• News

  • Singkap Budaya

Dahsyatnya Budaya Minum Kopi, Bisa Meramal dan Melacak Orang Hilang

Ilustrasi minum kopi
foto: kathimerini.gr
Ilustrasi minum kopi

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tradisi minum kopi sebenarnya bukanlah sekadar kebiasaan memuaskan rasa haus. Ada begitu banyak filosofi terpendam yang kadang justru tidak disadari. Salah satu bukti bagaimana tradisi itu menyimpan nilai tersirat dapat dilihat dari penggalan lirik lagu yang dinyanyikan Via Vallen, "Kuat dijalani, nggak kuat ditinggal ngopi."

Segala bentuk dahaga jiwa maupun beban akibat beratnya hidup akan terasa menjadi lebih ringan saat kita kongkow bersama teman sambil menikmati secangkir kopi. Minum kopi berhasil menjadi media mencairkan hati yang beku. Kira-kira begitulah pesan atau ekspresi jiwa manusia di balik kata-kata bernada seloroh tersebut.

Dilihat dari sejarahnya, tradisi minum kopi sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu oleh masyarakat Nusantara. Namun, antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, wujud atau modelnya berbeda-beda, masing-masing memiliki keunikannya.

Dalam masyarakat Suku Mbaham di Papua Barat, tradisi minum kopi tak hanya sebagai media interaksi sosial dengan sesama manusia. Minum kopi ternyata dipercaya bisa menjadi perantara manusia sehingga bisa berkomunikasi dengan roh alam semesta. Menarik bukan?

Suku Mbaham selayang pandang

Suku Mbaham mendiami wilayah sekitar Jazirah Mbaham hingga Matta, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Suku ini memiliki sistem kepercayaan atau religi yang sangat kaya. Sebutan bagi Yang Maha Suci atau Sang Pencipta adalah Kanda Wrirenggi.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000, jumlah Suku Mbaham mencapai sekitar 7.000 jiwa. Pada 2018, diperkirakan sudah mencapai sekitar 9.000 jiwa.

Salah satu sumber mata pencarian pokok Suku Mbaham adalah bercocok tanam lada. Pohon pala (Myristica fragrans) merupakan tanaman paling dominan di tanah ulayat atau tanah adat yang selalu mereka lestarikan sebagai salah satu identitas komunal hingga kini.

Ladang pala merupakan warisan turun-temurun dari nenek moyang mereka. Pewarisan dilembagakan melalui sistem pembagian wilayah berdasarkan marga atau klan. Setiap marga akan mendapatkan sejumlah bibit pala yang kemudian dilestarikan oleh anak cucu mereka.

Selain mengandalkan hasil panen lada, mereka juga bercocok tanam aneka tanaman pangan, antara lain ubi kayu, ubi rambat, hingga tebu untuk memenuhi kebutuhan gula. Selebihnya, sumber makanan didapat dengan berburu babi di hutan. Selain menggunakan tombak, mereka juga memelihara anjing sebagai alat perburuan.

Dalam kesehariannya, Suku Mbaham hidup secara sederhana. Mereka cenderung sangat menikmati arti hidup dengan memanfaatkan segala kekayaan yang dimiliki, menggunakan bahasa setempat, dan tidak mudah terpengaruh budaya dari luar. Bahkan, terhadap janji-janji kampanye para politikus, mereka pun tidak mudah tergiur.

Mereka lebih percaya terhadap sistem adat dan para tetua adat. Apa yang diputuskan oleh musyawarah adat dan tetua adat lebih didengar ketimbang omongan pihak di luar suku mereka.

Keunikan tradisi minum kopi Suku Mbaham

Walaupun sebagian besar Suku Mbaham kini telah menjadi nasrani, namun mereka tetap mempertahankan adat dan sistem kepercayaan asli leluhur mereka. Seperti telah disinggung di awal, mitologi yang mereka anut sangat kaya. Salah satunya tercermin dalam tradisi minum kopi.

