• News

  • Singkap Budaya

Ketika ‘Sang Naga’ Masih Gagah Perkasa Mengarungi Perairan Jakarta

Perayaan Peh Tjoen di Batavia
Netralnews/Dok.Istimewa
Perayaan Peh Tjoen di Batavia

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ini adalah catatan kisah tentang tradisi luhur etnis Tionghoa di Jakarta tempo dulu ketika masih bernama Batavia. Namanya Peh Cun (ejaan lama: Peh Tjoen) atau biasa juga ditulis Pecun.

Perayaan ini identik dengan festival air di mana biasanya diadakan lomba perahu perahu naga. Tradisi ini adalah salah satu peninggalan pesta naga di zaman antik untuk memperingati pengorbanan Qu Yuan di Tiongkok.

Pesta diselenggarakan pada hari kelima bulan kelima (duanwu). Namun, perayaan yang diselenggarakan di Nusantara, khususnya di Jakarta tempo dulu, memeiliki sejumlah perbedaan bila dibandingkan dengan perayaan Pecun di Tiongkok.

Di Tiongkok sekitar abad ke-18, perayaan itu sering disebut Pe'lo. Istilah itu ada hubungannya dengan nama S Milua, tempat Qu Yuan tenggelam.

Di kemudian hari, kisah itu mengalami banyak perubahan ketika tersebar ke arah selatan. Sang pahlawan yang bunuh dan diperingati itu dianggap sebagai penemu garam.

Sebagian orang Tionghoa lainnya menganggap perayaan Pecun diselenggarakan untuk memperingati Lopia, penemu garam dari air laut yang tanpa sengaja memasukkan beberapa butir ke dalam makanan raja.

Ia khawatir akan dihukum sehingga melarikan diri. Anak buah Mentri Empeh Tjoen mengejarnya dengan menggunakan perahu-perahu naga. Ia pun berhasil lolos dari sergapan.

Di Batavia, Pecun pernah dirayakan dengan meriah di sejumlah wilayah perairan seperti di Pasar Baru, Kali Besar, Kali Pasir, Pasar Ikan, dan Kali Angke (Jilakkeng).

Sayang sekali, di masa-masa selanjutnya, pesta ini jarang diselenggarakan lagi. Apalagi di era Orde Baru di mana budaya Tionghoa terpaksa harus “tiarap” akibat banyaknya kebijakan diskriminatif.

Penyebab lainnya juga karena sungai-sungai mengalami pendangkalan. Pesta Pecun kemudian sempat bergeser ke Tangerang yakni di sungai Cisadane. Pesta digelar hingga sekitar tahun 1965. Sesudah itu, perayaan Pecun dihentikan. Tahun 1980, di Tangerang sempat muncul kembali.

Mengenai kisah bagaimana perayaan Pecun di Batavia, dapat diketahui jejaknya dari catatan Tio Tek Hong  dalam buku Keadaan Jakarta Tempo Doeloe: Sebuah Kenangan 1882-1959 (1995: 99-100).

Menurut Tio Tek Hong, Pecun di Batavia biasanya digelar pada tanggal 5 bulan Tionghoa ke-5 (Gougwe Chegou). Tio Tek Hong memiliki kenangan perayaan Pecun yang diselenggarakan di Kali Angke. Kala itu ia menonton dari rumah Mayor Nie Hok Tjoan.

Perahu naga sering berlomba memperebutkan pio yakni sebatang bambu yang masih berdaun dan diikatkan sapu tangan, kain cita, madat, dan sebagainya.

Pecun di Batavia pada mulanya dirayakan oleh orang-orang Tionghoa suku Kongfu, baru kemudian diikuti oleh Tionghoa lainnya, termasuk Tionghoa peranakan.

Pecun di Tangerang diselenggarakan oleh etnis Tionghoa Tangerang (Cina Benteng). Sementara di Jakarta ada beberapa tempat di antaranya di Kali Pasir, Kali Besar, Angke.  Setiap dirayakan selalu ramai dengan penonton.

Lomba biasaya diikuti oleh perahu-perahu naga yang ukurannya kecil. Sedang perahu naga berukuran besar diisi oleh Tionghoa yang plesiran dan ingin menyaksikan pesta sambil minum dan menikmati hidangan yang disajikan di perahu besar.

Saat pesta berlangsung, selalu dimeriahkan dengan pertunjukkan musik gambang kromong, tanjidor, dan keroncong Betawi.  Dalam pesta biasanya juga ada prosesi mengumpulkan derma untuk disumbangkan kepada kaum miskin.

Tio Tek Hong  juga mengisahkan di masa itu beradar mitos bahawa saat pesta Pecun digelar, orang yang ikut mandi di kali, konon akan mendapat berkah, murah rejeki, panjang umur, dan enteng jodoh.

Di Batavia Kota, orang-orang mandi di Jembatan Dua, di Weltevreden, Kali Pasir, Jatinegara yakni di Kali Parung belakang jalan pasar.

Sementara di Bogor, saat perayaan Pecun, banyak orang berplesiran. Di Bogor tidak ada pesta perahu naga. Orang Tionghoa hanya plesiran menyusuri kali Ciliwung di Bondongan, Katulampa, Kota Baru sampai di Gadog, Bogor Selatan.

 

Editor : Taat Ujianto