• News

  • Singkap Budaya

Rayakan Idul Adha, Komunitas Ini Jauh dari Kesan Kearab-araban

Anak Putu Bonokeling sedang bergotong royong mengolah hewan kurban.
foto: mongabay.co.id
Anak Putu Bonokeling sedang bergotong royong mengolah hewan kurban.

BANYUMAS, NETRALNEWS.COM – Perayaan Idul Adha di komunitas Islam Kejawen Banyumas, Jawa Tengah, yang satu ini memang sangat unik. Kesan kearab-araban terasa tidak terlihat tetapi justru aroma budaya Jawa yang lebih menonjol.

Ritual dan upacara yang biasa diselenggarakan oleh penganut tradisi Kejawen Banokeling adalah salah satu bentuk praktik sinkretisme antara agama dan budaya lokal. Justru inilah salah satu wujud nyata kekayaan budaya nusantara.

Sedikit berbeda dengan umat Islam lainnya, Komunitas Adat Banokeling akan menyelenggarakan upacara pemotongan hewan kurban pada Kamis Wage, tanggal 19 Bulan Besar, atau bertepatan pada 22 Agustus 2019 menurut kalender Masehi.

Dengan demikian, perayaan yang mereka selenggarakan akan berlangsung pada 11 hari setelah Idul Adha mayoritas umat Islam di Indonesia, yakni Minggu (11/8/2019).

Menurut sesepuh komunitas Bonokeling, keputusan tersebut didsarkan pada sistem kalender Alif Rebo Wage (Aboge), dimana tahun ini jatuh tahun Be.

Pada Tahun Be, Perlon tiba pada hari Kamis Wage. Kamis (8/8/2019) ini adalah hari Kamis pasaran Kliwon, sehingga Bada Perlon atau Idul Adha akan tiba dua pekan lagi. Dengan demikian, tiap tahun, tibanya hari besar Idul Adha akan berbeda-beda.

Rayakan Ramadhan juga berbeda

Komunitas Bonokeling tinggal di daerah lereng perbukitan Banyumas, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang. Selain perayaan Idul Adha, mereka juga memiliki tradisi unik lainnya yang dipastikan tidak akan dijumpai di belahan dunia lain.

Tradisi Islam Kejawen di tempat ini juga tidak akan dijumpai di negeri Arab Saudi di mana ajaran Islam pertama kali berkembang. Tradisi itu dipelihara oleh anak-cucu atau para pengikut ajaran Kyai Bonokeling.

Ritual yang biasanya diselenggarakan menjelang bulan Ramadhan dan bulan Syawal dipusatkan di sebuah makam yang dipercayai sebagai lokasi peristirahatan terakhir Kyai Bonokeling. Ia adalah salah satu leluhur atau tokoh penyebar agama Islam di daerah tersebut.

Hanya saja, ajaran Kyai Bonokeling boleh dikatakan sangat khas dan menyesuaikan budaya Jawa sehingga oleh sebagian masyarakat disebut sebagai Islam Kejawen.

Menurut data statistik, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang dihuni oleh sekitar 5.000 ribu jiwa. Mayoritas hidup dengan bertani dan berladang sehingga budaya, adat, dan tradisinya sangat bersifat agraris. 

Dari sekian banyak adat yang masih dilestarikan, ritual berdoa di makam Kyai Bonokeling menjelang bulan Ramadhan dan Syawal adalah salah satu budaya yang tetap dirawat oleh masyarakat desa tersebut.

Ajaran Kyai Bonokeling

Jika dilihat sekilas, pengikut Kyai Bonokeling memiliki sistem kepercayaan seperti umat Islam pada umumnya. Namun ada semacam kelonggaran dalam hal menjalankan sholat lima waktu.

Mereka cenderung menekankan bahwa kebajikan harus dinyatakan dalam tindakan nyata sehari-hari kepada sesama dan alam semesta.

Mereka juga sangat menghormati para pendahulu. Mereka sangat menghormati para leluhur. Dan salah satu leluhur yang mereka hormati  adalah Kyai Bonokeling.

Namun uniknya, bila dilacak secara historis, tidak akan ditemukan referensi tertulis tentang asal-usul sosok dan ajaran Kyai Bonokeling. Semua ajaran Kyai Bonokeling diwariskan secara turun-temurun secara lisan.