Untuk memenuhi kebutuhan minum kopi, masyarakat Suku Mbaham menanam pohon kopi dan memproduksinya sendiri. Tanaman kopi sekaligus berdampingan juga dengan kebun pala.

Kopi yang telah layak panen, dikeringkan, disangrai, kemudian dihaluskan menjadi bubuk. Selanjutnya, bubuk itu dituang bersama air mendidih yang biasanya sudah dicampur dengan air tebu sebagai pengganti gula.

Namun, kini, sebagian menikmati kopi dengan cara yang modern. Mereka sudah mampu mengolah kopi menjadi kopi instan. Salah satu kopi instan yang mereka produksi bermerek  "Kopi Senang".

Dalam kepercayaan yang mereka anut, setiap orang wajib menjalani hidup dengan tidak melanggar sejumlah larangan yang disebut sebagai pamali. Ada banyak sekali pamali, sampai-sampai, bila cangkir kopi yang akan kita minum tumpah, ada aturannya agar tidak melanggar pamali.

Orang yang menumpahkan kopi wajib memungut sebagian ampas kopi yang tumpah dan dioleskan pada dahi. Hal itu dilakukan untuk menolak bala. Sebab, saat ia menumpahkan kopi, dianggap teledor dan bisa membuat roh leluhur marah. Oleh sebab itu harus melakukan semacam bentuk penyesalan.

Minum kopi bukan hanya kebiasaan kaum laki-laki, para perempuan Suku Mbaham juga terbiasa menikmati kopi.

Menikmati kopi juga bukan hanya di rumah. Di ladang, terutama di kebun pala, hampir setiap hari mereka membawa kopi sebagai minuman saat istirahat sambil bercengkerama antara yang satu dengan lainnya. Bahkan, yang menikmati kopi hanya manusia.

Konon, pohon lada (biasa disebut henggi) dipercaya juga bisa menikmati kopi. Artinya, menikmati kopi di kebun pala adalah salah satu wujud penghormataan untuk pohon pala, bisa diartikan sebagai "memberi makan pala", sehingga diharapkan dapat tumbuh subur dan berbuah lebat.

Dalam Bahasa Mbaham, kopi biasa disebut juga "mehak". Mehak bukan hanya digunakan sebagai minuman sehari-hari, tetapi juga disuguhkan saat ada ritual adat seperti perkawinan. Mehak selalu menjadi menu wajib yang tidak boleh ditinggalkan. Berkumpul dan menikmati kopi semakin mengikat hati antara yang satu dengan yang lain.

Tak hanya untuk ritual adat, kopi dipercaya pula merupakan benda magis. Kopi bisa digunakan sebagai media perantara berkomunikasi dengan roh halus. Namun, ritual bersifat supranatural ini hanya bisa dilakukan oleh para tetua adat atau sesepuh yang menjadi pemimpin mereka.

Dengan menggunakan mehak atau minuman kopi, sesepuh kampung bisa meramal kepribadian dan membaca pikiran orang lain. Bahkan, dengan kopi pula, bila ada seseorang yang mengalami suatu bencana dan hilang, bisa ditemukan.

Mengingat alam di Papua yang masih berupa hutan lebat, tak jarang seseorang tersesat, terjatuh di hutan, ataupun dimangsa binatang buas, sehingga keberadaanya tidak diketahui. Namun, dengan ritual meminum kopi yang dilakukan tetua adat, orang itu diyakini bisa ditemukan.

Tetua adat akan lebih mudah lagi melacak seseorang yang hilang, jika sebelumnya sempat minum kopi. Ampas kopi yang tersisa dari cangkir orang itu akan digunakan sebagai alat bantu melacak keberadaannya. Sungguh menakjubkan.


Catatan: Artikel ini sebelumnya telah dipublikasikan Netralnews.com dengan judul "Ngopi, Ternyata Bisa untuk Meramal dan Melacak Orang Hilang"

Editor : Taat Ujianto