• News

  • Singkap Budaya

Sang Duta Batik Pertama: Barangsiapa Tidak Berani, Dia Tidak Bakal Menang

Raden Ajeng Kartini sedang membatik di Mooi-Indie
Netralnews/Istimewa
Raden Ajeng Kartini sedang membatik di Mooi-Indie

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sentuhan perasaan yang halus, gerak tangan yang lembut, imajinasi yang mengalir, dan kerja dengan penuh kesabaran menjadi kunci lahirnya karya seni batik. Karya itu terus diciptakan oleh kaum bumiputra sejak ratusan tahun lalu hingga diakui dunia sebagai bagian dari identitas Indonesia.

Namun, perhatian dunia terhadap keindahan seni batik tak bisa dilepaskan dari rangkaian promosi yang sangat panjang. Ternyata, perintis duta dunia dalam mempromosikan batik adalah Raden Ajeng Kartini, yang tak lain dan tak bukan adalah tokoh emansipasi perempuan Indonesia.

Seni batik lahir dari lingkungan keraton sejak Kerajaan Majapahit. Maka, sebagai keturunan bangsawan, Kartini juga tidak asing dengan batik. Ia bukan sekadar menjadi penonton dalam sejarah batik, tetapi juga menjadi pelaku produksi batik di Jepara.

Ia belajar membatik sejak berumur 12 tahun, masa di mana ia meninggalkan bangku sekolah dan memberontak terhadap budaya kolot bernama pingitan. Ia menyemplungkan jiwa raganya dalam kesibukan membatik dengan berguru pada pekerja batik di Kabupaten Jepara yang bernama Mbok Dullah.

Dalam berbagai kunjungan, ia dan saudarinya selalu mengenakan sarung batik buatannya sendiri. Bukan bermaksud ingin menyombongkan karya tangannya, namun ia secara sadar ingin membanggakan keunggulan seni rakyat kaum bumiputra yang mana belum banyak dikenal oleh orang Belanda.

Perjumpaan dengan rakyat miskin dan seniman batik di Jepara semakin mengukuhkan jiwa Kartini untuk tidak tinggal diam. Maka, seiring kemampuannya membatik semakin berkembang, ia mengumpulkan informasi tentang seluk beluk batik, mencatat ragam pola, hingga menjalin relasi dengan pebatik Jepara seperti Kamsiah, Minah, dan Kardumah.

Dengan kajian yang ia lakukan, ia berhasil menyusun catatan yang kemudian hari menjadi salah satu bukti sejarah tentang perannya sebagai semacam duta batik untuk pertama kalinya. Imajinasi dan jiwanya yang begitu peduli terhadap bangsanya berhasil mengantarkan batik keluar dari batas-batas tembok keraton yang serba berbau feodal.

Perannya memang tidak seperti di era modern, di mana sang duta berkeliling ke mancanegara. Kartini secara tak diduga, ternyata mengirimkan catatan tentang batik dan berbagai karya kerajinan tangan kaum pribumi di Jepara, termasuk karya tangannya, dalam sebuah “Pameran Karya Wanita” yang diselenggarakan di Den Haag pada 1898.

Kala itu ia masih berusia 19 tahun. Namun jiwanya yang selalu gelisah memikirkan bangsanya telah berhasil memberikan kontribusi besar bagi kemajuan peradaban Indonesia. “Barangsiapa tidak berani, dia tidak bakal menang,” tulis Kartini dalam suratnya kepada Estelle Zeehandelaar.

Berita mengenai pameran tersebut dikisahkan GP Rouffaer dan Dr HH Juynboll dalam buku “De Batikkunst in Ned. Indie an haar Geschiedenits” seperti dikutip oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja (2006: 181-186).

Dikisahkan bahwa gerai pameran bernama “Jawa”, tempat di mana karya kiriman Kartini dipajang, berhasil memikat hati Ibu Suri atau ibu dari Ratu Wilhelmina yang bernama Ratu Emma.

Ratu Emma kepincut dan terpesona dengan batik. Ia melihat dengan seksama karya kerajinan tersebut. Kemudian ia membolak-balikkan naskah tentang proses bagaimana pembuatannya, seluk beluk, hingga asal-usulnya dengan judul Handchrift Jepara.

Rupanya, Ratu Emma tidak hanya terpikat oleh keindahan batik. Ia juga merasa bangga karena saat membaca naskah tentang seluk beluk batik karya Kartini, semua menggunakan bahasa Belanda yang sempurna. “Tak dapat orang mengabaikan saja untuk tidak mengagumi bahasa Belandanya yang istimewa,” demikian kata GP Rouffaer dan Dr HH Juynboll.

