• News

  • Singkap Budaya

Bukan Karena Ditonton Ibu Mertua, Ini Penyebab Pengantin Tak Nikmati Malam Pertama

Ilustrasi ranjang pengantin untuk menikmati malam pertama
foto: youtube
Ilustrasi ranjang pengantin untuk menikmati malam pertama

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Setiap orang akan membayangkan peristiwa malam pertama bagi pengantin baru sebagai pengalaman penting dan dinantikan. Pasalnya, usai pernikahan dinyatakan sah, sepasang pengantin itu bisa berhubungan intim sebagai suami dan istri untuk pertama kalinya.

Faktanya, tidak semua pengantin baru bisa otomatis menikmati malam pertama. Ada banyak penyebabnya mulai dari faktor kelelahan akibat harus menjalani ritual adat, menunda saat yang lebih romantis berdua, ingin menikmati saat bulan madu, dan sebagainya.

Menelusuri faktor-faktor penyebab pengantin baru tidak bisa menikmati malam pertama, setidaknya ada enam penyembab. Berikut adalah keenam faktor tersebut.

Pertama adalah faktor terlalu capek. Banyak sekali yang harus dipersiapkan demi terselenggaranya pesta pernikahan yang meriah dan sempurna. Tak jarang hal itu membuat energi sepasang calon pengantin kelelahan. Akibatnya, saat malam pertama memilih tidur ketimbang bercinta.

Kedua adalah  bersamaan dengan masa "datang bulan" atau menstruasi yang dialami pengantin perempuan. Ini otomatis membuat pengantin baru tidak tidak bisa melakukan hubungan intim di malam pertama.

Ketiga adalah akibat kecewa dengan pesta pernikahan yang diselenggarakan. Salah satu calon pengantin atau bahkan keduannya merasa sangat kecewa dan tidak puas dengan pesta yang diselenggarakan, dapat mengakibatkan munculnya bad mood.

Keempat adalah karena memang sengaja menunda hubungan intim di malam pertama untuk dialihkan pada acara bulan madu di suatu tempat spesial dan waktu tertentu. Biasanya, hal itu sudah dipersiapkan dan telah menjadi kesepakatan pengantin baru tersebut.

Kelima adalah karena banyak anggota keluarga yang berdatangan dan mengajak ngobrol hingga dini hari. Apalagi bagi pengantin perantauan yang didatangi sanak saudara dari daerah.

Tak sopan bila meninggalkan tamu yang ingin mengobrol dengannya. Akibatnya, ia harus mengikhlaskan menunda menikmati malam pertama.

Faktor keenam adalah karena faktor adat-istiadat yang menerapkan adat dan tradisi tertentu yang panjang, melelahkan, bahkan ada juga yang mengakibatkan malam pertama tidak bisa dinikmati secara sempurna.

Tradisi perkawinan adat berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. Ada satu tradisi “ekstrim” yang berlaku di salah satu suku di Cali, Colombia. Saat malam pertama, ibu mertua wajib menonton atau menyaksikan malam pertama anak dan mantunya. 

Bisa dibayangkan bila hal itu diberlakukan pada Anda. Bagaimana perasaan Anda? Mampukah Anda menikmati malam pertama dengan cara seperti itu?

Sedikit berbeda dengan suku di Cali, Colombia, sejumlah suku di Indonesia juga memiliki adat yang menyebabkan malam pertama tidak bisa dinikmati pengantin baru. Salah satu contohnya adalah suku Batak.

Suku Batak yang masih memberlakukan tradisi leluhur dengan ketat, bisa membuat pengantin baru tak bisa menikmati malam pertama. Mengapa bisa begitu? Begini gambaran ringkasnya.

Di Batak, ada pesta yang namanya Naposo (pesta muda-mudi). Pesta ini diselenggarakan pada malam pertama pengantin baru dan ditujukan bagi teman-teman dekat pengantin. Kadang pesta digelar dari sore hingga dini hari. Adat ini dahulu masih sering dilakukan.

Pesta itu otomatis membuat sepasang pengantin kelelahan dan memilih istirahat daripada harus memaksakan diri dengan melakukan hubungan intim. Selain badan tidak fit, bisa mengakibatkan hubungan intim yang tidak nikmat dan sempurna.

Menurut Prof Dr Bungaran Simanjuntak dalam Sistem Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945 (2006),  pesta Naposo merupakan perayaan initiate (peralihan status), terutama bagi pengantin wanita.

Usai pesta tersebut, pengantin wanita tidak lagi disebut sebagai pemudi. Ia tidak bisa bergaul b=dengan bebas layaknya muda-mudi lainnya. Ia telah menjadi seorang istri dari suaminya. Selanjutnya ia akan menjadi ibu atau orang tua bagi anak-anak yang akan dilahirkan.

Sebagai simbol peralihan itu, dahulu ada prosesi dimana para gadis menangis saat pesta tengah berlangsung.

Lalu bagaimana dengan pengantin pria Batak? Saat pesta Naposo berlangsung, pengantin pria harus memberi jambar naposo (bagian muda-mudi) kepada setiap pemuda yang hadir dalam pesta. Jambarini bisa berupa uang atau benda tertentu.

Ternyata, ada juga kearifan tersembunyi di balik pesta Naposo. Leluhur Batak ternyata membuat pesta itu sekaligus sebagai media para pemuda dan pemudi yang belum menikah agar saling mengenal sehingga bisa segera menyusul menikah seperti pengantin baru.

Dengan kearifan tersebut, pemuda dan pemudi yang berpacaran atau belum memiliki pacar bisa memperoleh jawaban atas hari esok yang harus mereka putuskan. Yang sudah memiliki pacar diharapkan berani segera menikah dan yang belum punya pacar agar menemukan calon jodohnya.

Di satu sisi, pesta Naposo membuat pengantin baru tidak bisa menikmati malam pertama. Di sisi lain, tradisi ini bisa menjadi solusi pria dan perempuan yang masih lajang agar segera membangun bahtera rumah tangga.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?