• News

  • Singkap Budaya

Mengintip Para Arwah Minum Tuak dan Makan Daging Babi di Puncak Gunung

Pesona tiga warna di Danau Kalimutu, Ende
foto: adira.co
Pesona tiga warna di Danau Kalimutu, Ende

ENDE, NETRALNEWS.COM - Indah memukau pemandangan sekitar puncak Gunung Kelimutu lengkap dengan tanaman endemik, di antaranya Vaccinium varingiaefolium yang biasa disebut arngoni. Tanaman itu menghampar di gunung tersebut.

Dalam kepercayaan warga setempat, buah dari pohon arngoni merupakan makanan para dewa atau arwah leluhur mereka yang menghuni Danau Kelimutu.

Di hari yang ditentukan, para mosalaki pu’u (tetua adat) akan berkumpul di area Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Ini pertanda, ritual adat bernama Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata atau Pati Ka akan segera dimulai.

Ritual seperti ini diyakini masyarakat di Kabupaten Ende sebagai salah satu bentuk kebudayaan lokal yang bisa memperkaya kebudayaan nasional. Oleh sebab itu, masyarakat wajib melestarikannya.

Perlu diketahui, di Kabupaten Ende, mayoritas penduduknya adalah suku Ende dan suku Lio. Suku Ende mendiami wilayah bagian barat ke selatan, sedangkan suku Lio banyak yang tinggal du Kota Ende bagian timur hingga utara.

Di puncak Danau Kelimutu, dengan ketinggian 1.777 meter dari atas permukaan laut  tersebut, ritual Pati Ka Ata Mata memang sengaja digelar secara khusus sebagai adat memberi makan arwah-arwah leluhur atau orang yang sudah meninggal.

Acara adat tersebut biasanya dihadiri banyak wisatawan domestik maupun mancanegara. Mereka datang untuk menyaksikan peristiwa unik itu.

Rangkaian acara diawali prosesi sembilan mosalaki sebagai simbol sembilan suku setempat maju dengan mengenakan pakaian tradisional. Mereka membawa sesaji untuk dibawa ke dakutatae, sebuah batu alam sebagai tugu tempat sesaji.

Sesaji itu di antaranya berupa nasi merah, daging babi, moke (semacam tuak lokal), rokok, sirih pinang, dan kapur. Semuanya diletakkan di tugu. Walau tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, masyarakat Ende percaya, arwah leluhur akan memakan sajian tersebut.  

Setelah sembilan mosalaki  selesai memberi makan leluhur di tugu batu, para pengunjung akan ditawari untuk turut menikmati sesaji. Prosesi ini sebagai simbol sukaria dan bergembira bersama para leluhur.

Ritual kemudian dilanjutkan dengan gawi, yakni tarian bersama para mosalaki dengan mengelilingi tugu batu.

Prosesi ini merupakan bagian penting untuk menghantar doa agar sampai kepada para arwah leluhur. Selain itu, prosesi ini juga diyakini dapat mengusir kekuatan jahat atau tolak bala.

Bahkan, warga percaya bisa memberikan berkah kesuburan alam sehingga meningkatkan kesejahteraan warga.

Masyarakat Ende, masih ingat bahwa di Danau Kalimutu, berulang kali pernah menelan korban. Pada tahun 1996, seorang turis laki-laki asal Belanda tewas di tempat itu. Kemudian, tahun 2004 warga Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, bunuh diri di danau tersebut.

Selanjutnya di tahun 2008, seorang warga Desa Tenda, Kecamatan Wolojita, juga ditemukan tewas di danau yang terlihat berwarna hijau muda tersebut.

Semua jasad yang meninggal tersebut dibiarkan tetap di dalam danau karena sulitnya medan sehingga jasad tidak bisa dievakuasi.

Warga Ende meyakini bahwa puncak Danau Kelimutu adalah lokasi tempat tinggal para arwah orang yang sudah meninggal. Tempat itu adalah pintu gerbang yang biasa diistilahkan dengan sebutan "pere konde".

Danau Kelimutu juga diyakini dihuni oleh sosok "Konde Ratu". Ia adalah sang penguasa tiga kawah di puncak Gunung Kelimutu yakni Tiwu Nua Muri Koo Fai, Tiwu Ata Polo (yang kini berwarna hijau tua), dan Tiwu Ata Mbupu (berwarna hijau tua kehitam-hitaman).

Tempat itu dianggap sangat sakral dan masyarakat tidak boleh berbuat yang tidak sopan atau sembrono.

Editor : Taat Ujianto