wang, Bop

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?