• News

  • Singkap Budaya

Festival Hantu Kelaparan Digelar, Berebut Opium hingga Perkelahian

Festival Cioko di Surabaya tahun 1890
foto: pinterest
Festival Cioko di Surabaya tahun 1890

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Bagi etnis Tionghoa, “Festival Hantu Kelaparan” atau Festival Cioko bukanlah tradisi asing. Festival ini juga sering disebut Festival Tionggoan. Sementara suku Hakka menamakannya Chiong Si Ku. Ritual ini sering dikaitkan dengan hari raya Taoisme Zhongyuan dan Buddhisme Ulambana. 

Perayaan biasanya digelar pada tanggal 15 bulan ke-7 menurut penanggalan Tionghoa. Bulan ke-7 Imlek juga dikenal sebagai Bulan Hantu (Chinese ghost month).

Orang Tionghoa meyakini pada kurun waktu satu bulan itu, pintu alam baka terbuka dan hantu-hantu di dalamnya dapat bersuka ria berpesiar ke alam manusia. Orang-orang kemudian bersembahyang untuk menghormati para leluhiur mereka.

Dalam ajaran Buddhisme, hantu-hantu kelaparan (makhluk preta) perlu dijamu pada saat mereka hadir ke dunia umat manusia. Namun hakikat dari tradisi ini adalah ritual untuk menghormati leluhur. Sementara perjamuan ditujukan bagi fakir miskin.

Tradisi ini dahulu digelar di masa Jakarta tempo dulu dengan sangat unik. Tio Tek Hong pernah mencatatnya dalam buku Keadaan Jakarta Tempo Doeloe: Sebuah Kenangan 1882-1959 (1995: 88-89).

Dikisahkan bahwa pada masa itu, Cioko (Tio Tek Hong menulisnya Chioko) merupakan salah satu keramaian tahunan dengan istilah “rebutan panggung” yakni sembahyang bagi roh orang telah meninggal dan orang-orang miskin yang tidak disembahyangi oleh keluargannya.

Saat acara digelar, masyarakat Tionghoa memberi sumbangan macam-macam mulai dari uang, beras, aneka makanan, yang ditancapi bendera-bendera model Tionghoa yang berwarna warni.

Acara di antaranya digelar di daerah Pasar Baru. Barang-barang sumbangan ditempatkan di atas panggung di belakang bioskop tempo dulu yang bernama “Bioscope Globe”.  Ketika daerah itu diubah menjadi pasar, acara kemudian dipindah di belakang Bio (rumah topekong) di Gunung Sahari.

Acara dihadiri oleh ribuan orang yang siap ikut memperebutkan barang-barang sumbangan. Yang mereka incar bukan saja beras, nasi, kue, melainkan juga boneka-boneka terigu berbentuk wayang Tionghoa seperti Koa Kong, Sie Djin Koei, Tek Tjheng, dan sebagainya. Boneka-boneka itu disebut kothay.

Saking serunya rebutan, tak jarang melahirkan perkelahian karena memperebutkan kothay. Kala itu, kothay bisa dijual karena disukai anak-anak sehingga orang berlomba mendapatkan yang terbanyak dan ditukar dengan sejumlah duit yang lumayan.

Selain barang-barang itu, ternyata juga ada opium yang ikut disumbangkan di panggung dan tentu saja diincar banyak orang. Opium di masa Kolonial Belanda memang pernah beredar bebas. Dahulu, salah satu jenis narkoba itu mendatangkan banyak keuntungan bagi Kolonial Belanda.

Sementara mereka yang berebut dalam Festival Cioko kebanyakan adalah warga miskin di Batavia, termasuk “jago-jago” ikut berebut, tulis Tio Tek Hong. Mungkin yang dimaksud “jago-jago” oleh Tio Tek Hong adalah kaum preman dalam istilah sekarang.

Tio Tek Hong juga mengisahkan tradisi rutin selain Cioko yakni pesta Tiongchiu (pertengahan musim rontok) pada tanggal 15 bulan Tionghoa ke-8 (Pegwe Capgou). Di kelenteng Gunung Sahari diadakan sembahnyang untuk merayakan hari itu.

Makanan-makanan lezat disediakan bagi pemuda-pemudi yang mengikuti acara dengan sopan sambil bersuka-suka. Dahulu, jenis makanan yang paling disukai para pemuda adalah mokokyong (kambing tidak bertanduk). Hidangan itu menjadi semacam santapan luar biasa.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?