• News

  • Singkap Budaya

Anda Orang Jawa dan Ingin Masuk Surga? Ingatlah Anjing Buduk!

Ilustrasi anjing buduk
foto: istimewa
Ilustrasi anjing buduk

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Alkisah, perjalanan panjang melelahkan, penuh goda dan rintangan berhasil dilalui oleh seorang raja tua renta yang seluruh hidupnya diabdikan bagi rakyatnya.

Harta kekayaan ia tak punya. Ia merindukan jiwa yang terpenjara dalam tubuh berbalut daging, agar bisa segera memperoleh kesempurnaan hidup yaitu Nirwana atau Surga. Dialah Yudistira, Raja Hastina yang telah meninggalkan semua hal di dunia untuk menuju Surga.

Selama perjalanan hidup hingga akhirnya tiba di depan gerbang Surga, Yudistira selalu ditemani oleh seekor anjing buduk (kurus, dekil, dan berkudis). Walaupun tampak menjijikkan, Yudistira sangat menyayangi anjing buduknya itu.

Yudistira sangat menghargai arti pengorbanan si anjing. Tampaknya memang sederhana. Anjing itu hanya berperan sebagai teman perjalanan menuju Surga. Namun, bagi Yudistira, “teman” yang setia dalam hidup yang serba kurang makan dan tanpa kenikmatan itu, sangatlah berarti.   

Maka singkat cerita, gerbang Surga pun terbuka. Tampilah sosok Dewa Indra, Sang Penjaga Surga. Dewa itu terkejut ketika melihat Yudistira datang bersama seekor anjing buduk, minta permisi agar bisa diperkenankan masuk Surga.

Kata Dewa Indra kepada Yudistira, “Jika engkau ingin masuk ke Surga, maka tinggalkan anjing itu!” Perintah Dewa Indra membuat Yudistira terhenyak.

Setelah berpikir sejenak, Yudistira menjawab, “Maafkan dan ampunilah hamba yang hina ini, seandainya anjing saya ini tidak diperkenankan ikut masuk Surga bersama saya, maka izinkan hamba pergi dan tidak jadi masuk surga.”

Jawaban Yudistira tentu saja  tidak pernah diduga oleh Dewa Indera. Rupanya, keteguhan dan komitmen Yudistira untuk menghargai arti “pengorbanan” seekor anjing itu tidak goyah.

Ia tahu, di Surga penuh kemuliaan dan hanya sekali langkah ia sudah bisa masuk Surga jika ia mau meninggalkan anjing buduk itu. Dan keteguhan Yudistira tak hanya sampai di situ. Ketika ditanya Dewa Indra, ternyata Yudistira justru balik menggugat.

Katanya, “Jika Penguasa Surga menolak anjing buduk ini, maka Penguasa Surga telah bertindak tidak adil dan sewenang-wenang. Anjing saya ini telah menemani saya hingga sampai gerbang ini. Ia adalah saya, dan saya adalah dia.”

Kembali Dewa Indra berusaha meyakinkan Yudistira, katanya, “Mengapa engkau anggap penting seekor anjing? Dia hanyalah hewan semata dan tak layak masuk Surga. Sedangkan engkau adalah manusia yang lebih mulia.”

Mendengar jawaban Dewa Indra, Yudistira membungkuk, mengangkat, lalu memeluk anjing buduk itu, serta menciumnya. Ia mengajak anjingnya untuk pergi meninggalkan Dewa Indra dan meninggalkan pintu gerbang Surga.

Dan serta merta terjadilah mukjizat. Anjing buduk itu secara tiba-tiba lenyap dan menghilang. Yudistira baru sadar dan akhirnya tahu ternyata sosok anjing itu adalah perwujudan sosok Bhatara Dharma.

Konon, Bhatara Dharma tak lain adalah jiwa ayahnya sendiri yang menjelma menjadi anjing untuk melaksanakan dharmanya sehingga bisa meraih kesempurnaan hidup. Maka, yang selama ini menemani Yudistira ternyata adalah ayahnya sendiri yang menyamar menjadi makhluk hina dina.

Mungkin tulisan ini sedikit berbeda (atau malah banyak) dengan kisah pewayangan yang menjadi pijakan filosofi Jawa tentang bagaimana orang Jawa ingin meraih keluhuran hidup.

Namun semoga tidak meleset dari hakikatnya bahwa perjuangan dan pengorbanan hidup memiliki makna yang mendalam. Ketika Yudistira mengikhlaskan tidak jadi menikmati Surga bila tidak bersama anjing buduknya, Yudistira sedang melakukan dua tindakan mulia.

Pertama, ia menganggap nikmat Surga hanyalah ilusi dan tidak penting. Ia lebih menghargai sesuatu yang nyata yang bernama “pengorbanan” yang tercermin dalam kesetiaan menurut cara-cara yang bisa dilakukan oleh anjing buduk (setia pada majikan, mengikutinya dalam suka duka, dan lain-lain).

Dan dengan penghargaan itu pula, Yudistira berusaha membalas budi melalui “pengorbanan” dengan cara-cara yang bisa ia lakukan sebagai manusia. Dalam kejadian ini, ada proses “menghilangkan aku”.

Yudistira tidak menganggap dirinya lebih penting bahkan bersedia meniadakan keakuannya untuk “membiarkan” sosok liyan bisa terselamatkan.

Dan kedua,Yudistira berhasil melihat sosok liyan secara jernih. Liyan adalah orang atau pihak lain dalam bahasa Jawa.

Liyan seringkali mewujud dalam bentuk yang paling hina, dina, bahkan tak jarang di”anjing-anjingkan”. Karena dipandang hina, sosok itu sering diabaikan.

Perlu ada kerendahan hati  dan perjuangan untuk mampu mamandang yang hina secara sopan, penuh kasih, tanpa pamrih, tulus, ikhlas, tidak mengharap imbalan, dan sebagainya.

Dengan cara itu, Yudistira berhasil membiarkan liyan bisa merasakan penghiburan dari derita hidup, kebahagiaan, dihargai, bermartabat, dan seterusnya.

Sosok liyan atau pihak lain seringkali dengan mudahnya, kita hakimi dan jatuhkan secara sewenang-wenang. Apalagi bila kita memiliki kuasa lebih sehingga sosok liyan itu bisa mudah kita tindas, bohongi, kita "kadali", dan kita perdaya.

Seperti yang ditulis Sri Wintala Achmad dalam Asal-Usul dan Sejarah Orang Jawa (2017:81), dalam Kitab Swargarohanaparwa (bagian akhir Mahabarata), seekor anjing buduk bisa masuk Surga karena selama hidupnya berhasil melaksanakan dharma atau hakikat tugas hidup.

Dan ternyata, anjing kurus, dekil, dan kudisan itu, menjadi penentu terakhir sosok yang dimuliakan orang Jawa untuk bisa masuk Surga.

Editor : Taat Ujianto