• News

  • Singkap Budaya

Asing-Aseng Mengancam, ‘Solar’ dan ‘Lunar’ Disatukan Jadilah 1 Suro

Sambut Tahun Baru Islam, TMII Gelar Kirab Malam Satu Suro
foto: antvklik.com
Sambut Tahun Baru Islam, TMII Gelar Kirab Malam Satu Suro

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Tanggal 1 Muharam, menurut kalender Islam, kembali tiba, bersamaan dengan hari 1 Suro menurut kalender Jawa. Setiap tiba hari tersebut, masyarakat di Jawa Tengah hingga Jawa Timur selalu  merayakannya dengan khidmat.

Ada tradisi tersendiri yang tidak dimiliki oleh masyarakat lain di luar Pulau Jawa dalam merayakan malam 1 Suro. Selain itu, orang Jawa juga memperlakukan 1 Suro sebagai hari yang sakral. Masyarakat Jawa selalu melakukan beberapa ritual yang sudah menjadi tradisi turun temurun.

Salah satu model ritual yang ritin diselenggarakan adalah Kirab. Warga suatu daerah akan berkeliling membawa hasil bumi yang disusun berkerucut menjadi tumpeng, membawa benda pustaka, membakar kemenyan atau dupa, dan lain-lain.

Selama kirab berlangsung, masyarakat Jawa terus memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Di bagian akhir kirab, masyarakat diperbolehkan mengambil hasil bumi yang diarak. Prosesi ini menjadi salah satu bagian yang menarik.

Tumpeng hasil bumi hingga tumpeng makanan akan diperebutkan. Siapa yang mendapat, diyakini akan mendapat berkah malam 1 Suro. Hasil bumi dan makanan dan tumpeng dipercaya memiliki daya magis.

Malam 1 Suro di TMII

Dalam rangka memperingati 1 Suro, seperti tahun-tahun sebelumnya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) akan menyelenggarakan Kirab Agung Suro Nasional yang di antaranya berupa Prosesi Agung Ritual Kirab Budaya Suro Tahun 2019 (Tahun Baru Suro 1953/1 Muharam 1441 H).

Pihak Panitia penyelenggara menyatakan bahwa ritual tersebut merupakan wujud pelestarian tradisi pergantian tahun baru Jawa (peringatan Suronan) yang dikemas dalam bentuk Karnaval Budaya dan prosesi agung ritual kirab budaya.

Acara akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 31 Agustus 2019, pukul 18.30 WIB sampai dengan selesai, yang ditandai dengan santap malam dan "ngalap berkah" tumpengan. Acara akan berlangsung di Pendopo Agung Sasono Utomo TMII, Bambu Apus, Jakarta Timur

Asal Usul 1 Suro

Panitia Prosesi Agung Ritual Kirab Budaya Suro Tahun 2019 TMII melalui pernyataan tertulisnya menyatakan bahwa penanggalan 1 Suro ada kaitannya dengan peristiwa sejarah yang terjadi di era pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, Raja Mataram Islam abad ke-17.

Di masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, terdapat ancaman penetrasi asing/aseng yang telah menguasai Sunda Kelapa (Batavia). Sultan berpikir bagaimana agar bisa membuat rakyatnya rukun dan bersatu.

Salah satunya, dengan cara mengakulturasikan tiga unsur budaya yang ada pada waktu itu (Jawa, Hindu, Islam). Upaya ini disimboliskan pada bentuk perubahan Kalender Jawa.

Karena berbeda pedoman peredaran yaitu Matahari (Solar) dan Bulan (Lunar) sehingga walaupun disatukan (khususnya Kalender Jawa dan Kalender Hijriah) dengan cara dihilangkannya satu masa Kalender Jawa, namun kendatipun demikian, tetap saja berselisih satu hari.

Karena hal ini pula akhirnya muncullah istilah tahun ABOGE (tahun Alip, tgl 1 Suro jatuh hari Rabu Wage) dan tahun ASAPON (tahun Alip, tgl. 1 Suro jatuh hari Selasa Pon).

Perubahan ini bertepatan tanggal 1 Muharam 1043 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Besar 1554 Jawa, atau 8 Juli 1633 M.

Malam 1 Suro 2017

Di TMII, perayaan 1 Suro rutin diadakan. Pada tahun 2017, dimeriahkan dengan Festival Dalang Bocah tingkat Nasional TMII bekerja sama dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) berpusat di panggung Candi Bentar TMII.

Festival diikuti oleh 29 peserta dari 10 Provinsi. Tak kalah menariknya, pada 22 September 2017 juga diselenggarakan pergelaran Parade Musik Daerah Ke-6 yang diikuti 18 peserta bertepatan di Sasono Langen Budoyo.

Acara dimeriahkan juga dengan Ruwatan Sukerto, bertempat di panggung Candi Bentar. Puncaknya diadakan pergelaran wayang kulit dengan Dalang KMA Arum Ajangmas Kenyo Warsito, lakon Murwakala, Jamas Benda-benda Pusaka .

Malam 1 Suro 2018

Sementara di tahun 2018, diadakan ritual Kirab di Selasar Sasano Utomo dan Pendopo Agung Sasono Utomo. Acara tersebut diikuti beberapa Organisasi Jawa yang berada di Jakarta dan ribuan masyarakat yang hadir langsung untuk mengikuti ritual kirab  sakral ini.

TMII menyuguhkan tumpeng besar yang berada di depan gedung Sasano Utomo. Ritual dimulai dengan pertunjukan Reog Ponorogo yang merupakan ciri khas masyarakat Jawa.

Setelah pertunjukan Reog Ponorogo selesai, pemimpin ritual Kirab mulai berjalan mengelilingi gedung Sasano Utomo dengan diikuti ribuan masyarakat. Pemimpin Kirab mengenakan pakaian khas Jawa.

Dalam perjalanan mengelilingi gedung, seluruh peserta memanjatkan doa kepada yang maha kuasa, berjalan  kurang lebih selama 20 menit , dan akhirnya seluruh peserta telah sampai kembali ke Gedung Sasano Utomo.

Setelah itu, para peserta berkumpul mengelilingi tumpeng besar yang disediakan oleh Taman Mini Indonesia Indah,  doa penutup di kumandangan yang bertanda isi tumpeng besar yang merupakan kekayaan alam bisa segera diambil.

Ribuan masyarakat menyerbu tumpeng besar tersebut,  dan mencoba merebut kekayaan alam yang sengaja di tempelkan di tumpeng besar itu,  ada yang membawa karung dan ada juga yang sengaja memberikanya kepada masyarakat yang tidak dapat isi tumpeng tersebut.

Terhitung hanya  10 menit, tumpeng besar itu habis diserbu oleh masyarakat yang hadir. Acara penutup itu merupakan ciri khas masyarakat Jawa di setiap tahunnya menyambut tahun baru Islam atau malam 1 Suro.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber