• News

  • Singkap Budaya

Menyingkap Dolalak yang Getarkan Purworejo, 5.294 Pelakunya Turun ke Alun-Alun

Ilustrasi Tari Dolalak Massal
foto: metrotimenews.com
Ilustrasi Tari Dolalak Massal

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Purworejo bakal menggelar pertunjukan spektakuler yang akan "menggetarkan" kota Purworejo, bertajuk Tari Dolalak Massal pada Sabtu (14/9/2019) sore di Alun-alun Purworejo.

Tari Dolalak Massal akan diikuti oleh 5.294 penari dari berbagai tingkatan usia, mulai dari siswa sekolah dasar, SMP, SMA hingga umum.

“Pelakunya benar-benar penari dolalak yang telah dilatih oleh seniman tari di tiap kecamatan. Jadi diharapkan akan menjadi suguhan pertunjukan yang spektakuler,”kata Kepala Dinparbud Kabupaten Purworejo, Agung Wibowo, AP di hadapan puluhan awak media dalam jumpa pers di Press Center Setda Purworejo, Rabu (11/9/2019).

Menurut Agung, pertunjukan Tari Dolalak Massal merupakan bagian dari "Even Bersama Kedu" yang jadi salah satu kegiatan Dinparbud Provinsi Jawa Tengah. Disamping itu juga untuk menyongsong tahun kunjungan wisata 2020.

Pertunjukan Tari Dolalak Massal yang diberi tajuk "Reroncen karya bersama Nia, Cicik dan Gayuh" itu akan digelar mulai pukul 15.30 dengan durasi 25 menit. Tarian itu diambil dari VCD Pelatihan Tari Dolalak kemasan padat.

“Target kami 5.000 penari sesuai dengan kapasitas Alun-alun Purworejo. Namun sampai hari ini yang mendaftar sudah mencapai 5.294 penari. Jadi kemungkinan lokasinya bisa melebar ke Jalan Dr Setiabudi,” jelas Agung Wibowo dinukil purworejonews.com.


Usai pertunjukan Dolalak Massal, malam harinya digelar pertunjukan kesenian tradisional dari enam daerah se-eks Karesidenan Kedu. Pertunjukan dipusatkan di Amphitheater Alun-alun Purworejo, dimulai pukul 19.00.

Kota Magelang akan menampilkan tarian Kipas Sejuta Bunga, Kabupaten Magelang menyuguhkan Tari Soreng dengan iringan gamelan secara live, Kebumen tarian Cepetan Alas, Temanggung suguhkan Jaran Kepang dengan iringan live, Wonosobo sajikan Festival Tenong Sekar Langit dan tuan rumah Purworejo menyajikan tarian bertajuk Seminggu dengan iringan gamelan secara live.

Lebih jauh tentang Dolalak

Berdasarkan tradisi lisan, tarian ini digagas oleh tiga orang santri di daerah itu, yaitu Rejo Taruno, Duliyat, dan Ronodimejo. Sekitar tahun 1915, mereka mengadopsi gerak baris-berbaris dan nyanyian diatonis para serdadu Belanda menjadi seni tari yang kemudian dinamakan “Do-la-la” atau “Dolalak”.

Kala itu, mereka sering menyaksikan kebiasaan para serdadu Belanda di tangsi Kota Purworejo. Mereka terkesan dengan kebiasaan baris-berbaris sambil menyanyikan lagu diatonis dengan nada “do” dan “la”.

Tak hanya mengadopsi motif gerak dan lagu, para penggagas tersebut juga mengadopsi kostum para serdadu, sehingga menjadi ciri khas kostum Tari Dolalak. Motif dan ciri khas tari tersebut kemudian diwariskan turun-temurun sehingga menjadi kesenian rakyat.

Konon, tim Dolalak dirintis di Desa Sejiwan, Kecamatan Loano, Purworejo. Dari daerah itu kemudian tersebar ke banyak daerah di Purworejo. Kini, tim Dolalak sudah mencapai puluhan.

Jumlah penari dalam satu tim Dolalak bisa mencapai 28 orang. Pemain musik biasanyan enam orang atau bisa lebih, tergantung keragaman alat musik yang digunakan. Setiap tim mempunyai seorang sesepuh atau yang dituakan. Biasanya seorang kyai atau santri.

Seperti halnya seni lainnya, Dolalak juga mengalami modifikasi. Modifikasi tak lepas dari upaya memenuhi selera penonton, meningkatkan daya tarik, juga sekaligus sebagai upaya menghadapi persaingan dunia hiburan.

Dalam hal pemain, pada mulanya didominasi pemain laki-laki. Namun sejak sekitar tahun 1970, pemain didominasi oleh perempuan. Untuk kostum, mulanya tak mengenakan kacamata, kini mengenakan kacamata hitam. Dulu, mengenakan celana agak panjang, kini menjadi lebih pendek, yaitu di atas lutut.

Sementara itu, untuk alat musik, mulanya masih sederhana, seperti kendang, kecer, bedug. Kini sudah dilengkapi organ, terompet, hingga biola.

