• News

  • Singkap Budaya

Gemulai Tubuh Salipuk di Kampung-Kampung, Membuat Nganjuk Mendunia

Tari Salipuk
foto: budayajawa.id
Tari Salipuk

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Di era kolonial Belanda, ketika musim panen tebu, para pemilik perkebunan biasayanya akan merayakannya dengan menanggap tayub. Artinya, di era itu ada banyak penari tayub keliling dari daerah satu ke daerah yang lain berdasar panggilan.

Penikmat seni tayub tak hanya kaum bumiputra. Para tuan Belanda, mandor tebu, dan para koeli, menyukai tayub. Mereka bisa leluasa menari sambil mengonsumsi minuman keras semalam suntuk.

Selain saat musim panen, tayub biasannya juga digelar untuk meramaikan pesta perkawinan, untuk ritual keselamatan desa, hingga  untuk sekadar hiburan.

Penari tayub adalah seorang perempuan yang mengenakan kain kemben atau rape’. Saat menari, para lelaki yang ngibing menyelipkan uang sawer ke dada tandha’. Perilaku kurang sopan mulai menggeser fungsi magis dan religius. Perilaku ini, selalu menjadi pro-kontra di masyarakat.

Gambaran seni tayub di awal abad ke-20 tercermin dalam kisah “Inem” yang ditulis Pramudya Ananta Toer. Di era itu, seni tayub seolah menjadi hiburan di tengah kemiskinan-akut yang dialami rakyat. Seni tayub digandrungi mereka.  Kisah ini dapat dibaca dalam buku Cerita dari Blora (1994).

Inem, seorang gadis berumur delapan tahun dari desa di Blora, Jawa Timur. Ia akan segera dijodohkan nikah oleh orang tuanya. Pernikahannya, diramaikan dengan pertunjukkan tayub.

“Tayuban itu dilakukan dua hari dua malam. Senang betul anak-anak melihat orang lelaki dan perempuan menjoget dan bercium-ciuman dan sebentar-sebentar mengadu gelas dan menenggak minuman keras sambil menjoget dan berteriak, Hussee!”

Dalam perkembangannya, banyak tokoh yang berusaha mengubah citra seni tayub menjadi media syiar aga. Artinya, Tayub tidak hanya sekadar hiburan tetapi menjadi alat penyebaran agama.

Tokoh Salipuk

Di era Kolonial Belanda, ada juga seorang penari tayub bernama Salipuk, asal Nganjuk. Setiap hari ia “mengamen” tari Tayub dengan berkeliling ke kampung-kampung untuk menghibur orang sambil membawa kendang.

Banyak orang menyukainya karena gerak lemah gemulai Salipuk saat menari. Ia berhasil menghibur masyarakat sekitar Nganjuk, sehingga namanya semakin terkenal. Dalam perkembangannya, Salipuk kemudian berhasil mengembangkan model gerak tari tayub dengan berpasangan antara lakilaki dan perempuan.

Saking terkenalnya, gerak tari buatan Salipuk kemudian menjadi model pergaulan di daerah Nganjuk, Jawa Timur.  Maka tak salah bila tari Salipuk kemudian diklaim sebagai seni tari asli kota Nganjuk, tepatnya dari desa Baron.

Gerak tari itu sering dipentaskan juga untuk acara-acara mulai dari acara pesta perkawinan hingga upacara adat.

Meskipun tarian ini hanya melibatkan dua orang, tetapi atraksi tari ini membutuhkan tempat yang luas karena gerakannya sangat dinamis dan penarinya harus berlari kesana-kemari.

Tari Salipuk menggunakan iringan musik tradisional Jawa dengan tembang khusus yang liriknya sesuai dengan jalan cerita tarian. Kini, tarian ini sudah mendunia karena sering dipentaskan di berbagai ajang pertunjukkan seni.

Editor : Taat Ujianto