• News

  • Singkap Budaya

Tradisi Tutur Jawa, Kenapa Genderuwo Senang Bersemayam di Rahim?

Ilustrasi genderuwo yang mengganggu seorang perenpuan di Youtube
foto: youtube
Ilustrasi genderuwo yang mengganggu seorang perenpuan di Youtube

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM – RP Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa: Roh, Ritual, Benda Magis (2007) mengungkap asal usul genderuwo dalam mitologi orang Jawa. Keberadaanya kini telah menjadi salah satu budaya tutur yang diwariskan turun temurun.

Konon, genderuwo sudah ada sebelum peradaban Hindu-Budha tersebar ke Jawa. Sosok makhluk halus ini senang tinggal di batu yang berair, bangunan tua, pohon besar, dan tempat-tempat yang lembab, gelap, dan sepi.

Ada pula yang berpendapat bahwa kerajaan genderuwo berada di hutan jati di Cagar Alam Danalaya, Kecamatan Slogohimo, sekitar 60 km di sebelah timur Wonogiri. Konon ada juga kerajaan genderu lainnya yakni di wilayah Lemah Putih, Purwosari, Girimulyo, Kulon Progo, sebelah barat Yogyakarta.

Sebenarnya, kata “genderuwo” berasal dari bahasa Kawi “gandharwa” dan bahasa Sansekerta “gandharva”. Orang Sunda menyebutnya “gandaruwo” dan orang Jawa umumnya menyebutnya “gendruwo“.

Sosoknya digambarkan berwujud lelaki tinggi besar, berambut lebat, berkulit hitam kemerahan, dan bertaring.

Ternyata, sosok ini juga ada dalam mitologi Persia, yakni “gandarewa.” Ia disebut sebut merupakan siluman air di daerah Persia yang memangsa segala kebaikan namun akhirnya dikalahkan oleh pahlawan Keresaspa.

Uniknya, makhluk ini bisa melakukan kontak langsung dengan manusia. Ia bisa berubah wujud menjadi mirip dengan manusia dan suka menggoda manusia, terutama kaum Hawa. Ia memiliki kebiasaan berbuat cabul dan pandai merayu.

Saat berhubungan intim dengan perempuan yang berhasil digoda, konon bisa sangat agresif dan mampu memuaskan kaum perempuan. Gendamnya sangat mengerikan.

Benih yang ditabur ke perempuan yang berhasil digoda akan bersemayam di rahim perempuan. Kehamilannya akan terlihat normal hingga tiba persalinaannya barulah muncul keajaiban di luar nalar.

Konon, janin bisa secara tiba-tiba menghilang atau raib. Dengan cara ini, si genderuwo dapat memiliki keturunannya karena konon, genderuwo bisa mati. Ia membutuhkan generasi baru. Oleh sebab itulah, ia menyenangi (membutuhkan) rahim perempuan (manusia).

Anehnya lagi, genderuwo yang suka menitis dan bersemayam di dalam rahim perempuan, ternyata ada yang bersifat baik dan ada juga yang bersifat jahat. Jenis genderuwo yang  bertabiat buruk, biasayan akan berubah wujud menjadi seorang kakek tua berjubah putih.

Maka tak mengherankan jika ada yang berpendapat bahwa genderuwo adalah salah satu jenis jin ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka mengaitkan dengan ayat-ayat suci Alquran dimana Allah memang menciptakan manusia, setan, malaikat, iblis atau setan, dan jin.

Jin yang bersifat baik, dalam hal ini genderuwo, kadang mau membantu manusia. Ada cerita rakyat yang di luar nalar, bahwa genderuwo bisa menyunat seorang anak lelaki yatim yang saleh dan ibunya  tidak mampu menyelenggarakan pesta kitan atau pesta sunat.

Hanya saja, ada juga yang beranggapan bahwa genderuwo berasal dari arwah seseorang yang meninggal tidak sempurna. Misalnya akibat bunuh diri, kecelakaan, meninggal mendadak dan tidak ikhlas, dan sebagainya.

Pendapat ini banyak ditentang oleh penganut supranatural sebab, genderuwo dipercaya bukanlah arwah penasaran tetapi memang merupakan makhluk halus yang sudah ada sejak manusia ada.

Bagi kaum budayawan, keberadaan genderuwo merupakan simbol dari sistem masyarakat paternalistik. Ia digambarkan sebagai “raksasa” yang membuat kaum perempuan selalu berada di dalam kekuasaan laki-laki.

Sistem budaya paternalistik yang mencengkeram dan sulit dilepaskan kaum perempuan tercermin dalam cerita yang menggambarkan genderuwo menyukai hubungan seks dan bisa membuat perempuan terpuaskan.

Di satu sisi sosoknya mengerikan dan membahayakan, tetapi di sisi lain membuat perempuan merasakan nikmat saat hubungan intim.

Apapun analisisnya, yang pasti hingga sekarang, belum ada penelitian secara ilmiah dan berhasil membuktikan sosok genderuwo bisa dilihat dengan mata telanjang  kepada publik.

Parahnya, dalam berbagai penayangan video di youtube, para pembuatnya menyuguhkan konten genderuwo dengan berbagai bukti yang meragukan. Sebagian malah benar-benar hanyalah tipuan kamera.

Aneh juga, hal itu justru menjadi tontonan menarik bagi penggemar Youtube. Penonton ada yang takut tetapi mengaku terhibur dengan model video semacam itu.

Dengan demikian, maraknya video yang tayang di Youtube, menambah proses penyebaran mitologi dalam budaya tutur di Jawa tentang sosok genderuwo semakin populer.

Editor : Taat Ujianto