Memang, dalam catatan Kartini pada buku Habis Gelap Terbitlah Terang (1968), tidak banyak menceritakan bagaimana Kartini berusaha memperkenalkan kerajinan tangan pribumi (tidak hanya batik) ke Belanda dan merintis usaha semacam ekspor dalam arti yang masih sederhana.

Namun, setelah tidak banyak disinggung lagi tentang kabar pameran tersebut, tiba-tiba Kartini bersorak dan menulis surat kepada Estelle Zeehandelaar pada 6 November 1899. Jadi, hasil jerih payah Kartini baru terlihat sekitar satu tahun setelah pameran.

“Sebuah karangan tentang batik yang tahun lalu kutulis buat Pameran Karya Wanita, dan sejak itu tak terdengar kabar beritanya, akan diterbitkan di dalam karya-standar tentang batik, yang segera akan terbit,” tulis Kartini kepada Estelle Zeehandelaar, melukiskan luapan kegembiraannya.

Kartini tidak menyangka bahwa tulisan dan upayanya memperkenalkan batik kepada bangsa Belanda mendapat respon yang begitu besar. Ia merasakan betapa harapannya tidak bertepuk sebelah tangan. Harapan yang dimaksud adalah upaya mewujudkan kecintaannya kepada rakyatnya, orang pribumi Jawa yang memiliki kekayaan budaya yang melimpah.

Dalam surat sebelumnya kepada Estelle Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899, ia menulis, “Kami orang Jawa ini, pergi bicara dengan orang-orang Eropa... dengan satu tujuan yang teringat, mengabdi diri pada perjuangan tercinta dengan seluruh kemampuan kami.”

Ia sebenarnya sempat merasa bahwa usahanya akan sia-sia. “Sekalipun lambat-laun bantuan kami kepada (panitia, red) pameran berakhir dengan kurang menyenangkan, tak sedikitpun kami merasa menyesal...”  Setelah ditunggu, rupanya kabar gembira baru tiba beberapa bulan berikutnya.

Upaya Kartini dalam merintis semacam ekspor produk batik dan kerajinan rakyat kaum bumiputra lainnya seperti seni pahat penyu, kuningan, dan karya pandai emas-perak,  tercermin dalam suratnya kepada Nyonya Nelly van Kol pada Agustus 1901. Ia menyebutkan, “Seni rakyat adalah salah satu alat untuk mencapai kemakmuran rakyat.”

Maka, ketika naskah karya tangannya yang berjudul Handchrift Jepara akan dicetak dan diterbitkan Pemerintah Belanda, hal itu pertanda rintisannya mulai bersemi. Ia yakin bahwa perhatian orang Holland terhadap kesenian rakyat Jawa akan semakin membesar.

Ketika kecintaan orang Belanda terhadap batik, khususnya, semakin membesar, permintaan pengiriman produk batik melalui Kartini dengan sendirinya akan muncul. Ia bisa memproduksi dan sekaligus menjadi perantara untuk mengumpulkan produk kerajinan tangan rakyat Jepara untuk dikirim ke negeri Belanda.  

Sayang bahwa impian dan pemikiran cemerlang Kartini tak pernah secara langsung tersampaikan atau terhubung dengan para tokoh seniman Indonesia maupun perusahaan batik yang ada pada masa itu. Keterbatasan komunikasi dan publikasi menyebabkan ide cerdas Kartini tak diketahui berbagai kalangan.

Apalagi, selang tiga tahun berikutnya, Kartini harus menghadap kepada Yang Khalik, pascamelahirkan puteranya yang pertama. Ia telah merintis duta batik dan mengawali usaha ekspor batik ke dunia international. Namun tatkala batik berjaya, ia tak pernah menikmatinya.

Sebelum wafat, ia sempat menyampaikan semacam surat “wasiat” tentang betapa berharganya seni batik bagi generasi bangsa. Pesan itu tercermin dalam suratnya pada 11 Oktober 1901, yang mengharapkan adiknya, Rukmini, agar dapat melanjutkan pendidikannya di Akedemi Seni-Gambar dan Lukis di Den Haag.

Tulisnya, “Siapakah yang dapat menggarap kepentingan-kepentingan kesenian Jawa dengan lebih baik kalau bukan putera rakyat sendiri, yang lahir bersama kecintaannya pada kesenian pribumi dan bukan karena kecintaan itu diajarkan kepadanya?”

Penggalan catatan Kartini seharusnya selalu bergema bagi seluruh rakyat Indonesia. Seni batik khususnya, dan seni lain yang asli lahir dari rahim rakyat Indonesia pada umumnya, semestinya semakin menggairahkan dan menggerakkan segenap unsur bangsa Indonesia untuk sadar bahwa budaya itu merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya.

Editor : Taat Ujianto