• News

  • Singkap Budaya

Pelantikan dan Sumpah Sang Penguasa di Atas Batu Pamali Keramat

Pelantikan dan sumpah kepala desa di Liang, Maluku Tengah, di atas batu pamali
foto: Dok.Balar Ambon
Pelantikan dan sumpah kepala desa di Liang, Maluku Tengah, di atas batu pamali

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Minggu, 20 Oktober 2019, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin akan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) periode 2019-2024). Tentu, pelantikan dilakukan dengan “ritual” yang berlaku di zaman sekarang.

Sang Presiden, sebagai pemimpin atau penguasa pemerintahan (RI) akan disumpah di hadapan para wakil rakyat, lengkap dengan sistem kepercayaan (agama) yang dianut oleh Joko Widodo dan Ma’ruf Amin. Ini menandakan bahwa pelantikan sang penguasa bersifat “sakral”.

Model seperti ini, sebenarnya sudah ada sejak berjuta tahun lalu, yakni di era megalitikum. Zaman peradaban yang ditandai dengan penggunaan batu-batu besar ini diperkirakan berlangsung sekitar 3,3 juta tahun yang lalu hingga akhir Pleistosen sekitar 11.650 tahun yang lalu.

Salah satu bukti model pelantikan penguasa di zaman ini, terdapat di daerah Maluku Tengah. Lokasi pelantikan “raja” atau pemimpin wilayah setempat ditandai dengan "batu pamali" yang hingga kini dipercaya keramat.

Menyitir hasil kajian Karyamantha Surbakti, Balai Arkeologi Ambon, yang berjudul “Penggunaan Tinggalan Pamali sebagai Meida Pelantikan Raja di Desa Liang, Kecamatan Teluk Putih, Kabupaten Maluku Tengah” (2014), ada beberapa hal unik yang bisa kita tengok.

Berdasarkan lokasinya, peninggalan zaman megalitik biasanya terdapat di daerah dataran tinggi. Dilihat asal-usulnya, peradaban megalitik di Nusantara, diperkirakan berasal dari daratan Asia, kemudian bergerak menuju semenanjung Malaka dan terus ke Indonesia menerobos pulau Sumatera kemudian tersebar ke berbagai daerah (Sukendar, 1982 : 89).

Peninggalan megalitik beraneka ragam, umumnya berlatar belakang sebagai penanda untuk ritual pemujaan arwah nenek moyang, pengharapan kesejahteraan bagi yang masih hidup, dan kesempurnaan bagi si mati.

Bentuk-bentuknya, di antaranya berupa  tempat penguburan seperti dolmen, peti kubur batu, bilik batu, sarkofagus, kalamba, atau bejana batu, waruga, batu kandang, batu temu gelang, menhir, arca, batu saji, batu lumpang, batu lesung, batu dakon, pelinggih batu, tembok batu, hingga jalan berlapis batu (Soejono, 1996 : 211).

Kepercayaan terhadap arwah nenek moyang adalah awal dari kepercayaan terhadap kekuatan alam seperti kekuatan gunung atau kekuatan laut, dan kepercayaan kepada pemberi kesuburan atau pemberi kemakmuran. Sementara arwah nenek moyang dianggap bersemayam di puncak gunung.

Berpangkal kepada pandangan inilah maka lokasi benda megalitik selalu dianggap keramat dan merupakan pusat sumber daya alam yang dapat memberikan kesejahteraan dan kemakmuran kepada masyarakat (Wales, 1953 : 92-119).

Di daerah Maluku, peninggalan tradisi megalitik utamanya berupa dolmen dengan sebutan batu pamali (batu yang dikeramatkan). Dolmen tersebut masih difungsikan dengan ritual tertentu sebagai tempat meminta kekuatan hingga sebagai tempat menyumpah kepala adat/desa yang baru dilantik.

Selain itu, peninggalan megalitik di Maluku juga berfungsi sebagai upacara kakehang  (upacara pendewasaan anak), dan dolmen sebagai batas desa atau batas tanah perumahan (Soegondho, 1996: 8).

Batu megalitik di Desa Liang berada di Pulau Seram, terletak persis di samping balai pertemuan desa (baileu) dan tidak jauh dari garis pantai di mana teluk Elpaputih berada. Masyarakat Desa Liang sendiri masih menunjukkan adanya kepercayaan tradisional yang diwujudkan dalam ritual adat.

Salah satu tradisi yang bertahan hingga kini adalah pengambilan sumpah kepala desa (bapa raja) menggunakan batu pamali. Penggunaan batu pamali keramat merupakan simbol interaksi peserta ritual dalam menjalin komunikasi dengan kekuatan supranatural (Tuhan).

Simbol batu pamali biasanya juga dipadu dengan simbul dan ritual lain seperti syair, menyanyi, doa, dan sebagainya. Semua itu berperan penting untuk mengungkapkan suatu proses yang mulanya profan menjadi nonprofan atau spiritual.

Ritual tersebut menjadi bukti bahwa peradaban yang ada sejak era megalitik tetap eksis dan bertahan selama ribuan tahun.

Selain itu, kegiatan sumpah kepala desa dengan menggunakan batu pamali yang bersifat keramat (sakral) dan dipandang penting dalam sebagai identitas dalam kehidupan komunal desa.

Simbol tersebut dipersatukan dengan sistem religi yang saat ini dianut mayoritas masyarakat setempat melalui upacara yang dipadu dengan corak keagamaan tertentu (Kristen).

“Faktor yang mempengaruhi masyarakat sehingga masih melakukan tradisi pelantikan bapa raja menggunakan batu pamali dikarenakan hal tersebut merupakan sebuah eksistensi kebudayaan suatu kelompok dalam hal ini negeri Liang sebagai kelompok masyarakat Patalima,” tegas Karyamantha Surbakti.

Dengan demikian, baik batu pamali maupun tradisi rutual di tempat ini adalah merupakan peninggalan sejarah yang sangat berarti. Diharapkan masyarakat desa Liang dan pemerintah yang terkait, bersama-sama menjaga dan melestarikannya.

Kekayaan lokal di daerah ini harus tetap terjaga sebagai sumber penting bagi semua pihak yang ingin menelusuri jejak peradaban umat manusia. Selain  itu, kekayaan ini menjadi salah satu wujud kebhinekaan di Indonesia.

Editor : Taat Ujianto