• News

  • Singkap Budaya

Jurus Tarian Silat: Membangkitkan Roh Raja Hutan, Seni Perang, hingga Menarik Roh Leluhur

Silat Minangkabau tempo dulu, pesilat di sebelah kiri memegang senjata tradisional kerambit
foto: tropenmuseum
Silat Minangkabau tempo dulu, pesilat di sebelah kiri memegang senjata tradisional kerambit

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pencak Silat adalah seni tradisi yang telah lama berkembang di Indonesia, dan kini menjadi salah satu bentuk seni bela-diri yang kian mendunia. Ini karena Pencak silat memiliki banyak nilai akan kehidupan terkait dengan pembinaan jiwa dan raga.

Karenanya, masyarakat internasional bisa terbuka menerimanya. Pada dasarnya pencak silat memiliki dua peran yang saling berhubungan erat, yaitu sebagai salah satu jenis seni dan cabang olah raga.

Sebagai cabang olahraga, pencak silat memiliki dua unsur lain, yaitu beladiri dan seni tari. Ini terlihat dalam naskah Pencak Silat Daerah Bali (1985) yang menyatakan bahwa Pencak Silat dalam perwujudannya mencerminkan berbagai aspek, yaitu sebagai cabang olah raga, sebagai seni beladiri, atau pun sebagai seni tari.

Seorang ahli tari dari Surakarta, Maridi, menyatakan bahwa peperangan dalam tari tradisional Jawa sebenarnya merupakan stilisasi dari pencak silat. Gerakan-gerakan penak silat tampak jelas dalam gerakan tusukan, gerakan menghindar, tangkisan, pukulan dan tendangan.

Dengan kata lain, Peperangan dalam tari-tarian keprajuritan sangat erat hubungan dengan seni bela diri pencak silat, namun bisa dipahami juga sebagai versi yang ditarikan.

Karenanya, pencak silat dan tari mempunyai dua ciri dasar yang sama. Pertama, keduanya memiliki aspek olah tubuh yang kuat. Dalam hal ini baik pencak silat maupun tari mengembangkan olah tubuh semacam kelenturan, kecepatan, keseimbangan, kelincahan, dan kekuatan.

Kedua, baik tari maupun pencak silat dibentuk atau diwarnai oleh kebudayaan yang melingkupinya. Kesamaan ini terlihat dari orientasi sumber ilham dari tari dan pencak silat, dalam arti lingkungan alam yang melingkupi penciptaan silat dan tari.

Jurus-jurus dalam pencak silat maupun gerakan-gerakan dalam seni tari seringkali menirukan fenomena alam seperti gerakan binatang dan tetumbuhan, ataupun peristiwa-peristiwa alam seperti angin, api, dan sebagainya.

Satu pembeda antara silat dan tari adalah bahwa silat ditujukan untuk membela diri dan mengalahkan lawan, sementara tari ditujukan untuk mengekspresikan seni dan keindahan.

Namun dalam kenyataan Indonesia, pembeda tersebut kerap kabur, mengingat keduanya kerap tampil sebagai mata pertunjukan penghias ritual-ritual tradisi.

Ambil contoh Tarian Randai dari Minangkabau. Randai tercipta dan dimainkan oleh anak-anak muda di sebuah perguruan silat. Pada mulanya, anak laki-laki di Minangkabau harus mampu membela diri dengan mempelajari ilmu beladiri yang disebut silat.

Gerak-gerak silat, yang disebut juga pancak atau pencak, bila dilakukan pengulangan terasa cukup ritmis dan dinamis, sehingga kalau distilisasi akan nampak lebih indah, bahkan menyerupai sebuah tari.

Lalu gerak-gerak tersebut dilakukan secara melingkar, yang terkadang membentuk rantai pertanda kekompakan.

Semua pemain mengenakan celana latihan silat yang disebut galembong, sehingga ketika celana galembong tersebut ditepuk secara serentak akan menimbulkan bunyi yang khas, bagaikan deburan ombak di pantai.

Bentuk khas Randai, adalah bentuk Legaran. Sebuah gerakan membentuk lingkaran di antara para penari Randai. Legaran tersebut kemudian diisi dengan dendang gurindam yang diikuti oleh musik; saluang, talempong, pupuik batang padi, dan gendang.

Oleh pangkatuo (pelatih silat), legaran tersebut diisi dengan kaba (cerita rakyat) yang sudah ada sebelumnya. Umumnya cerita rakyat yang dimainkan ialah cerita-cerita menarik yang menyampaikan pesan “andaian” atau “perumpamaan”, sehingga masyarakat peminatnya menyebutnya sebagai sebuah pertunjukan barandai, berandai, beramsal.

Hampir semua gerak dalam pertunjukan randai berasal dari bunga-bunga silat. Baik dalam galombang (legaran) yang berfungsi sebagai pengganti adegan, babakan yang diikuti dengan dendang gurindam sebagai pengantar cerita berikutnya maupun dalam dialog atau akting.

