• News

  • Singkap Budaya

Tak Disangka, Silat Ada Kaitannya dengan Bajak Laut hingga Spiritual Islam

Seni angklung dan pencak silat di Priangan tempo dulu
Netralnews/dok.istimewa
Seni angklung dan pencak silat di Priangan tempo dulu

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kisah tentang asal-usul beladiri di Nusantara memang memiliki banyak versi dan variasi. Lebih-lebih karena Indonesia ditempati oleh lebih dari tujuh ratus suku bangsa dengan masing-masing ragam kebudayaannya, maka sudah tentu ada banyak macam sejarah seni bela diri.

Sekalipun demikian, khususnya silat terdapat versi yang ditulis oleh sejumlah peneliti asing, dan itu, dengan segala hormat atas epos rakyat yang belum banyak diteliti, adalah yang mungkin paling mendekati kebenaran.

Dalam hal ini mereka memperkirakan bahwa silat lahir di wilayah sekitar Riau. Kurun waktunya pun juga baru bisa ditaksir sekitar abad ke-6 Masehi.

Dalam kacamata peneliti Don Draeger perkiraan di muka didasarkan atas keberadaan sejumlah artefak yang menampilkan gambar-gambar tentang orang-orang yang menunggang binatang sambil membawa senjata; fragmen cetakan tanah liat untuk pembuatan mata ujung tombak; menunggang binatang sambil membawa senjata; fragmen cetakan tanah liat untuk membuat ujung tombak; dan artefak senjata pada periode abad ke-6 di perairan kepulauan Riau.

Artefak-artefak itu merepresentasikan tentang budaya mempertahankan hidup (survival) dan berlaga, yang dengan demikian juga mengandaikan ruang lahirnya ilmu beladiri silat atau pencak silat.

Senjata dan seni beladiri silat adalah yang tak terpisahkan, bukan hanya dalam olah tubuh saja, melainkan juga pada hubungan spiritual yang terkait erat dengan kebudayaan Indonesia.

Lebih-lebih dari catatan sejarah Fa Hsien yang berkunjung ke Sriwijaya pada abad ke-6 menjelaskan tentang ganasnya para bajak laut perairan Riau. Karenanya, makin jelas kemudian bahwa silat berkembang sebagai upaya berlawan terhadap serangan bajak laut.

Sementara, dari sudut pandang persebaran suku-suku di wilayah Sumatera peneliti Margaret Kartomi dalam studinya tentang suku Mamak, Jambi, menyatakan  bahwa kemunculan silat bisa diperkirakan lebih tua lagi.

Ini mengingat gerak perpindahan suku bangsa nomadik di pedalaman yang kemudian berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain di wilayah Asia Tenggara. Lebih jauh lagi, wilayah pantai Barat Sumatera sudah berinteraksi dengan bangsa India, dan Arab terkait dengan perdagangan rempah-rempah di Barus pada masa awal Masehi. 

Selain itu, terdapat juga legenda maupun cerita rakyat yang mengisahkan perihal asal-usul silat, seperti misalnya, pada legenda Minangkabau yang bercerita bahwa silat diciptakan oleh Datuk Suri Diraja dari Pariangan pada abad ke-11.

Kemudian silat dibawa dan dikembangkan oleh para perantau Minang ke seluruh Asia Tenggara. Begitu juga dengan cerita rakyat mengenai asal mula silat aliran Cimande. Dikisahkan bahwa silat bersumber dari seorang perempuan yang mencontoh gerakan pertarungan antara harimau dan monyet.

Ia menambahkan bahwa tanda-tanda arkeologis selanjutnya adalah beberapa prasasti yang berkisah tentang sejumlah ekspedisi militer. Prasasti Kotakapur pada tahun 686 menyebutkan perihal Sri Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum "Bhumi Jawa" yang tidak berbakti (tidak mau tunduk) kepada Sriwijaya.

Kemudian prasasti Po Nagar (Kamboja) bertahun 774 menyebutkan tentang serangan pasukan Jawa (baca: Sriwijaya) pada kota-kota pesisir kerajaan Campa.

Catatan prasasti ini di lain pihak juga mengandaikan penggunaan ilmu beladiri sebagai metode penaklukkan. Karenanya, menjadi logis kemudian jika pada abad ke 8 tergambar relief-relief di Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang menggambarkan tentang orang-orang yang membawa pedang, tombak, panah dan anak panah, tongkat atau gada, tameng, pisau, dan lain-lain.

Selain itu terdapat juga pahatan bentuk senjata lain yang tidak umum, yaitu trisula. Namun yang menarik terdapat juga relief orang bergulat, dan beradu fisik. Semua tanda ini semakin memperkuat dugaan bahwa ilmu silat sudah mengalami perkembangan.

Relief-relief tak nampak kemudian di periode jelang berdirinya kerajaan Majapahit. Tetapi temuan pedang-pedang bangsa Mongol di lepas pantai Tuban, perairan Laut Utara Jawa membenarkan sejarah tentang adanya pertempuran antara pasukan Raden Wijaya dengan pasukan Mongol di abad ke-13.

Tentunya pertempuran ini dengan melibatkan pertarungan ketangkasan bersilat di antara kedua belah pihak. Selanjutnya, dengan kebangkitan Majapahit berkembang pula lah ilmu bela diri yang lebih maju, yang dikhususkan dipelajari hanya untuk kaum bangsawan pada masa itu.

Runtuhnya kerajaan Majapahit dan bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam membawa babak baru dalam perkembangan ilmu silat. Jika sebelumnya silat hanya dipelajari oleh bangsawan dan kerabat-kerabatnya, maka dalam periode sesudahnya ilmu silat mulai dipelajari oleh masyarakat umum.

Dalam periode abad ke 14 ini pencak ilat diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau atau pesantren. Silat menjadi bagian dari latihan olah-tubuh dan olah-spiritual.

Pada periode kolonialisme, pencak silat kemudian berkembang meluas dari sarana penyebarluasan ilmu agama menjadi bagian dari pendidikan untuk menghadapi penjajahan asing.

Dalam sejarah perjuangan melawan penjajah, tercatat para pahlawan Indonesia yang diketahui menguasai seni bela diri, seperti Panembahan Senopati, Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Teuku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Imam Bonjol, serta para pendekar perempuan seperti Sabai Nan Aluih, Cut Nyak Dhien, dan Cut Nyak Meutia.

Selanjutnya, oleh karena penindasan kolonialisme, muncul semacam pendekar-pendekar Robin Hood. Hadirnya tokoh-tokoh seperti Entong Gendut dari Condet, Entong Tolo dari Bekasi, Pitung dari Rawa Belong, maupun Rancak dari kota Padang semuanya adalah para pendekar silat anti kolonialisme.

Tak mengherankan jika di masa kolonialisme pengajaran silat diawasi dengan ketat karena dianggap berbahaya. Aparat intelijen kolonial sangat memperhatikan siapa saja yang memiliki kemampuan silat dan mengajarkan silat kepada masyarakat.

Biasanya para tokoh silat dianggap membahayakan dan dijebloskan ke penjara. Ini sangat berpengaruh pada pola pengajaran pencak silat, sehingga pengajaran silat beladiri mulai sembunyi-sembunyi dan biasanya diajarkan dalam kelompok kecil dari rumah ke rumah pada malam hari.

Karenanya, terutama di Jawa Barat, mulailah dikembangkan silat seni dan ibingan, guna menutupi kesan silat sebagai beladiri. Atraksi ibingan silat ini sangat terkenal dan populer di tengah masyarakat.

Orang bisa melihat atraksi silat di upacara perkawinan atau khitanan bahkan pasar malam tanpa diganggu oleh pihak keamanan pada saat itu karena dianggap sebagai hiburan.

Di awal abad ke 20, seiring dengan terbangunnya kesadaran nasionalisme, menyusul berdirinya  Syarikat Islam di daerah Jawa, perkumpulan silat Persaudaraan Setya Hati dibentuk oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo.

Perguruan ini mendapatkan pengawasan yang ketat oleh Belanda, oleh sebab memiliki pengikut dan murid yang banyak sekali. Ki Ngabehi Surodiwiryo ini melatih para murid MULO yang pada akhirnya banyak yang menjadi tokoh nasionalis.

Termasuk juga proklamator kemerdekaan Indonesia, Sukarno, yang tercatat pernah belajar silat kepada Uwa Nampon di Bandung.

Setelah kemerdekaan, dengan menyadari arti penting silat sebagai bagian dari perjuangan dan nasionalisme maka pada tahun 1948 dibentuklah Ikatan Pencak Silat Indonesia.

Hal ini menandakan upaya pengembangan silat sebagai bahan pengajaran dan diujicobakan pada sekolah-sekolah di wilayah Solo dengan dukungan Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Balai Kota Surakarta.

Hasil dari usaha standarisasi awal pencak silat ini dipertunjukkan oleh kurang lebih 1.000 pesilat anak-anak dalam demonstrasi senam pencak silat massal pada Pembukaan PON I tanggal 8-12 September 1948 di Solo.

Sejarah silat bergerak maju ketika pada tahun 1980 dibentuk Persatuan Pencak Silat Antar Bangsa, yang dihadiri delegasi dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Dari sana upaya-upaya untuk mempopulerkan silat ke ranah internasional semakin meluas hingga saat ini.

 

Penulis: Anom Astika

Peneliti Kebudayaan Nasional Indonesia tinggal di Jakarta

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?