• News

  • Singkap Budaya

Mengungkap ‘Kuda Mati’ Ditunggangi, Menggelinjang, hingga Kesurupan

Seni Jaranan
foto: trenggalekkab.go
Seni Jaranan

TRENGGALEK, NETRALNEWS.COM - Kelompok seni jaranan "Banteng Krido" tampil sebagai kelompok seni pembuka dalam Festival Jaranan Terbuka ke-24 Kabupaten Trenggalek tahun 2019 di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Rabu (22/8/2019).

Lebar panggung yang cukup luas dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para penari Banteng Krido untuk melakukan gerakan salto berputar putar. Penampilan grup jaranan ini memang cukup menghibur seluruh tamu undangan dan masyarakat yang hadir dalam pembukaan festival jaranan ini.

Tampil sebagai bintang tamu, Banteng Krido mengemas semua gerakan tari jaranan mulai dari Turonggo Yakso tari jaranan khas Kabupaten Trenggalek, senterewe dan pegon menjadi sebuah karya tari yang sangat menghibur.

Penampilan Banteng Krido sebagai pembuka festival jaranan terbuka ini memang cukup memuaskan. Ribuan penonton yang memadati arena pertunjukan di tengah alun-alun Kota Trenggalek tampak antusias menyaksikan festival ini sampai selesai.
 
Sedangkan festival jaranan terbuka Kabupaten Trenggalek ke-24 tahun 2019 ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi Trenggalek ke-825.

Ketua panitia kegiatan sekaligus Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek Agus Setyoni menyebut festival ini selain memperingati Hari Jadi Trenggalek juga untuk melestarikan budaya kearifan lokal menjadi daya tarik wisata daerah.

Festival jaranan terbuka ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati HUT ke-74 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-825 Trenggalek.

Agus Setyono menuturkan festival jaranan terbuka ke-24 ini dibuka untuk dua kategori, tingkat umum dan pelajar.

"Ada 36 group yang mendaftar di tingkat umum. Sembilan grup jaranan dari luar Trenggalek dan 25 grup lokal Trenggalek," tuturnya dinukil Antara.

Nantinya dari seluruh penampilan peserta akan dipilih 10 penyaji terbaik Turonggo Yakso dan 10 penyaji terbaik non Turonggo Yakso, dua penata tari dan dua penata iringan untuk kategori umum.

Sedangkan di kategori pelajar dalam festival ini nantinya akan dipilih lima penata tari tingkat SD, SMP dan SMA/ SMK/ MA, lima penata iringan tingkat SD, SMP dan SMA/SMK/MA.

Lebih jauh tentang Jararan

Jaranan atau “kuda-kudaan” (benda mati dan bukan kuda sungguhan) merupakan seni tradisional Jawa yang menggambarkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk menyerupai kuda (kuda-kudaan). Kesenian ini sangat merakyat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Seni Jaranan pernah mengalami kejayaan di era Kerajaan Hindu Budha, hingga era Kerajaan Islam. Pernah pulah dijadikan sebagai media dakwah oleh para wali di pulau Jawa.
Maka tak mengherankan jika seni ini menyisakan dua kecenderungan yakni unsur Hindu dan unsur Islam. Bahkan, pernah menjadi kontroversi karena dalam seni jaranan terdapat adegan-adegan kesurupan, sesaji, hingga kesan-kesan mistis.

Mengenai asal-usulnya, ada beberapa pendapat. Ada yang menyebutkan bahwa kesenian ini sudah muncul sejak abad ke-10 yakni di era Kerajaan Panjalu atau Kediri dan Jenggala.

Ada juga yang berpendapat bahwa seni jaranan baru berkembang di abad 14-15 Masehi. Dalam catatan Agus Sunyoto (2012) disebutkan bahwa seni jaranan berkembang pada masa peralihan zaman Hindu ke Islam.

Pada saat itu, kesenian ini oleh para wali dijadikan sebagai media penyebaran agama Islam di tanah Jawa, dan wali yang pertama kali mengajarkan dan menggelar kesenian jaranan adalah Sunan Ngudung.

Dikisahkan pula bahwa kesenian jaranan merupakan penggambaran dari kisah perjuangan Raden Patah yang dibantu oleh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.

Nuansa Hindu dan Islam tergambar dari berbagai simbol yang melekat dalam kesenian itu seperti dalam gerakan tari sembahan, instrumen, tembang atau syair, busana, dan tokoh yang diperankan. Dalam gerak tari, ada simbol spiritual yang menggambarkan relasi antara manusia dengan Tuhan.

Dalam unsur tembang, biasanya termuat nilai-nilai keagamaan agar dijadikan pedoman umat manusia. Kemudian simbol kuda yang ditunggangi manusia juga memiliki arti khas yakni manusia mampu mengendalikan gejolak nafsu di dunia yang sering menggelinjang menggoda manusia.

Sementara itu, peristiwa kesurupan mengingatkan manusia bahwa di dunia ini ada dua macam kehidupan, yakni kehidupan alam nyata dan alam ghaib. Adapun beragam sesajen seperti kemenyan, dupa dan bunga tidak lebih sebagai wangi-wangian yang khas dalam tradisi kesenian jaranan.

Tak jarang, bagian kesurupan dan sesaji (simbol-simbol peninggalan era Hindu) melahirkan polemik dan perdebatan yang tidak pernah tuntas. Ada sebagian orang yang menganggap hal itu bertentangan dengan akidah dalam agama Islam.

Editor : Taat Ujianto