• News

  • Singkap Budaya

Di Balik Tradisi Santri ‘Buang Emas‘ di Sumur

Tradisi ziarah para santri
foto: kompaks
Tradisi ziarah para santri

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Kaum santri bagi masyarakat Jawa, merupakan generasi penting yang diharapkan memampu memajukan peradaban Islam di masa mendatang. Oleh sebab itu, pesantren akan selalu berusaha menggembleng para santri sebagik-baiknya.

Sebenarnya ada banyak sekali tradisi unik dan sangat penting yang dijaga turun-temurun hingga kini untuk mencapai tujuan itu. Berikut ini, hanyalah sebagian kecil dari berbagai tradisi khas dan unik yang banyak dilestarikan di dunia pesantren.

1.  Semua santri adalah saudara

Pesantren di mana pun di Jawa, akan mendidik setiap santri memiliki pemikiran bahwa semua santri adalah saudara. Hal ini salah satunya tercermin dalam sebutan nama panggilan akrab yang didahului dengan nama sapaan 'Kang' meski usia lebih muda.

Sapaan “kang” diperuntukkan bagi kaum laki-laki sedangkan “mbak” untuk santri perempuan. Kang dan Mbak dalam masyarakat Jawa merupakan wujud kedekatan hati antara adik dan kakak. Namun uniknya, semua diperlakukan sebagai kakak (dihormati).

2.  Tidak tidur siang selama satu minggu

Bagi santri baru yang memulai kehidupan di pesantren, akan diberlakukan pembiasaan tidak tidur siang selama satu minggu. Tradisi ini salah satunya mengakar dalam kehidupan Pesantren Tremas, di Pacitan, Jawa Timur.

Sepertinya sepele. Namun, dalam praktiknya, ada saja cobaan yang membuat para santri baru akan merasakan kantuk luar biasa akibat lelahnya kegiatan sepanjang msatu minggu tersebut.

Oleh sebab itu, diperlukan fisik yang tetap kuat. Selain itu, perlu kegiatan yang positf sehingga rasa kantuk bisa ditahan. Misalnya, ikut jalan-jalan ke perkampungan bersama para senior untuk mengenal kehidupan masyarakat secara lebih dekat.

Ujian yang seolah sederhana ini, juga menjadi penentu, apakah seorang santri baru akan mampu bertahan atau betah tinggal di pondok pesantren.

3.  Ziarah 41 hari tanpa putus

Tradisi unik berikutnya adalah melakukan ziarah sepanjang 41 hari tanpa putus. Tradisi ini juga berlangsung di Pesantren Tremas dan sudah menjadi kebiasaan sejak ratusan tahun yang lalu.

Setiap santri secara rutin berziarah ke makam para masyayikh (sesepuh) Pesantren selama 41 hari. Biasanya para Santri baru akan ziarah ke makam para sesepuh tiap pagi dan sore hari.

Untuk Pesantren Tremas, para santri baru biasanya akan mengunjungi makam Gunung Lembu yang terletak sekitar 350 meter barat daya dari komplek pondok pesantren dan makam Semanten yang terletak di sebuah bukit desa Semanten (pinggiran kota Pacitan) pada setiap hari Kamis dan Jumat.

Di makam gunung Lembu terdapat makam para sesepuh Pesantren Tremas, seperti KH Dimyathi, KH Abdurrozaq, KH Habib Dimyathi, KH Haris Dimyathi, KH Hasyim Ihsan, KH Toyyib Hasan Ba’bud, KH Mahrus Hasyim, dan para kiai Tremas yang lain.

Sedangkan di makam bukit Semanten, Pacitan, dimakamkan para kiai seperti KH Abdul Manan Dipomenggolo (Wafat 1860) pendiri pertama Pesantren Tremas Pacitan yang merupakan generasi pertama orang Indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar Kairo Mesir.

Tradisi seperti ini merupakan salah satu wujud perilaku cinta kepada para ulama. Orang yang sering melakukan ziarah ke makam para sesepuh, akan memiliki perilaku yang rendah hati, sopan dan menghormati para pendahulu.

4.  Nahun

Tradisi berikutnya adalah kewajiban bagi santri untuk tidak pulang selama 3 tahun 3 bulan. Tradisi ini dinamakan “Nahun”. Tradisi ini merupakan bagian dari tirakat atau lelaku bertapa dalam arti tertentu.

Tradisi seperti  ini juga diberlakukan di Pesantren Tremas. Penggagasnya adalah KH Dimyati (Wafat 1934 M). Kala itu, KH Dimyati mewajibkan para santri ikuti Nahun dan membuat jumlah santri di Pesantren Tremas semakin banyak dan berkembang.

Ada sebuah kisah unik yang melatarbelakangi tradisi Nahun ini. Seperti dilansir www.nu.or.id, Suatu ketika, Isteri KH Dimyathi yang bernama Nyai Khotijah yang sedang melakukan tirakat puasa selama 3 tahun, 3 bulan dan 3 hari, mengalami kejadian yang sangat aneh.

Saat beliau mencuci beras untuk dimasak, tiba-tiba beras tersebut berubah menjadi emas. Nyai Khotijah pun merasa kaget.

Nyai Khotijah kemudian berdoa: "Ya Allah, saya bertirakat bukanlah untuk mengharapkan emas atau harta benda dunia, akan tetapi saya memohon kepada-Mu ya Allah, jadikanlah Tremas ini bagian dari masyarakat, jadikanlah keluarga termasuk Ahlul Ilmi (ahli ilmu) dan jadikanlah santri-santri yang menuntut ilmu disini menjadi santri yang barokah." Emas kemudian dibuang ke dalam sumur.

Kisah itu menjadi simbol penting agar para santri mampu jalani tirakat dengan belajar di Pesantren Tremas dengan lancar, berhasil mencapai tujuannya, hingga bisa terjun dan berguna di tengah-tengah masyarakat di kemudian hari.

Kaum santri hendaknya bukan mencari kekayaan duniawi (simbol emas) namun diharapkan menjadi pribadi laksana sumur di tengah masyarakat. Sumur akan memberikan kelegaan dari dahaga masyarakat banyak. Sumur dengan air berlimpah akan memberi air kehidupan khalayak banyak.

 

SELAMAT HARI SANTRI

Editor : Taat Ujianto