• News

  • Singkap Budaya

‘Ranjang Eksotis’ di Gunung Pulosari, Bukan untuk Hubungan Intim

Batu Ranjang, peninggalan era Megalitikum di Gunung Pulosari, Pandeglang
foto: kemendikbud.go
Batu Ranjang, peninggalan era Megalitikum di Gunung Pulosari, Pandeglang

BANTEN, NETRALNEWS.COM – Bagi Anda yang sedang melancong ke daerah Kabupaten Pandegglang, Banten, sempatkanlah mampir ke lokasi cagar budaya peninggalan era Megalitikum. Lokasinya berada di Desa Batu Ranjang, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang.

Di lokasi itu terdapat Situs Batu Ranjang yang menjadi salah satu objek wisata andalan Kabupaten Pandeglang. Posisinya berada di lereng Gunung Pulosari bagian Selatan.

Yang menarik, di situs tersebut tergeletak anggun sebuah batu besar yang menyerupai ranjang sehingga dinamakan Batu Ranjang oleh masyarakat setempat. Batu tersebut berbentuk dolmen dengan batu-batu kecil penunjang di bagian bawah.

Disebut eksotis karena dolmen dibuat dengan teknologi yang cukup maju di era tersebut. Permukaannya sudah halus dengan ukuran kurang lebih 100 sentimeter x 250 sentimeter. Dolmen disangga dengan empat batu penyangga berbentuk seperti pelipit melingkar.

Berdasarkan hasil penelitian Badan Arkeologi Bandung berjudul Budaya Megalitik Mata Rantai Penutur Austronesia di Kawasan Pandeglang dielaskan bahwa bentuk pelipit seperti penyangga batu tersebut ternyata juga ditemukan pada relief di candi-candi masa Hindu-Budha.

Temuan ini menandakan bahwa peninggalan budaya lumpang batu dengan kaki berpelipit juga merupakan tinggalan budaya campuran antara budaya asli Indonesia dan budaya yang dibawa bangsa autronesia.

Ada pula sumber lainnya yang menyatakan bahwa jika dilihat dari bentuknya, batu ini diduga merupakan tempat untuk meletakkan jenazah atau lebih dikenal dengan nama kuburan.

Bagian datar yang relatif halus digunakan untuk melakukan pemujaan terhadap arwah leluhur. Sesaji biasanya diletakkan di atas dolmen. Jadi, “ranjang” tersebut bukan digunakan untuk tidur, apalagi untuk hubungan intim suami-istri, layaknya ranjang pengantin.

Tak jauh dari situs tersebut, terdapat batu peninggalan zaman megalitikum lainnya. Bentuknnya dihiasi dengan goresan-goresan  Lokasi persisya terdapat di Kampung Cidaresi, Desa Palanya, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang.

Sayangnya, hingga kini belum berhasil dipecahkan makna di balik goresan itu. Perkiraan sementara, goresa-goresan yang ada merupakan sistem kalender manusia Megalitikum.

Kalender yang dimaksud diduga ada hubungannya dengan penentuan musim bercocok tanam, atau kalender pertanian.

Peninggalan lainnya berupa kumpulan Batu Orok dan Batu Segitiga yang memberikan bukti bahwa di masa itu terdapat pemukiman manusia Megalitikum di daerah tersebut.

Bagi Anda yang tertarik mengunjungi objek peninggalan budaya Megalitikum tersebut, dipersilakan. Untuk menuju lokasi, tentu saja dibutuhkan stamina yang baik mengingat lokasinya berada di daerah lereng gunung.

Berjalan kaki sambil menikmati keindahan alam yang memukau, tentu akan sangat menyehatkan.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber