• News

  • Singkap Budaya

Unik! ‘Ingin Raih Mulyo‘, Masjid Ini Tak Menggunakan Nama Arab

Masjid Ciptomulyo
foto: situsbudaya.id
Masjid Ciptomulyo

BOYOLALI, NETRALNEWS.COM - Warga Desa Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, bergotong royong memperbaiki dan merawat Masjid Ciptomulyo peninggalan Pakubuwana X.

Takmir Masjid Ciptomulyo, Achmadi Harjono (77), mengatakan bahwa selama ini perbaikan dan pemeliharaan masjid lebih banyak dilakukan menggunakan dana infak dari warga.

"Banyak renovasi yang kami lakukan, memang ada sebagian yang menggunakan dana bantuan dari pemerintah tetapi lebih banyak menggunakan dana dari infaq," kata Achmadi di Boyolali, Selasa (10/12/2019).

Ia menjelaskan, renovasi Masjid Ciptomulyo, yang merupakan bangunan cagar budaya, antara lain mencakup penggantian atap sirap kayu dengan genteng biasa, yang kemudian diganti lagi dengan, serta penggantian lantai tegel dengan keramik.

"Setelah itu oleh pemerintah direnovasi lagi menjadi marmer, atap juga ditambah asbes," katanya.

Terakhir, menurut dia, bagian dinding masjid yang menghadap ke timur dipasangi marmer menggunakan dana infak dari warga.

Achmadi mengatakan bahwa renovasi dilakukan dengan tetap mempertahankan konstruksi dan bentuk bangunan lama, termasuk tiang kayu sebagai penyangga bangunan.

Masjid peninggalan Pakubuwana X di Boyolali memiliki empat tiang penyangga di bagian dalam dan sepuluh tiang penyangga di bagian luar.

Di bagian luar masjid berusia 114 tahun yang bisa menampung sekitar 200 orang itu, ada papan bertulisan aksara Jawa "Adegipun Masjid Ciptomulyo, Selasa Pon, 14 Jumadil Akhir 1838 Je".

Selain memperbaiki dan merawat bangunan masjid, takmir ingin melengkapi fasilitas masjid.

"Cita-cita kami selanjutnya ingin membeli mobil ambulans untuk membantu warga sekitar yang membutuhkan, tetapi kami sengaja tidak mengajukan permintaan bantuan ke pihak manapun karena inginnya pakai dana infak," demikian Achmadi Harjono dinukil Antara.

Lebih jauh tentang Masjid Ciptomulyo

"Masjid ini didirikan pada hari Selasa Pon, 14 Jumadil akhir 1838 Je. Kalau Masehi sekitar tahun 1905. Kalau dihitung sampai sekarang kurang lebihnya sudah 114 tahun. Sudah satu abad lebih 14 tahun," kata sesepuh masjid Ciptomulyo, Achmadi seperti dikutip dari Detik.com.

Tak seperti masjid pada umumnya yang menggunakan bahasa Arab untuk penyematan namanya. Masjid ini dinamakan dengan bahasa Jawa, "Cipto" dan "Mulyo".

"PB X memberi nama Ciptomulyo itu diciptakan agar supaya mulyo, hidup kita agar supaya mulyo, hidup sejahtera lahir dan batin di dunia dan akhirat, mungkin seperti itu," terangnya.

Keunikan dari masjid ini adalah arah kiblat. Jika biasanya arah kiblat menghadap barat serong kanan, namun di masjid Ciptomulyo serong ke kiri.

Kementerian Agama Kantor Wilayah Jawa Tengah, telah memasang gambar yang menunjukkan arah kiblat sudah sejak lama. Arah kiblat yang terbuat dari kuningan atau tembaga itu dipasang di lantai serambi masjid bagian depan.

Dari segi arsitektur, Masjid Ciptomulyo sangat kental dengan desain Jawa kuno. Ornamen-ornamen ukiran khas Jawa terpasang di ventilasi pintu.

Di tiang depan masjid terdapat papan kayu dengan tulisan berbahasa Jawa dalam huruf latin. Tulisan tersebut menandakan waktu didirikannya masjid Ciptomulyo.

Bagian atas pintu terdapat ornamen kayu dengan tulisan PBX. Di serambi sebelah kanan masjid terdapat bedug besar yang dilengkapin kentongan besar.

Bedug dan kentongan ini dipercaya ada sejak masjid dibangun. Istimewanya bedug tersebut terbuat dari gelondongan kayu besar.

Di ruang utama masjid terdapat saka guru berjumlah 4 buah yang terbuat dari kayu jati dan dicat dengan warna krem agar senada dengan warna dinding.

Atap masjid yang berbentuk tumpang atau limas terlihat meruncing dari dalam ruang utama masjid ini. Pada awal pendirian Masjid Ciptomulyo Pengging, atap masjid dibuat dari sirap. Namun sekarang sudah diganti dengan atap dari kayu.

Di ruang utama ini terdapat mimbar kayu yang berada di samping mihrab. Di atas mihrab terdapat ornamen kayu bertuliskan 3 huruf Arab.

Meski telah direnovasi, namun bentuk masjid masih asli seperti saat awal dibangun. Bahkan, konstruksi kayu dan bangunan juga belum berubah.

Tiang dan usuk dari kayu jati masih yang aslinya. Dindingnya pun masih aslinya, hanya saja saat ini sebagian telah dilapisi dengan marmer. Termasuk kubah masjid Ciptomulyo yang memiliki arah angin juga masih dipertahankan.

Editor : Taat Ujianto