Ajaran Kyai Bonokeling sering disebut juga sebagai ajaran "Turki" atau "Pituturing Kaki" yang artinya nasihat dari para leluhur yang mengandung nilai-nilai kebenaran, kerukunan, perdamaian, sehingga bisa mendatangkan kebaikan atau berkah bagi sesama dan segenap isi alam semesta.

Lalu bagaimana ajaran Bonokeling bisa tetap terpelihara? Ada sesepuh atau sosok yang dituakan dan dipercaya menjadi penjaga ajaran Bonokeling. Ia disebut sebagai Kyai Juru Kunci dan para Bedogol (pemimpin adat Bonokeling).

Siapa saja yang ingin mendalami ajaran Bonokeling dapat bertanya dan menimba pengetahuan melalui Kyai Juru Kunci dan Bedogol. Dan sudah sejak awal, jika ditanya siapa sesungguhnya Kyai Bonokeling, Kyai Juru Kunci dan para Bedogol seolah sengaja menyembunyikan detail tokoh itu.

Mereka hanya menjelaskan bahwa Kyai Bonokeling dulunya adalah seorang petani yang berasal dari daerah Pasir Luhur, Pajajaran. Sementara itu, tak ada semacam lukisan ataupun foto  yang bisa menjelaskan rupa tokoh tersebut.

Memang, bagi mereka, sosok Kyai Bonokeling bukanlah menjadi hal utama untuk diketahui publik. Yang utama adalah bagaimana ajaran kebajikan yang diajarkannya bisa diimplementasikan dalam kehidupan nyata.

Keunikan lain dari komunitas dan pengikut ajaran Kyai Bonokeling adalah tidak adanya keharusan bagi pengikutnya untuk memeluk agama tertentu (cinta kebhinekaan). Siapapun dan dari pemeluk agama manapun, bisa menjadi pengikut Bonokeling dengan sejumlah syarat.

Dan syarat itu harus dijalani dan ditempuh selama beberapa tahun (sekitar tiga tahun).

Jika ajaran Bonokeling dirasakan membawa kedamaian dan merubah hidupnya menjadi baik bagi sesama serta dinyatakan lulus oleh Kyai Juru Kunci, maka ia bisa dinyatakan secara syah sebagai anak-cucuk Kyai Bonokeling.

Lalu seperti apa ajaran Kyai Bonokeling? Contoh ajaran Kyai Bonokeling adalah tentang lima ajaran keutamaan hidup. Pertama yakni monembah. Artinya, manusia tidak boleh lupa untuk bersembah sujud dan beribadah kepada Sang Pencipta, sesuai agamanya masing-masing.

Ajaran kedua adalah moguru. Artinya, setiap orang harus menghormati orang tua dan para pendahulu. Dalam hal ini, sosok ibu sebagai perantara kehidupan dan kelahiran harus benar-benar dihargai dan dihormati.

Ajaran ketiga adalah mongabdi, yaitu bahwa manusia wajib saling menghargai antar sesama, wajib menjalin hubungan baik dan bersama-sama mencipta dan menjaga kedamaian dan keselarasan.

Ajaran keempat adalah makaryo. Setiap orang wajib bekerja dengan benar dan baik. Bekerja dengan kejujuran, ketulusan, keikhlasan. Bekerja selain untuk menafkahi diri juga sebagai bagian menjadi berguna bagi sesama.

Dan yang terakhir adalah manages manunggaling kawula Gusti. Ajaran ini mengandung arti bahwa manusia pada tingkat tertinggi harus mampu kembali bersatu dengan Tuhan Sang Penguasa alam semesta. Manusia berasal dari Tuhan dan harus kembali menyatu dengan Tuhan.

Jika kelima ajaran itu bisa dijalankan dengan konsisten, niscaya cukup menjadi bekal seseorang mampu menjalani hidupnya secara damai, terhindar dari konflik walaupun berada di tengah keberagaman karena suku, agama, ras, maupun karena berbeda budayanya.

Melacak sosok Kyai Bonokeling

Seperti telah disinggung di awal, dalam tradisi lisan, Kyai Bonokeling dipercaya berasal dari Pasir Luhur, Pajajaran. 

Sementara menurut Sejarawan Banyumas, Sugeng Priyadi dalam buku Banyumas: Antara Jawa dan Sunda, wilayah Pasir Luhur sebenarnya menunjuk daerah daerah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Kyai Bonokeling adalah sosok perwujudan budaya di era Kerajaan Pasirluhur di wilayah Banyumas dan Cilacap. Budaya itu berhasil bertahan karena diwariskan turun-temurun.