Seperti juga bentuk kesenian lainnya, yang berawal dari kiasan, perumpamaan yang kemudian diejawantahkan dalam bentuk musik, tari-tarian, dendang saluang, gurindam, dan lain sebagainya.

Di Surakarta, jurus-jurus pencak silat dalam tari-tarian tradisional dapat dilihat jelas dalam jenis tari Bogisan. Dalam hal ini adalah tari Handogo Bogis, Bogis Kembar, dan Projo Leno.

Tari-tarian tersebut bertemakan keprajuritan dan kepahlawanan. Bahkan beberapa tari-tarian dalam tradisi Mangkunegaran banyak yang menggunakan tema perang. Salah satunya adalah Bedaya Anglir Mendung, yang diciptakan oleh Mangkunegara I.

Latar belakang penciptaan tari tersebut didasarkan atas pertempuran Mangkunegara melawan Pangeran Mangkubumi di desa Kasatriyan, Ponorogo. Karenanya tarian tersebut adalah semacam perwujudan dari situasi peperangan tersebut.

Ada banyak tema peperangan dalam tari-tarian Surakarta. Yang pertama adalah perang gending, yaitu dalam tema perangan yang diikat oleh aturan lagu, dan perang ruket, yaitu perang campuh (selendang) yang tanpa terputus-putus, saling pukul-memukul untuk menyerang dan bertahan.

Tema yang terakhir ini tidak terikat oleh aturan lagu. Pun dalam tema ini tidak banyak ada variasi gerak, yang dilakukan hanya memukul, menghindar, menyerang, menangkis seperti dalam bela diri namun masih terikat dalam susunan tari.

Dalam studinya terhadap musik suku Mamak, Jambi, peneliti Margaret Kartomi, mengungkapkan hal yang sedikit berbeda terkait hubungan pencak silat dengan bentuk seni budaya lainnya.

Ia menceritakan bahwa pencak silat dalam suku Mamak adalah bagian dari ritual proses pendidikan kepada generasi muda. Selain itu ritual silat juga dipandag sebagai cara untuk mengobati warga yang sedang sakit.

Menurut suku Mamak, Silat, Tarian, dan Musik dapat menarik roh jinak leluhur dan alam lingkungan untuk turun ke bumi, untuk memberkati kaum pesakitan dan semua yang hadir. Karenanya ritual silat ini dipimpin oleh guru silat dan juga semacam dukun adat (Kumantan).

Sang Kumantan, pada masyarakat Mamak dihormati oleh karena “pengetahuan harimau”nya dan biasanya sudah ‘berteman’ dengan roh harimau di hutan. Ia mempelajari beberapa sikap dan gerakan harimau ketika harimau menerkam dan menikung mangsanya.

Dari sana sang Kumantan mencipta jurus serangan harimau dan langkah panjang harimau, yang serupa jurus yang mengendap-endap namun mematikan lawan. Selain itu leluhur suku Mamak juga mengajarkan jurus Burung Putih, Ular Turun, dan Ilmu Gajah

Kumantan ini yang memulai ritual dengan menyanyikan lagu-lagu untuk membangkitkan roh-roh, termasuk roh raja dan ratu hutan (raja macan), karena harimau atau macan adalah pelindung pencak silat.

Selanjutnya sepasang pesilat melakukan gerakan sembah atau salam dengan satu pemain mengangkat tangan kanannya, dan membengkokkan tangan kirinya di pinggulnya.

Kemudian pasangan itu berjongkok dan mengangkat kedua tangan ke dahi sebagai tanda gerakan anggun menghormati roh jinak dan warga setempat.

Gambaran di muka sebenarnya tak beda jauh dengan saudara Silat di manca negara. Fiksi "Pendekar Sedjati", yang ditulis oleh Liang I-Shen berkisah tentang Kongsun Bok, seorang pendekar berpayung yang memiliki jurus-jurus pukulan tanpa henti seumpama badai hujan.

Begitu juga dengan novelis Eiji Yoshikawa yang menggambarkan gerak ayunan samurai Mushashi serupa liuk-liuk pucuk cemara yang diterpa angin.

Pencak silat, tari-tarian dan musik adalah sesuatu yang tak terpisahkan dalam kebudayaan Indonesia. Pencak silat adalah juga ritual penghormatan, pun seni pertunjukan, dan bahkan sebuah proses pendidikan ke generasi muda.

Karenanya pencak silat tidak bisa dipahami secara an sich, secara terpisah dari yang lain-lainnya, lantaran konteks pertumbuhan dan perkembangan pencak silat tidak terlepas dari konteks kebudayaan yang melatarinya.

 

Penulis: Anom Astika

Peneliti Kebudayaan Nasional Indonesia

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?