• News

  • Singkap Budaya

Rahasia Kesaktian Orang Dayak Ternyata Bisa Diintip dari Sini

Ilustrasi budaya suku Dayak
foto: boombastis
Ilustrasi budaya suku Dayak

PONTIANAK, NETRALNEWS.COM –  Kehidupan suku Dayak di Kalimantan sudah sering disebut-sebut dan ditulis oleh orang Eropa di era Kolonial masih bercokal di Nusantara. Sayangnya, kesan negatif sering lebih menonjol di mata mereka.

“Orang-orang Barat menggambarkan orang Dayak sebagai pemburu kepala dan sebagai orang-orang yang hidup secara komunal dari berburu dan mengumpulkan, dan tinggal di rumah-rumah panjang,” tulis DR Yekti Maunati dalam Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan (2006: 6).

Tuduhan tersebut bukan berarti menyatakan bahwa semua orang Eropa dan orang Idnonesia memiliki pandangan yang sama dan otomatis mengamininya. Pernyataan itu hanyalah salah satu petunjuk untuk melacak secara lebih jauh, mengapa ada orang Eropa berpendapat seperti itu.

Selain sebagai pemburu kepala, stereotip lain yang disematkan orang Eropa kepada suku Dayak di masa Kolonial adalah "primitif". Orang Dayak dianggap sangat berbeda  dengan pandangan masyarakat lain yang mengaku dirinya sebagai masyarakat yang beradab.

Mengapa suka berburu kepala

Konon, orang Dayak meyakini bahwa tengkorak kepala manusia yang sudah dikeringkan adalah sihir yang paling kuat di dunia. Sebuah kepala yang baru dipenggal  dari lehemya, cukup kuat untuk menyelamatkan seantero kampung dari wabah penyakit.

Sebuah kepala yang sudah dibubuhi ramu-ramuan, bila dimanipulasi dengan tepat, cukup kuat untuk menghasilkan hujan, meningkatkan hasil panen padi, mengusir roh-roh jahat, dan membagikan pengetahuan dari orang-orang pintar suku itu.

Kepercayaan seperti itu dianggap sebagai pemicu dorongan untuk terus melakukan perburuan kepala. Semakin banyak tengkorak kering yang ada, semakin besar kekuatan yang dihasilkan oleh gabungan dari kekuatan-kekuatannya.

"Suku yang tak memiliki kepala, atau ulu, alas namanya tidak akan mampu melawan mandau-mandau dan panah-panah beracun milik suku tetangga mereka yang lebih lengkap peralatannya," tulis Miller (1946: 121).

Sementara McKinley (1976:95) menyebutkan bahwa kepala-kepala yang dipenggal berasal dari pihak musuh. "Orang-orang yang dulu menjadi musuh-musuh kita, dengan ini menjadi pelindung, sahabat, dan pemberi rezeki bagi kita."

Dengan demikian, McKinley menggambarkan ritual perburuan kepala itu sebagai sebuah proses transisi. Orang-orang yang sebelumnya merupakan musuh, setelah dipenggal, rohnya (kekuatan gaibnya) diubah menjadi sahabat dengan cara mamadukan mereka ke dalam dunia keseharian.

"Kepala dipilih sebagai simbol yang pas untuk ritus-ritus ini karena kepala mengandung unsur wajah, yang dengan cara yang serupa dengan nilai sosial tentang nama-nama personal, merupakan simbol yang paling konkret dari jati diri sosial (social personhood)," imbuh  McKinley.

Kepala musuh yang telah telah dipenggal memiliki fungsi jati diri sosial yang pada akhirnya merupakan atribut paling manusiawi milik si musuh dan kini telah menjadi atribut yang diklaim oleh komunitas pemburu (pemenggal) kepala.

Sumber kesaktian

Salah satu sumber kesaktian dalam tradisi berburu kepala adalah senjata yang digunakan suku Dayak, yakni Mandau. Senjata tajam ini berupa parang yang memiliki ciri dan model unik.

Seringkali, mandau diberikan motif lubang-lubang di bilahnya yang ditutup dengan kuningan atau tembaga dengan maksud memperindah bilah mandau.