Tradisi khas berbau Islam yang berpadu budaya lokal bisa dilihat dari doa yang menggunakan pendekatan ajaran Islam tetapi juga selalu mengenakan pakaian adat serba hitam tanpa mengenakan alas kaki.

Pendapat Sugeng juga dipertegas oleh Ridwan, peneliti etnografi dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto yang menulis buku Islam Kejawen; Sistem Keyakinan dan Ritual Anak Cucu Bonokeling.

Menurut Ridwan, tokoh dari Pasir Luhur itu menyebarkan agama Islam sekaligus bersamaan dengan pembukaan lahan pertanian di daerah Banyumas. Kyai Bonokeling selalu digambarkan sebagai sosok muslim sekaligus seorang petani.

Ia menyebarkan agama Islam dengan mengakomodir budaya lokal yang sudah ada sebelumnya. Hal ini bisa dilihat dari ritual dan model permohonan keselamatan yang diadakan di lokasi tertentu (makam).

Ini merupakan salah satu bukti bahwa Kyai Bonokeling hingga wafatnya, selalu berusaha mendialogkan ajaran Islam dengan budaya yang sudah ada pada masa itu yaitu animisme, dinamisme, Hindu, dan Budha.

Ritual di makam Kyai Bonokeling

Ritual yang diadakan sebelum bulan puasa atau menyambut bulan Ramadhan dinamakan ritual Nyadran atau Unggah-Unggahan. Sementara ritual menyambut bulan Syawal disebut Ritual Turunan. Keduanya memiliki makna sebagai ritual permohonan berkah keselamatan.

Ketika hari dan waktu pelaksanaan ritual sudah ditentukan, para pengikut Kyai Bonokeling yang berada di luar Desa Pekuncen akan berdatangan menuju makam Kyai Bonokeling dengan berjalan kaki.

Dan jalan kaki bersifat wajib atau keharusan yang harus dipatuhi para pengikutnya.

Jarak yang ditempuh mencapai sekitar 50 kilometer. Mereka masing-masing membawa bahan makanan yang akan dimasak bersama di Desa Pekuncen.

Ketika para pejalan kaki sampai di Desa Kali Urip, mereka akan dijemput oleh perwakilan masyarakat adat dari Pekuncen. Ini adalah semacam ritual penghormatan warga Pekuncen kepada para tamu.

Selanjutnya, para pejalan kaki akan diajak melakukan ritual sungkeman (caos) pada Kyai Juru Kunci dan seluruh Bedogol disaksikan warga dan aparatur desa. Caos diawali kaum lalki-laki baru disusul kaum perempuan.

Pada malam harinya (biasanya pada malam Jumat Kliwon menurut penanggalan Jawa), perwakilan umat akan berdoa dan Salat bersama, memohon izin melaksanakan ritual di sekitar area makam Kyai Bonokeling.

Area makam Kyai Bonokeling cukup luas yaitu sekitar dua hektare. Banyak pohon-pohon besar berusia ratusan tahun. Dan pohon itu dirawat dan tidak boleh ditebang sembarangan.

Setelah pagi hari tiba, ritual dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban seperti kerbau atau kambing. Daging hewan kurban itu akan dimasak dan dinikmati bersama di akhir ritual.

Sementara itu, Kyai Juru Kunci, para Badogol, dan para tamu menuju ke makam Bonokeling setelah melakukan wudhu. Mereka mengadakan ritual doa di makam Kyai Bonokeling.

Setelah doa di makam Kyai Bonokeling selesai, dilanjutkan dengan acara sungkeman penghormatan setiap warga kepada makam Kyai Bonokeling. Dan sungkeman ini, diawali oleh kaum perempuan. Ini, merupakan simbol penghormatan kepada kaum ibu yang telah memberikan rahim kehidupan.

Dalam prosesi sungkeman, setiap pengikut ajaran Bonokeling juga diperkenankan menyampaikan semua permohonanannya masing-masing.

Setelah seluruh acara selesai, ritual ditutup dengan menikmati masakan yang telah disediakan secara bersama-sama.

Konon, pemda setempat pernah menawarkan agar tradisi ini bisa dijadikan sebagai objek wisata religi. Namun, para pengikut Bonokeling masih keberatan.

Mereka ingin mempertahankan kesederhanaan dan tidak mau terlena dengan kemewahan dunia. Sebab, kesederhanaan adalah salah satu ajaran yang diamanatkan Kyai Bonokeling.

Editor : Taat Ujianto