• News

  • Singkap Budaya

Inilah Ritual Penghormatan Leluhur, Sesaji, dan Tolak Bala di Penajam Paser Utara

Tari Dayak biasanya ikut meramaikan Pesta Belian Adat Paser Nondoi.
foto: newsbalikpapan.com
Tari Dayak biasanya ikut meramaikan Pesta Belian Adat Paser Nondoi.

PENAJAM, NETRALNEWS.COM – Penunjukan daerah Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur sebagai salah satu wilayah yang akan dibangun menjadi ibu kota pemerintahan Indonesia yang beru oleh Presiden Joko Widodo, telah membuat daerah ini mendadak jadi sorotan.

Publik beramai-ramai mencoba mencari tahu berbagai hal agar tidak ketinggalan informasi dan pengetahuan seputar daerah tersebut. Ini merupakan suatu hal yang baik, layaknya pepatah, tak kenal maka tak sayang.

Dalam kerangka itulah, Netralnews mencoba menyajikan salah satu kekhasan masyarakat di daerah ini yakni berupa budaya dan tradisi unik yang mereka miliki. Namanya Pesta Belian Adat Paser Nondoi.

Ritual ini sebenarnya identik dengan upacara bersih-bersih desa yang dikemas dalam suatu pesta adat. Layaknya ritual tolak bala di Jawa, acara ini dimeriahkan dengan berbagai prosesi yang bersifat sakral dan magis.

Ritual biasanya dilangsungkan selama tujuh hari. Tahun lalu (2018), acara ini rutin digelar di halaman Pasar Induk Penajam Kilometer 4 Kelurahan Nenang dan didukung langsung oleh Bupati Penajam Paser Utara, Abdul Gafur Mas'ud.

Pembukaan acara Pesta Belian biasanya ditandai dengan pemasangan gintang atau gelang oleh pemerintah daerah kepada “pulung” atau dukun.

Bila ditelusuri lebih jauh, asal usul ritual ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum masyarakat lokal mengenal sistem pemerintahan kerajaan. Dahulu, ritual ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada para leluhur.

Dengan penghormatan tersebut, segala usaha (pertanian, perdagangan, jasa, dsb) yang dilakukan oleh anak-cucu keturunannya diharapkan bisa lancar dan menjadi berkah.

Uniknya, selama ritual juga diselenggarakan proses mengobati orang sakit dan mengusir roh jahat yang berpotensi membahayakan warga desa. Acara juga dilengkapi dengan aneka sesaji dan pernak pernik unik yang digunakan sesepuh atau biasa disebut sebagai 'pulung'.

Ada pula jenis prosesi yang disebut ritual 'Nembot Ruo’. Ritual ini bermakna sebagai pengembalian roh leluhur yang sebelumnya telah dipanggil. Ritual Nembot Ruo ini biasanya juga diiringi oleh tarian Arang Juwata.

Rangkaian acara Paser Nondoi yang terakhir adalah "tepung tawar" yang bermaksud sebagai simbol penyucian masyarakat di wilayah Penajam Paser Utara dan ditutup dengan pemotongan kerbau sebagai wujud rasa syukur.

Seluruh prosesi acara pesta selalu digelar secara terbuka sehingga masyarakat dari daerah lain diperkenankan untuk menyaksikannya. Ritual tersebut juga diharapkan bisa menjadi daya tarik wisata budaya bagi wisatawan dalam negeri maupun luar negeri.

Kesan keberagaman juga tampak dalam rangkaian ritual tersebut. Perpaduan dari ragam budaya terlihat dari berbagai jenis hiburan seperti musik, tarian suku Dayak, hingga perlombaan. Layak jika ritual ini disebut sebagai simbol "Benuo Taka" yang artinya “Kampung Halaman Kita”.

Semboyan ini berasal dari bahasa Suku Paser yang ingin menyatakan bahwa Kabupaten Penajam Paser Utara merupakan daerah bagi beragam suku, ras, agama, dan budaya, namun tetap memiliki kesatuan ikatan kekeluargaan.

Editor : Taat Ujianto