Mandau dipercayai memiliki tingkat-tingkat kampuhan atau kesaktian yang dipengaruhi oleh seberapa banyak telah digunakan untuk memenggal kepala. Artinya, kesaktiannya tidak hanya karena proses pembuatannya (melalui ritual-ritual tertentu).

Ketika mandau semakin sering digunakan untuk mengayau atau memenggal kepala maka mandau akan semakin sakti. Biasanya sebagian rambutnya sebagian digunakan untuk menghias gagangnya.

Konon orang Dayak percaya bahwa orang yang mati karena di-kayau, maka rohnya akan mendiami mandau. Roh orang yang dipenggal menjadi sekutunya.

Namun, saat ini fungsi mandau sudah berubah, yaitu sebagai benda seni dan budaya, cinderamata, barang koleksi serta senjata untuk berburu, memangkas semak belukar dan bertani.

Struktur Mandau

Dalam kajian Umberan, Musni, dkk dalam Sejarah Kebudayaan Kalimantan (1994), seperti dinukil budaya-indonesia.org, struktur mandau terbagi dalam tiga bagian yakni bilah, gagang, dan bagian sarung.

Bilah mandau biasanya terbuat dari lempengan besi yang ditempa hingga berbentuk pipih-panjang seperti parang dan berujung runcing (menyerupai paruh yang bagian atasnya berlekuk datar). Salah satu sisi mata bilahnya diasah tajam, sedangkan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul.

Ada beberapa jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat mandau, yaitu: besi montallat, besi matikei, dan besi baja yang diambil dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan lain sebagainya.

Konon, mandau yang paling baik mutunya adalah yang dibuat dari batu gunung yang dilebur khusus sehingga besinya sangat kuat dan tajam serta hiasannya diberi sentuhan emas, perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu.

Pembuatan bilah mandau diawali dengan membuat bara api di dalam sebuah tungku untuk memuaikan besi. Kayu yang digunakan untuk membuat bara api adalah kayu ulin. Jenis kayu ini dipilih karena dapat menghasilkan panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kayu lainnya.

Setelah kayu menjadi bara, maka besi yang akan dijadikan bilah mandau ditaruh diatasnya agar memuai. Kemudian, ditempa dengan menggunakan palu. Penempaan dilakukan secara berulang-ulang hingga mendapatkan bentuk bilah mandau yang diinginkan.


Setelah bilah terbentuk, tahap selanjutnya adalah membuat hiasan berupa lekukan dan gerigi pada mata mandau serta lubang-lubang pada bilah mandau. Konon, pada zaman dahulu banyaknya lubang pada sebuah mandau mewakili banyaknya korban yang pernah kena tebas mandau tersebut.

Cara membuat hiasan sama dengan cara membuat bilah mandau, yaitu memuaikan dan menempanya dengan palu berulang-ulang hingga mendapatkan bentuk yang diinginkan. Setelah itu, barulah bilah mandau dihaluskan dengan menggunakan gerinda.

Bagian kedua adalah gagang atau Hulu Mandau. Bagian ini terbuat dari tanduk rusa yang diukir menyerupai kepala burung.

Seluruh permukaan gagangnya diukir dengan berbagai motif seperti: kepala naga, paruh burung, pilin, dan kait. Pada ujung gagang ada pula yang diberi hiasan berupa bulu binatang atau rambut manusia.

Bentuk dan ukiran pada gagang mandau ini dapat membedakan tempat asal mandau dibuat, suku, serta status sosial pemiliknya.

Bagian terakhir adalah sarung Mandau yang biasanya terbuat dari lempengan kayu tipis. Bagian atas dilapisi tulang berbentuk gelang. Bagian tengah dan bawah dililit dengan anyaman rotan sebagai penguat apitan.

Sebagai hiasan, biasanya ditempatkan bulu burung baliang, burung tanyaku, manik-manik dan terkadang juga diselipkan jimat. Selain itu, mandau juga dilengkapi dengan sebilah pisau kecil bersarung kulit yang diikat menempel pada sisi sarung dan tali pinggang dari anyaman rotan.

Editor : Taat Ujianto