• News

  • Singkap Budaya

Panas Kering Landa Jawa, Si Jelita Cingcowong Keramat Obatnya

Tari Cingcowong
foto: budayajawa.id
Tari Cingcowong

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Wilayah Jawa dilanda kemarau yang menyebabkan kekeringan di sejumlah daerah. Di daerah Jawa Barat, sejumlah waduk mengering tak menyisakan genangan air. Ini pertanda bahwa air semakin susah dicari dan menjadi barang mahal.

Tempo dulu, leluhur masyarakat Sunda, khususnya di wilayah Kabupaten Kuningan, menghadapi musim kemarau maka akan menggelar ritual memanggil hujan. Uniknya, ritual pemanggilan  hujan tersebut menggunakan media boneka cingcowong.

Ritual tersebut dinamakan Cingcowong, sama seperti nama boneka yang digunakan. Boneka terbuat dari batok kelapa, yang dilukis menjadi Putri cantik jelita, lengkap  dengan bagian badan yang dibuat dari anyaman bambu.

Layaknya putri Sunda sungguhan, boneka mengenakan baju dan sampur, dan mengenakan kalung yang terbuat dari bunga melati. Saat boneka dimainkan, si pemain akan menggelar satu buah taraje dan satu buah tikar.

Bahan pendukung lainnya, adalah sesajen seperti: menyan, bunga kamboja, kaca, sisir, dan ember. Dengan demikian bisa diterka, ritual cingcowong jelas memiliki unsur magis dan sakral.

Begitu upacara dimulai, seorang pemandu pemanggil hujan yang disebut “punduh” yang dibantu dua orang lainnya pemegang tikar, akan memainkan cingcowong di atas tikar sehingga cingcowong berubah menjadi seperti Tuan Putri yang sedang melenggak-lenggok. 

Bersamaan dengan itu, sang punduh akan memanjatkan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar hujan segera turun. 

Karena gambaran permainannya seperti itu, sebagian orang akan menganggapnya seolah menyerupai seni jaelangkung

Sementara punduh memainkan cingcowong, pemain lainnya akan menabuh buyung dengan kipas, dan satu orang lagi memainkan alat musik ceneng yang terbuat dari kuningan.

Ritual ini biasa diadakan oleh masyarakat Jawa Barat, khususnya kaum tani di Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan setiap kali kemarau panjang tak juga turun hujan. Dengan demikian, cingcowong merupakan salah satu produk budaya masyarakat agraris.

Ditengok dari asal-usulnya, menurut cerita lisan, cingcowong diperkirakan sudah ada sejak lebih dari 632 tahun yang lalu. Ritual ini kemudian menjadi tradisi turun temurun. Hanya saja, seiring kemajuan zaman, banyak warga yang meninggalkannya.

Kalaupun ada yang menyelenggarakannya, bukan lagi untuk mengundang hujan namun dilakukan sebagai pertunjukkan seni tradisional.

Untuk memberikan gambaran lebih jauh, berikut dafat perlengkapan yang biasanya digunakan untuk menyelenggarakan upacara memangging hujan cingcowong.

Daftar alat:
1. Satu buah Taraje (bahasa sunda yang artinya tangga)
2. satu buah samak /Tikar
3. Boneka Cingcowong yang terbuat dari batok kelapa yang dilukis menjadi Putri cantik dengan badan terbuat dari Rangkaian bamboo yang diberi Baju dan sampur serta diberi kalung yang terbuat dari bunga melati

Alat pendukung lainya: kemenyan, bunga kamboja, kaca, sisir, ember.

Daftar pemain:
1. Satu orang (Pemandu upacara )
2. 2 orang pemegang sampur ketika digerakan (gerakan mirip jaelangkung )
3. 2 orang pemain/penabuh buyung yang dipukul pleh kipas/hihid dan satu orangnya lagi memainkan alat musik ceneng yang terbuat dari bahan kuningan.

Perkembangan Cingcowong

Untuk melestarikan seni cingcowong Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan telah mencoba membuat satu tarian Cingcowong. Tarian ini tidak lagi ditujukan untuk ritual sakral tetapi murni sebagai upaya melestarikan budaya tersebut.

Selain itu, tari cingcowong diharapkan juga bisa menjadi suguhan atau seni pertunjukkan yang sarat dengan budaya dan sejarah masyarakat Sunda. Sampai sekarang seni tari Cingcowong sering ditampilkan pada acara-acara serimonial baik kebutuhan menyambut tamu Pemerintah.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber