• News

  • Singkap Budaya

Pilih Jadi ‘Polisi‘ atau ‘Maling‘? Uniknya, Banyak yang Suka Jadi ‘Maling‘

Ilustrasi anak-anak bermain permainan tradisional
foto: istimewa
Ilustrasi anak-anak bermain permainan tradisional

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Masa kanak-kanak adalah masa bermain. Melalui permaianan, anak dilatih untuk kerjasama, toleran, saling berbagi, dan hidup harmonis bersama orang lain.

Di Indonesia, ada begitu banyak permainan tradisional. Sayangnya, seiring perkembangan zaman, banyak anak tak kenal lagi aneka ragam permainan tradisional karena tergeser oleh teknologi gawai.

Mungkin dengan memperkenalkan kembali permainan tradisional ini, anak milenial bisa mencoba mempraktikkannya di waktu-waktu luang.  Di daerah Jawa Barat dahulu biasa dinamakan “popolisian” sementara di daerah lain menamakan “polisi polisian”.

Di dalam permainan ini ada yang harus memeranka n tokoh polisi dan maling atau penjahat. Bila dimainkan berkelompok, bisa dengan perbandingan 1:1. Jadi, jumlah pesertanya harus genap.

Permainan ini sebenarnya cukup sederhana. Masing-masing kelompok wajib menentukan batas daerah mana saja yang boleh dilalui atau yang boleh digunakan. Jika sudah ditentukan, permainan akan dimulai dengan ditandai dengan cara gambreng.

Pemenang gambreng akan berperan sebagai maling atau penjahat. Di sinilah keunikan terjadi. Biasanya, anak justru akan senang ketika sedang memerankan sebagai maling.

Sementara pihak yang kalah gambreng, harus berperan sebagai polisi yang wajib menemukan persembunyian para maling.

Kelompok yang menjadi polisi harus mampu mengejar kelompok penjahat secepat-cepatnya hingga tertangkap. Apabila sudah tersentuh, maka si penjahat dinyatakan kalah dan wajib menuruti polisi, seolah memasuki sel tahanan.

Namun, penjahat tersebut bisa dibebaskan kembali oleh kawannya yang masih bebas dengan diam-diam menyerobot dan menyentuh teman yang sedang berada di tempat tahanan. 

Jadi, kelompok polisi biasanya akan membagi tugas, yakni mencari sisa penjahat yang belum tertangkap dan ada yang tetap menjaga para tahanan yang sudah tertangkap.

Bila semua penjahat atau maling berhasil tertangkap (tersentuh) polisi, maka kelompok polisi berhasil memenagkan permainan dan peran akan berganti. Kelompok polisi akan menjadi maling dan kelompok maling menjadi polisi.

Permainan menjadi menarik apabila kedua kelompok bisa saling bertahan saling membebaskan dan menangkap.  Semakin lama tertangkap, akan semakin seru.

Dahulu, permainan sederhana tapi mengasikkan ini banyak dilakukan anak-anak ketika malam bulan purnama. Di tahun 1970-an, di sejumlah wilayah di Jawa Barat, penerangan lampu listrik belum ada. Terang bulan purnama menjadi satu-satunya penerangan yang dihandalkan untuk melihat area sekitar.

Permainan popolisian digelar di lapangan desa. Sementara anak-anak bermain, para orang tua bercengkerama  satu sama lain sambil menggunjingkan persoalan khas kaum dewasa. Kebiasaan kumpul bersama seperti itu menjadi keunikan tersendiri.

Sayang, budaya bermain dan berkumpul kelompok seperti itu kini sudah jarang sekali dilakukan. Permainan popolisian diganti dengan game di aneka gawai yang bersifat individual, seperti super Mario atau Sega. Permainan ini sebenarnya sangat berbeda dengan model popolisian zaman old yang membutuhkan interaksi dengan banyak teman.

Editor : Taat Ujianto