• News

  • Singkap Budaya

Kain yang Wajib Dibuat Perempuan Baduy Tak Disangka Terkenal di Moskow

Seorang perempuan Baduy sedang menenun
foto: indonesiakaya.com
Seorang perempuan Baduy sedang menenun

MOSKOW, NETRALNEWS.COM - Pergelaran busana tenun Baduy yang dirancang Nike Akhsaniyati Kholisoh menjadi bagian akhir Festival Indonesia di Moskow yang ditutup pada Minggu malam (4/8/2019) waktu setempat atau Senin menjelang dini hari WIB.

Dalam gelaran tersebut, Nike memilih koleksi busana muslim dengan menampilkan kain tenun warisan leluhur yang ditenun para perempuan suku Baduy di pedalaman Banten Selatan.

Kain hasil tenunan asal Baduy yang berbahan tebal dan hangat itu cocok untuk suhu di Moskow yang saat pergelaran berkisar pada 12-15 derajat Celsius.

Festival Indonesia 2019 di Moskow berlangsung 2-4 Agustus di taman Krasnaya Presnya yang luasnya 16,5 ha. Setiap acara yang digelar dalam festival tersebut selalu mendapat perhatian dari warga Moskow yang memadati taman.

Seperti dilansir Antara, target kunjungan Festival Indonesia tahun ini sebanyak 140 ribu orang, naik lima ribu dibandingkan kunjungan tahun sebelumnya.

Mengenal tenun Baduy

Sebelum mendapat pengaruh budaya Hindu-Budha dan Islam, diperkirakan, masyarakat yang mendiami wilayah Nusantara, sudah mengenal teknik menenun. Jejak budayanya dapat diketahui dari kain tenun suku Baduy.

Komunitas tradisional yang mendiami Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Banten ini memiliki kain tenun dengan warna putih atau biru tua sebagai ciri khasnya. Warna putih biasa dipilih oleh suku Baduy Dalam.

Warna putih diartikan sebagai simbol kesucian dan aturan yang belum terpengaruh dengan budaya luar. Ciri khas lainnya adalah teksturnya yang kasar dengan motif-motif yang sederhana.

Kain tenun Suku Baduy biasa dibuat oleh kaum perempuan mulai dari memintal kapas menjadi benang kemudian ditenun menjadi kain.

Konon, kegiatan menenun memang boleh boleh dilakukan oleh kaum wanita Suku Baduy. Mitos yang berkembang menceritakan, apabila ada pihak laki-laki yang melakukan kegiatan menenun maka perilaku laki-laki tersebut akan berubah menyerupai perilaku wanita.

Proses menenun bisa berlangsung mulai dari hitungan minggu hingga berbulan-bulan. Lamanya proses ini disebabkan oleh besar dan kerumitan membuat motif kain.

Selain berwarna putih, motif kain suku Baduy lain yang boleh digunakan adalah motif garis dengan warna-warni yang mencerminkan warna alam.

Dalam kehidupan sehari-hari, kain hasil tenunan biasa dipakai untuk berbagai ritual adat. Mereka memegang tegus tradisi dan adat sebagai pedoman hidup untuk mencapai keharmonisan dan kedamaian hidup di dunia.

Hingga kini, pakaian yang mereka kenakan harus terbuat dari kapas yang ditenun dan tidak boleh mengenakan pakaian dari kain yang dibuat dengan mesin jahit.

Untuk suku Baduy Luar, ada sekikit perbedaan. Kain yang biasa digunakan mereka berwarna hitam dan biru tua. Untuk kaum perempuan kain digunakan dalam membuat baju adat yang memiliki bentuk menyerupai kebaya.

Keberadaan kain tenun, kini ikut memberikan pengaruh signifikan terhadap dunia pariwisata dalam masyarakat Baduy. Kain tenun produk Baduy terbukti membuat budaya Baduy semakin dikenal di masyarakat luas bahkan hingga dunia internasional.

Wisatawan yang berkunjung ke komunitas Baduy biasa menjadikan kain tenun mereka sebagai oleh-oleh. Selain kain tenun, yang biasa dibeli adalah kain jenis ikat kepala, taplak meja, hingga kain untuk dekorasi rumah.

Editor : Taat Ujianto