• News

  • Singkap Budaya

Ketika Pesta Mengantar Arwah Suku Dayak Berujung Banjir Darah

Ilustrasi budaya suku Dayak
foto: istimewa
Ilustrasi budaya suku Dayak

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Kekayaan budaya suku Dayak terus mengalir dan berlimpah. Karya peninggalan leluhur, salah satu keunikan budaya Dayak dapat diselami dari budaya tutur yang tetap terawat hingga kini.

Menukil budaya tutur masyarakat Kalimantan Tengah dalam buku Cerita Rakyat Kalimantan Tengah (1982: 28-30) yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ada satu kisah menarik tentang suatu legenda desa yang mendapat julukan akibat peristiwa pertumpahan darah.

Desa itu bernama Barasak yang berlokasi di antara desa Lagon dengan sungai Petak yang termasuk Wilayah Kecamatan Pulau Petak, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Timur.

Alkisah, dahulu kala, di desa itu sedang diadakan pesta Tiwah yakni pesta warga Dayak untuk mengantar arwah-arwah leluhur mereka. Pesta Tiwah adalah salah satu wujud ritual kepercayaan Kaharingan yang dianut warga setempat.

Ritual Tiwah digelar dengan meriah dan melibatkan penduduk beberapa desa sekitar. Orang-orang datang mengantarkan  bahan makanan ke tempat dilangsungkan acara. Tiang-tiang penambat hewan yang akan dikorbankan juga telah siap.

Hari pertama pelaksanaan pesta pun  telah  tiba. Gong dan gendang mulai dibunyikan dan berkumandanglah di seluruh pelosok desa. Keadaan  desa menjadi semakin  ramai. 

Hewan-hewan korban mulai disembelih untuk disuguhkan kepada  semua orang yang hadir.  Di rumah besar  tampak orang-orang bergembira ria dan menari-nari. Minuman arak dan tuak pun merupakan suguhan utama bagi semua orang yang hadir. 

Kepada setiap orang yang disuguhkan minuman ini tidak boleh menolak. Demikianlah aturan tradisi yang berlaku dalam pesta itu.

Di halaman rumah besar, tampak bergerombol orang tua menyaksikan penyembelihan hewan, sementara anak-anak bersorak-sorai menyaksikan pertandingan adu atau sabung ayam.

Kala itu, ayam yang diadu adalah ayam jago milik anak bernama Nyalong dan Rawing. Sementara Jagau adalah salah satu nama anak yang sedang menyaksikan sabung ayam.

Adapun ayam jago yang disabung dilengkapi dengan pisau kecil  yang tajam dan runcing  pacta bagian kakinya.  Demikianlah  kedua  ayam  itu bertarung dengan hebatnya.  

Anak-anak  bersorak-sorak kegirangan  dan  berteriak­ teriak memberikan semangat kepada kedua ayam itu.

Setelah agak lama bertarung, tiba-tiba pisau yang terpasang pada kaki ayam jago milik Rawing mengenai leher ayam jago milik Nyalong dan seketika menggelepar-gelepar, kemudian  mati. 

Anak­ anak yang hadir kembali bersorak-sorak dan berteriak dengan seruyan, “"Jagau Nyalong Mati!  Jagau Nyalong Mati!  Jagau Nyalong Mati!!" demikian terus-menerus.

Yang dimaksud teriakan itu sebenarnya adalah “ayam jago milik Nyalong kalah dan mati.”

Namun, ketika teriakan  anak-anak ini terdengar oleh  ayah Nyalong dan ayah Jagau yang sedang dalam keadaan mabuk di rumah besar, mereka salah paham. Mereka mengira anak mereka (Nyalong dan Jagau) mati  dibunuh. 

Ayah Nyalong dan Ayah Jagau yang teperamen tanpa ber pikir panjang, segera menghunus mandaunya dan berlari sambil membacok anak-anak yang ditemuinya. Keduanya mengamuk membabi-buta.

Orang-orang yang melihat anaknya dibacok oleh ayah Jagau dan Nyalong, segera pula menuntut bela. Akhirnya  semua orang terlibat dalam perkelahian  itu dan tidak tahu lagi siapa lawan dan siapa kawan. 

Bunyi  tempik-sorak, gong dan gendang seketika lenyap berganti dengan ratap-tangis dan teriakan yang mengerikan. Bekas Tiwah (ketua suku) berusaha melerai perkelahian itu, tapi tidak berhasil dan malahan ia sendiri hampir mati terbunuh.

Perkelahian  baru lerai setelah semua lelaki yang ikut pesta tewas karena saling bacok. Korban bergelimpangan. Darah membanjiri desa.

Hanya kepala suku yang berhasil diselamatkan walau sempat terluka. Ia kemudian memberitakan peristiwa salah paham itu ke warga desa lain. Warga desa lain berdatangan untuk membantu pemakaman para korban yang mati sia-sia.

Usai penguburan, ketua suku memutuskan untuk memindahkan penduduk di desa berdarah itu agar warga bisa melupakan peristiwa yang sangat disayangkan terjadi itu. Selain itu, beredar kisah bahwa di lokasi berdarah itu berubah menjadi sangat angker.

Banyak warga mengaku sering mendengar suara ratap tangis yang memilukan sementara saat didekati tak ada siapapun. Penduduk sekitar menduga itu adalah suara-suara arwah dari orang-orang yang telah mati terbunuh.

Setelah lama ditinggalkan, barulah daerah itu mulai dihuni kembali. Untuk  mengenang peristiwa  berdarah  tersebut, desa ini  kemudian diberi nama “Barasak” yang artinya tempat berdarah.

Konon hingga kini, di desa Barasak ini masih bisa dijumpai kuburan­-kuburan dari mereka yang meninggal tersebut.

Editor : Taat Ujianto