• News

  • Singkap Budaya

Rayakan HUT RI secara Tradisional, Kenang Jaka Tarub Intip Bidadari

Tirta panggesangan diarak bergada
foto: krjogja.com
Tirta panggesangan diarak bergada

SLEMAN, NETRALNEWS.COM - Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mengapresiasi warga Banyuurip, Kecamatan Margoagung, yang secara rutin setiap tahunnya konsisten menggelar Upacara Peringatan HUT RI secara tradisional, termasuk pada tahun ini.

"Kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada warga masyarakat Seyegan dan sekitarnya yang telah secara konsisten melakukan upaya pelestarian terhadap budaya Jawa, diantaranya melalui Upacara HUT Kemerdekaan RI," kata Kepala Disbud Kabupaten Sleman Aji Wulantara di Sleman, Selasa (13/8/2019).

Menurut dia, hal ini merupakan bukti nyata bahwa warga masyarakat memiliki komitmen yang kuat dan rasa handarbeni yang tinggi terhadap budaya Jawa yang adiluhung.

"Diharapkan kegiatan tersebut juga dapat menjadi referensi dan contoh bagi masyarakat lain di wilayah Kabupaten Sleman untuk senantiasa nguri-uri kebudayaan Jawa melalui berbagai kegiatan," katanya.

Pada tahun ini warga Banyuurip akan melaksanakan Upacara Peringatan HUT RI ke 74 pada Sabtu 17 Agustus 2019 pukul 07.30 WIB yang diawali dengan prosesi pengambilan "Tirta Panggesangan" , kirab bregada prajurit yang diikuti sembilan bregada dan kenduri wilujengan.

Ketua Panitia Priyo Sujono mengatakan acara Peringatan HUT Kemerdekaan ke 74 secara tradisional diawali dengan prosesi pengambilan "Tirto Panggesangan" dari Sumber Gayam sebagai simbol kehidupan dan kemakmuran bagi masyarakat setempat.

"Air yang dimasukkan ke dalam tiga kendi sebagai simbol air kehidupan, air kemakmuran dan air kesejahteraan kemudian diarak keliling Dusun Banyu Urip menuju lokasi upacara yang dikawal sembilan bregada prajurit tradisional," katanya.

Ia mengatakan, sembilan bregada tersebut yaitu Bregada Kyai Ganjur, Bregada Mrapen, Bregada Dadap Serep, Bregada Mbah Bregas, Bregada Gadung Mlati, Bregada Srikandi Margoagung, Bregada Jurugan dan Bregada Kyai Mojo.

"Bagi masyarakat setempat air merupakan berkah yang tak terhingga untuk memenuhi kebutuhan warga dalam bidang pertanian dan kebutuhan sehari-hari," katanya.

Menurut dia, melalui kirab tersebut dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur atas melimpahnya air sehingga masyarakat bisa hidup makmur dan sejahtera.

"Acara kemudian dilanjutkan dengan upacara peringatan HUT ke-74 dengan suasana Jawa mulai bahasa, pakaian hingga musik pengiring upacara juga menggunakan musik tradisional gending-gending Jawa dilanjutkan dengan kenduri wilujengan," katanya seperti dilansir Antara.

Priyo mengatakan, pelaksanaan upacara HUT Kemerdekaan dengan nuansa Jawa disesuaikan dengan budaya setempat serta untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya sendiri dan untuk menumbuhkan dan menguatkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa.

Mengenal Tirta Panggesangan

Sendhang Tirta Panggesangan
(S.Wignya Raharja)

Kinclong, klimpah-klimpah, kumricik ilining toya
pating sliri tawes, wader pari dalasan anggang-anggang
sedaya memuji mring Hyang Widhi
Tanpa sih Paduka Gusti
Dados punapa awak mami?

Widodari kayangan sami lelumban
Tumurun madyaning sendhang
Jamas, reresik tan emut ing wanci
Kamanungsan si Tarub
Segering tirta sendhang dadya panjanging yuswa
saiba bombong kula nyumurupi
sesami titahing Gusti anjagi lestari ...

Membaca penggalan sastra Jawa di atas, jelas bahwa masyarakat Jawa sangat menghargai arti "air". Dari air, manusia bisa memperoleh berkah kehidupan. Selain untuk makan dan minum, air memberikan kesuburan bagi lahan pertanian.

Dalam kisah Jaka Tarub, ia melihat berkah kehidupan dalam wujud bidadari turun ke bumi di sebuah sendhang atau mata air. Kisah itu juga mempertegas penghargaan tentang sumber mata air.

Acara Kirab Tirta Panggesangan adalah budaya terkait dengan filosofi tersebut. Air dikirab dari sumber gayam menjadi simbol kehidupan dan kemakmuran bagi masyarakat sekitar.

Acara diawali dengan ritual pengambilan air di sumber tirta panggesangan. Air kemudian dituang ke dalam tiga kendi yakni kendi air kehidupan, kendi air kemakmuran, dan kendi air kesejahteraan. 

Kendi tersebut kemudian diarak keliling Dusun Banyuurip. Setelah itu, air akan dibawa ke lokasi acara upacara HUT Kemerdekaan RI. Tiga kendi yang berisi air itu diserahkan ke sesepuh warga dengan tujuan air itu bermanfaat bagi masyarakat dan membawa kemakmuran serta kesejahteraan.

Acara dilanjutkan dengan upacara peringatan HUT Kemerdekaan lengkap dengan tradisi khas suasana Jawa yang terlihat dari bahasa, pakaian yang dikenakan, hingga musik pengiring upacara. Musik berupa klenengan atau gending-gending Jawa.

Menurut cerita leluhur, sumber mata air yang dikirab sejak dahulu dimanfaatkan masyarakat untuk minum dan makan, serta untuk memenuhi pengairan di lahan pertanian, mengingat mayoritas masyarakat di wilayah itu sebagai petani.

Kirab Tirta Panggesangan merupakan budaya masyarakat Jawa untuk menumbuhkan rasa cinta tanah, rasa persatuan, dan rasa kesatuan bangsa.

Kirab tersebut rutin diadakan setiap tanggal 17 Agustus dan mendapat dukungan instansi pemerintahan daerah. Sementara itu, masyarakat setempat juga sejak dulu memiliki rasa tanggung jawab untuk melestarikan budaya tersebut.

Editor : Taat Ujianto