• News

  • Singkap Budaya

Ketika Ular Berbisa di Kalimantan Selatan Ingin Menikahi Putri Raja

Ilustrasi ular weling yang terkenal sangat mematikan
foto: wikipedia
Ilustrasi ular weling yang terkenal sangat mematikan

BANJARMASIN, NETRALNEWS.COM – Beberapa hari yang lalu, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan berita tewasnya seorang satpam setelah digigit ular berbisa. Jenis ular tersebut adalah weling (Bungarus candidus).

Kejadian tersebut seolah mempertegas aneka cerita tentang keganasan dan mitos ular berbisa yang beredar di masyarakat. Hewan melata itu seringkali dianggap menjadi simbol atau pertanda tertentu seperti tercermin dalam kisah Adam-Hawa yang diganggu oleh rayuan (berbisa) ular jelmaan iblis.

Sementara itu, kisah ular berbisa juga beredar luas dalam budaya tutur di segala penjuru di Nusantara. Berbeda dengan kisah iblis berbentuk ular penggoda Adam-Hawa, kisah di berbagai daerah di Nusantara itu diwariskan turun-temurun dari para leluhur dan hingga kini tetap terjaga.

Di Jawa, ada kisah bila seseorang lelaki bermimpi digigit ular, maka ia  akan dikejar-kejar seorang perempuan yang jatuh cinta kepadanya. Sementara lainnya, menganggap jika ada ular masuk ke rumah, itu pertanda akan ada marabahaya menimpa keluarga.

Kisah lain yang tak kalah seru terdapat dalam cerita rakyat di daerah Kalimantan Selatan (Kalsel). Budaya lokal daerah ini menyebutkan adanya sosok ular raksasa yang berbisa dan dinamakan ular dandaung. Tak jelas apakah ular ini jenis weling atau kobra, namun yang jelas, sangat mematikan.

Alkisah, dahulu kala, di daerah Kalsel berdiriliah satu kerajaan kuno. Walau tak dijelas nama kerajaan itu, bisa ditebak, kisah ini lahir di era peradaban Hindu-Budha mulai tersebar di Nusantara. Model kerajaan pertama kali ada di Nusantara seiring berkembangnya budaya tersebut.

Penguasa kerajaan tersebut adalah seorang raja yang adil dan bijaksana. Hasil bumi dinikmati seluruh rakyat dengan berlimpah sehingga kehidupan bisa tenteram dan damai. Namun, ketentraman tersebut suatu hari dirampas.

Tanpa diduga, muncul seekor burung raksasa yang menyerang kerajaan dan mengobrak-abrik seluruh pemukiman di daerah itu. Rakyat panik dan berhamburan sementara lainnya tewas tertimpa reruntuhan dan terlempar karena hempasan sayap-sayap burung raksasa.

Rakyat mengira kiamat telah datang. Pasalnya, istana dan seluruh bangunan di kerajaan itu dalam sekejab tinggal puing reruntuhan. Tak hanya rumah, pepohonan pun hancur bertumbangan.

Rakyat yang selamat memilih mengungsi mencari perlindungan. Mereka khawatir akan terjadi serangan berikutnya.

Dalam pelarian, kembali terjadi peristiwa yang semakin membuat warga yang mengungsi ketakutan dan putus asa. Setelah diserang burung raksasa, di hadapan mereka kini muncul ular raksasa menghadang perjalanan mereka.

Lidahnya menjulur-julur keluar masuk. Terlihat taring tajam seolah siap mematuk mangsa. Seluruh rakyat kerajaan gemetar ketakutan tak berani bergerak. Mereka berpikir ajal sebentar lagi tiba karena ular akan memangsa mereka.

Namun, rakyat terkesiap. Ular raksasa dan berbisa di hadapan mereka ternyata bisa berbicara. Kepada warga yang mengungsi, si ular berkata "Paduka sekalian  jangat risau dan takut. Hamba tak berniat memangsa paduka sekalian. Haya saja, satu permintaan hamba.”

Di rombongan pengungsi itu, selain rakyat jelata dan Baginda Raja, ikut serta putri-putri Baginda Raja. Mendengar ular bisa berbicara, Baginda Raja tampil ke muka dan terjadilah percakapan.

Ular itu mengaku bernama Dandaung. Ular itu bercerita bahwa sudah berbulan-bulan lamanya mencari Baginda Raja karena ingin melamar salah satu putrinya. Mendengar pernyataan itu, Baginda Raja terkejut. Secara nalar, ia tidak setuju jika putrinya menikah dengan seekor ular.

Akan tetapi, Baginda Raja merasakan ada sesuatu yang ganjil dan misterius. Maka, ia kemudian menanyakan ketujuh putrinya satu persatu. Satu persatu menyatakan menolak lamaran tersebut. Hati Baginda Raja mulai was-was, sebab jika lamaran ular itu ditolak, pasti akan muncul malapetaka.

Namun saat Baginda Raja bertanya pada putri bungsu, ia terkejut. Putri bungsunya ternyata menyatakan menerima lamaran tersebut. Antara iba dan berterima kasih, Baginda Raja memeluk putri bungsunya dan melaporkannya ke ular Dandaung.

Singkat cerita, di tengah perjalanan mengungsi, dilangsungkan pesta pernikahan yang tak biasa itu. Pernikahan berlangsung ala kadarnya. Maklum di tengah situasi serba sulit.

Pada suatu malam, seluruh warga terkejut. Tiba-tiba putri bungsu yang baru saja menikah beteriak lantang membangunkan seluruh warga. Semua berdatangan. Mereka terkesiap melihat tuan putri tiba-tiba sedang bersama dengan seorang pangeran muda yang tampan.

Ternyata, ular Dandaung yang berbisa itu adalah jelmaan seorang pangeran yang baru saja mendapat kutukan setelah melakukan tindakan tidak terpuji. Kutukan nista itu baru bisa sembuh jika ia bisa menikahi anak raja. Ternyata, syarat itu terpenuhi.

Sang pangeran itu kemudian menceritakan semuanya kepada Baginda Raja. Ia juga menyatakan sanggup mengalahkan burung raksasa yang telah memporak-porandakan kerajaan.

Pangeran segera berlari menuju reruntuhan istana dan menantang burung raksasa. Kesaktiannya ia keluarkan. Ia kembali menjelma menjadi ular raksasa yang berbisa. Dengan gesitnya ia mematuk leher burung raksasa dan menancapkan taring dan cariran beracun ke tubuh burung itu.

Dalam hitungan detik burung raksasa itu tumbang. Suaranya menimbulkan bunyi berdebam. Burung itu tewas dan musnah untuk selamannya. Ular raksasa Dandaung pun kembali ke wujud aslinya.

Ia kembali menghadap Baginda Raja dan mempersembahkan kemenagan pertempuran itu untuk istrinya tercinta karena mau menerima pinangannya. Hati Baginda Raja dan seluruh rakyat kerajaan sangat gembira. Mereka bersyukur karena telah diselamatkan oleh mukjizat ular Dandaung.

Editor : Taat Ujianto