• News

  • Singkap Budaya

Menyingkap Strategi Perempuan Jawa, ‘Memangku’ Lelaki agar ‘Mati‘

Ilustrai wanita dalam budaya suku Jawa
Netralnews/Istimewa
Ilustrai wanita dalam budaya suku Jawa

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Budaya Jawa memiliki keunikan yang tak terhingga banyaknya, baik dalam bentuk adat, tata nilai, simbol, bahasa, sistem kepercayaan, maupun dalam sistem tradisi yang dianut. Menggali budaya Jawa rasanya laksana menimba air di sumur yang tidak pernah bisa kering.

Satu hal yang sangat unik dan menarik adalah mengenai konsep tentang bagaimana cara kaum perempuan agar mampu memiliki otoritas di mata masyarakat. Unik mengingat, caranya ternyata justru harus dilakukan melalui pengabdian secara total dengan penuh kerendahan hati.

Christina S Handayani dan Ardhian Novianto dalam Kuasa Wanita Jawa (2004: 143-144) menyebutkan bahwa strategi kaum perempuan untuk memperoleh ororitas dan mendapatkan apa yang menjadi harapannya adalah dengan menjadikan orang lain sebagai target untuk "dipangku".

Dalam hal ini, Christina dan Ardhian memaknai “dipangku” sebagai upaya-upaya sedemikan rupa agar bisa mengambil hati lawan. Strategi ini tergambar dalam simbol huruf Jawa dimana kata yang berakhiran konsonan (huruf) mati, maka harus menggunakan tanda "pangku".

Dalam huruf Jawa, bila dipangku berarti mati. Artinya, bila seseorang telah terambil hatinya (jatuh hati kepada perempuan tersebut), maka seseorang pasti akan mau melakukan dan memberikan apapun kepada perempuan tersebut.

Untuk tujuan tersebut, perempuan harus mampu melakukan pengabdian secara total, berani dan tahan terhadap penderitaan. Istilahnya, perempuan harus mampu melakukan lelaku tapa brata agar bisa menekan hawa nafsu dan bertindak dengan pikiran jernih.

Dalam kondisi tersebut, perempuan akan mampu menjalankan falsafah sepi ing pamrih, rame ing gawe yang artinya seseorang bisa berkarya dengan sungguh-sungguh tanpa merisaukan hasilnya.

Dalam taraf tertinggi, proses ini dihayati sebagai kepasrahan aktif yang total kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam kepasrahan itulah, perempuan Jawa diajak untuk tahan terhadap penderitaan.

Dalam konteks ini, pakar filsafat Damardjati Supadjar mengartikan wanita sebagai seseorang yang wani tapa (berani bertapa).

Arti lain dari konsep wanita dalam falsafah Jawa adalah wani ditata (berani ditata). Artinya, bahwa kaum perempuan harus mampu membiarkan dirinya ditata dalam suatu aturan adat yang sudah menentukan di mana posisi dan tanggung jawabnya di masyarakat.

Ada banyak sekali ketentuan yang mengatur posisi wanita dalam suku Jawa. Wanita Jawa sebisa mungkin tidak tampil di sektor publik. Secara normatif, wanita sebagai istri tidak boleh melebihi suaminya.

Memimpin keluarga, mencari nafkah, menduduki jabatan publik, sebisa mungkin dipegang oleh pihak suami. Ini semua adalah bagian dari harmoni kehidupan yang sebaiknya tidak dilanggar oleh kaum perempuan bila tidak ingin harmonisme terguncang.

Istri tidak boleh mempermalukan suami dengan tampil di publik selama suami masih ada. Bila itu dilanggar, sama saja sang istri mempermalukan suaminya.

Dalam kontek sini, istri diharapkan mampu melaksanakan falsafah empan papan. Istri harus mampu memenuhi semua kebiutuhan suami. Uniknya, dengan melakukan hal ini, bukan berarti kemudian kaum wanita Jawa kehilangan otoritas pribadinya.

Justru dengan menjalankan pengabdian secara total kepada pihak suami, seorang wanita Jawa justru sedang meluncurkan strategi diplomasinya. Dengan cara itu, wanita Jawa akan mendapatkan otoritas dan mendapatkan apa yang diharapkannya.

Seorang istri yang baik, penuh pengabdian, penuh kasih sayang, maka biasanya akan membuat suaminya sulit untuk menolak sesuatu yang diminta oleh sang istri.

Yang terakhir, wanita Jawa diharapkan mampu menjalankan falsafah bahwa swarga nunut, neraka katut. Artinya, ke surga ikut, ke neraka terbawa. Saat karier suami membaik, istri akan ikut menikmatinya. Jika sebaliknya, istri akan ikut menderita.

Di mata istri, anak dan suami juga sekaligus sebagai cerminan kepribadian, keberhasilan, dan kegagalan.

Untuk itu, wanita Jawa akan memperjuangkan apapun demi kesuksesan suami dan anak-anaknya, seperti tercermin dalam falsafah Jawa yang berbunyi apiking suami gumantung istri, apiking anak gumantung ibu.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?