• News

  • Singkap Budaya

Usaha Mistis Orang Jawa, Temukan Kekosongan di Dasar Samudera Batin

Ilustrasi budaya Jawa
foto: satujam.com
Ilustrasi budaya Jawa

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM – Menemukan hakikat spiritual orang Jawa, niscaya akan menemukan keunikan tiada taranya di dunia. Anda yang ingin menemukannya tetapi menggunakan konsepsi budaya Eropa, dipastikan akan menemui kegagalan.

Franz Magnis Suseno dalam Etika Jawa (2001: 117-118) menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan menurut pandangan dunia Jawa bertolak dari pembedaan antara dua segi fundamental realitas, yaitu segi lahir (lair) dan segi batin.

Artinya, dunia Jawa justru mengedepankan kesadaran subjektif dalam mencari kebenaran dan kebijaksanaan sejati tentang makna kehidupan. Hal ini berbeda dengan pandangan budaya Barat di mana kebenaran ditemukan dalam dunia objektif.

Selanjutnya, jika orang Barat mengedepankan pikiran (mind) sebagai sarana untuk menerima dan mengolah informasi melalui pancaindera dari alam lahiriah (dunia objektif), sementara cara Jawa menggunakan "rasa" yang merupakan sarana untuk menangkap kebenaran-kebenaran alam batin (dunia sub-jektif).

Semakin tajam "rasa" seseorang maka semakin dekatlah orang itu dengan kebenaran yang sejati. Dalam kaitannya dengan dunia lahir dan batin ini, Niels Mulder dalam  Agama, Hidup Sehari-Hari, dan Perubahan Budaya Jawa  (199: 62-64) mengungkapkan bahwa inti terdalam dari Kejawen adalah kebatinan.

Salah satu kisah penting yang mengungkap tentang spiritualitas orang Jawa tergambar dalam kisah Bima dalam lakon Dewaruci yang bersumber dari mitologi Mahabharata. Kisah ini menceritakan tokoh Bima yang berusaha  mengungkap jati diri, hati nurani, pencarian aku yang sejati.

Usaha pencarian boleh dikatakan merupakan usaha mistis dengan cara mengalahkan dirinya sendiri sebelum dia mencapai sumber kebenaran dan kebijaksanaan. Bima hanya bisa menemukan kebenaran dan kebijaksanaan sejati dengan menguasai alam lahirnya kemudian turun ke kedalaman dirinya sendiri.

Ia harus mengalahkan nafsu dan khayalannya karena di sanalah Sang Maha Sempurna (Tuhan) dapat ditemukan. Ketika ditemukan, maka ia akan mampu mengalami "persatuan hamba dan Tuhan" (manunggaling kawula gusti).

Dalam hal ini, orang Jawa meyakini bahwa pengetahuan tertinggi harus mampu membawa seseorang mencapai kesatuan antara keakuan dan Yang Ilahi. Inilah puncak kemajuan rohani.

Tokoh Bima digambarkan menelusuri puncak gunung dan dasar samudera untuk mencari "air kehidupan". Usaha itu sia-sia karena ternyata, apa yang dicarinya baru bisa ditemukan setelah ia memasuki batinnya sendiri.

Kesadaran batin biasa disebut alam makrokosmos atau jagad gedhe, sedangkan kesadaran lahir (nafsu, kenyataan di dunia, hasrat, amarah, dan sebagainya) adalah alam mikrokosmos atau jagad alit.

Dalam dunia mistis Jawa, makrokosmos meliputi jasad manusia dan termasuk alam lahir. Istilah tubuh dalam istilah Barat adalah termasuk jagad gedhe (makrokosmos) karena dikuasai oleh nafsu dan dorongan naluriah.

Mikrokosmos dalam paham Jawa adalah dunia batin. Manusia dalam paham Jawa dipandang sebagai realitas yang pada intinya bersifat batin, yang melahirkan diri melalui tahap-tahap atau lingkaran-lingkaran konsentris.

Sewaktu Bima memasuki batinnya sendiri, pada mulanya ia menemukan kekosongan dan kehilangan orientasi. Kekosongan terasa tanpa batas. Tidak ada atas dan bawah. Tidak ada arah mata angin. Istilahnya, "Kekosongan itu awang-uwung", tulis Christina S Handayani dalam Kuasa Wanita Jawa (2004).

Namun, di saat itulah ia bertemu dengan Yang Ilahi. Di dasar batinnya, Bima akhirnya bertemu dengan Tuhan Sang Maha Sempurna. Di sana semua belenggu-belenggu yang mengikatnya pada alam lahir, terlepas.

Ketika turun ke dalam dasar batinnya, keakuannya sendiri bertemu dengan Yang Maha Sempurna. Kejadian tersebut merupakan pengertian (kawruh) dan bukan hanya sekadar suatu pengetahuan saja.

Melalui kawruh, bisa mengubah manusia sehingga memberikan dimensi dan kedalaman baru bagi eksistensinya dan menjadi realitas manusia yang baru. Artinya, setelah mencapai kawruh, kesadaran yang sebelumnya tertutup kabut ketidaktahuan, sekarang paham dan dapat diaktualisasikan.

Lalu bagaimana mengukur kawruh? Orang yang telah mencapai spiritualitas mendasar akan merasakan ketenteraman batin, kecocokan semua unsur satu sama lain, keterbebasan hati dari segala nafsu duniawi.

Dalam pengertian lain, orang Jawa yang telah mencapai spiritualitas terdalam akan mencapai suatu keadaan psikis tertentu, yaitu ketenangan, ketenteraman, dan keseimbangan batin. Ia mampu mewujudkan kesatuan pengalaman yang harmonis.

Editor : Taat Ujianto