Sedangkan jenis gerak relatif bertahan, antara lain gerak keprajuritan yang kompak dan dinamis. Kirig, yaitu gerakan bahu yang cepat pada saat tertentu. Juga ada gerakan kaki, seperti adeg, tanjak, hayog, sered, mancad, jinjit, sepak, dan lain-lain.

Untuk jenis lagu juga relatif sama. Hanya saja kini, di bagian tertentu disisipkan pula dengan versi dangdut atau campursari. Judul lagu yang biasa dinyanyikan antara lain "Ojo Dipleroki", "Wes Hewes Hewes", "Nonong", "Lingsir Wengi", "Kempling", "Ikan Cucut", "Ada Nona", dan lain-lain.

Sebagai Syiar Islam

Selain sebagai media hiburan, Tari Dolalak juga dipakai sebagai media syiar agama Islam. Sejumlah lagu dan alat musik mengalami modifikasi dengan unsur seni bercorak Islami.

Syiar Islam melalui budaya setempat di Jawa tak lepas dari model yang digalakan sejak zaman para Wali Sanga. Strategi Sunan Kalijaga yang mengadopsi budaya Jawa, peninggalan budaya Hindu-Budha serta animisme-dinamisme terbukti sukses dalam proses Islamisasi di Jawa.

Strategi tersebut ikut berpengaruh besar terhadap para santri di Purworejo. Maka, jelaslah bahwa para santri penggagas seni Dolalak tak lepas dari motif bertujuan syiar Islam.

Hanya saja, syiar pada masa itu tidak akan mampu memperoleh simpati atau menarik perhatian khalayak umum jika tidak “berdamai” dengan minat penonton. Dalam hal ini, unsur magis, memikat, sensual, selalu ikut menentukan.

Maka, bukan sesuatu yang tidak disadari ketika para santri penggagas Tari Dolalak mengadopsi pula sejumlah ritual magis. Ritual itu sebenarnya merupakan budaya asli Suku Jawa yang berkembang sebelum Hindu-Budha, yaitu budaya animisme-dinamisme.

Layaknya seni tari tradisional lainnya, ada bagian-bagian tertentu yang penuh simbol magis. Mulai dari sesaji hingga bagian ketika para penari mengalami kesurupan atau “trance”, atau sering disebut juga dengan istilah “mendem” atau “ndadi”.


Saat penari Dolalak mengalami kesurupan, perilakunya menjadi aneh. Ia menari dengan gerakan sangat bertenaga, jingkrak-jingkrak seolah tiada lelah, berwajah dingin, namun menunjukkan raut muka maskulin (baca: gagah) bila penarinya laki-laki, dan feminim (baca: sensual) bila penarinya perempuan.

Ritual yang menjadi daya tarik dalam mengumpulkan massa adalah saat penari yang kesurupan tersebut meminta makan berupa pecahan beling, bara api, bunga, hingga air kelapa. Bagian ini adalah suguhan sangat penting.

Dengan berhasil mengumpulkan massa, syiar Islam dapat dilangsungkan. Salah satu bagian syiar Islam yang disampaikan kepada penonton (mungkin tidak disadari), adalah saat di mana sang sesepuh tim (biasanya kyai atau santri) mengeluarkan doa-doa Islami sehingga sang penari kembali normal.

Adegan kesurupan, bukan sekadar pertunjukan roh halus yang menyusup dalam tubuh penari, ada pesan lain. Melalui doa-doa Islami, roh leluhur Suku Jawa dapat dikendalikan. Dengan demikian, ajaran Islam terbukti mampu menjadi pegangan hidup, termasuk dalam menghadapi kekuatan gaib.

Tak jarang, pada bagian ini, Sang Kyai menyebutkan nama roh leluhur yang ikut menari dan membuat penari kesurupan. Dalam hal ini, penulis, saat kecil (sekitar tahun 1984) masih ingat sekali ketika sang sesepuh Dolalak menyebutkan nama arwah leluhur kami yang bernama Abdul Gofur.

Kala itu, Dolalak dirayakan oleh satu keluarga kaya yang sedang mempunyai hajad menikahkan anaknya. Keluarga itu merupakan tetangga penulis di Desa Condongsari, Banyuurip, Purworejo. Di desa itu, konon sebagian warga merupakan keturunan dari leluhur tersebut.

Penonton sangat terkesima dengan penjelasan sang kyai. Suasana terasa menjadi begitu sakral dan hanyut menyaksikan perilaku penari yang kini menjadi sosok Abdul Gofur. Ia berjingkrak-jingkrat dan ikut memakan beling.

Saat roh Abdul Gofur dinyatakan puas menari dan memakan sejumlah sesaji, sang kyai kembali mempersilakan roh itu keluar dari tubuh penari. Sang penari kemudian nampak seperti pingsan dan sadar secara perlahan, layaknya seseorang bangun dari tidur.

Berikut video tari Dolalak, kesenian tradisional kota Purworejo, Jawa Tengah:

Editor : Taat Ujianto