• News

  • Singkap Budaya

Ketika Orang Dayak Melempar Kipas dan Berubah Menjadi Burung

Suku Dayak sangat menghargai keberadaan burung elang seperti tercermin dalam pakaian adat mereka
foto: istimewa
Suku Dayak sangat menghargai keberadaan burung elang seperti tercermin dalam pakaian adat mereka

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Cerita ini ditulis berdasar budaya tutur masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah yang dinukil dari buku Cerita Rakyat Kalimantan Tengah (1982: 38-40).  Isinya cukup menarik yakni tentang legenda asal mula burung elang.

Alkisah, pada suatu hari Raja Sangiang merasa badannya kurang enak. Kondisi itu sudah berlangsung lebih dari tiga hari. Karena  itu  ia menyuruh anaknya Rangkang Karnagan memanggil Mangku Amat dan Nyai  Jaya  Sangiang tabib yang termasyur.

Rangkang Karangan pun berangkatlah ke luar desa menuju batu Nindan Tarung. Nyai Jaya  menyambut kedatangannya di muka pintu. Sebelum Nyai Jaya  sempat menanyakan maksud kedatangannya.

Rangkang Karnagan segera menyampaikan maksud hatinya. Katanya, "Saya  disuruh ayah menjemput Ibu supaya segera datang ke rumah kami. Ayah sedang sakit di sana!"

Namun, Nyai Jaya ternyata memberikan jawaban yang tak diduga. Katanya, "Ayahmu tidak apa-apa. Ia sudah sembuh!"

Rangkang Karnagan  merasa tidak percaya karena ia masih ingat sebelum berangkat ayahnya masih menderita kesakitan. Namun sekali  lagi, Nyai  Jaya  Sangiang menegaskan bahwa ayahnya sudah sembuh dan tidak apa-apa.

Rangkang Karnagan bersikeras, minta supaya Nyai Jaya datang menyembuhkan ayahnya. Ia masih tetap belum percaya bahwa ayahnya sudah sembuh.

Maka, untuk meyakinkannya, Nyai Jaya memberikan dua buah kipas dengan pesan, “Kalau  setibamu di sana, ternyata ayahmu masih sakit, kipasilah ayahmu  dengan kedua kipas ini," demikian  pesan Nyai Jaya kepada Rangkang Karnagan.

Meskipun Rangkang Karnagan kurang puas, ia akhirnya mengambil kipas itu dan segera bergegas pulang. Ia berlari agar segera sampai rumah dan menemui ayahnya.

Begitu sampai di rumah, nafasnya terengah-engah. Namun ia sangat heran. Ayahnya yang sebelumnya sakit payah, ternyata sedang berjalan hilir mudik di depan rumahnya.

Rangkang Karnagan segera menanyakan ayahnya. Kata ayahnya, "Ayah sudah sembuh!" 

Rangkang Karnagan masih tetap heran dengan semua yang telah terjadi. Untuk meyakinkan dirinya dari rasa gundahnya, ia menyampaikan pesan Nyai Jaya.

"Ayah, pesan Nyai Jaya, kalau ayah masih sakit,  saya disuruh mengipas-ngipas ayah  dengan kedua buah kipas yang diberikannya tadi!" kata Rangkang Karangan seraya memperlihatkan kedua kipasnya itu kepada ayahnya.

Ayahnya segera menjawab. Katanya, "Baiklah kalau demikian, kipaskanlah ayah!"

Namun karena Rangkang Karnagan melihat ayahnya benar-benar sudah sembuh, ia kembali menyahut, ‘’Untuk apa lagi mengipas Ayah? Ayah, kan sudah sembuh. Kipas ini sudah tak berguna lagi!"

Sambil berkata demikian, kedua  kipas tadi  dilemparkannya melalui pintu  depan dan melayang jauh ke atas menuju ke langit.

Ayah dan anak sama-sama menengadah ke langit, memandang ke arah kipas yang melayang-layang di udara.

Rupanya  kipas tadi  menjelma menjadi  dua  ekor  burung  besar, seekor jantan dan seekor betina.

Burung itu terus terbang ke langit dan hinggap di puncak pohon  kayu Pampang Saribu di Bukit Ngantung Gandang Kereng Hapalangka Langit, wilayah tempat tinggal Putir Selong Tamanang.

Sambil bertengger, kedua burung itu bernyanyi bersahut-sahutan dengan merdunya, katanya,  "Alangkah bahagianya kita berdua sampai dapat beristirahat (bertengger) di puncak pohon berdahan seribu!".

Nyanyian kedua burung itu ternyata didengar oleh seseorang bernama Putir Selong Tamanang yang merasa kedatangan tamu. Ia terus mengamati keberadaan burung jenis baru itu yang ternyata betah tinggal di daerah tempat tinggalnya.

Putir Selong Tamanang kemudian memberikan nama burung itu, yang  jantan  Antang Tandurung  Nyahu Kenyuy Napatah Tandak, sedangkan yang betina bernama Putir Bawin Antang.

Sepasang burung itulah yang menjadi cikal bakal burung elang di dunia. Dalam budaya tutur suku Dayak, burung elang  tersebut memiliki daftar keturunan atau silsilah.

Daftar keturunan itu diperoleh dari orang Dayak yang pandai  membaca dan bisa minta petunjuk  dari burung elang (manajah antang), keturunannya adalah sebagai berikut :

Antang Tandurung Nyahu Kenyuy Napatah Tandak dan Putir Bawin Antang melahirkan Antang Tuyan Nyahu.  Antang Tuyan Nyahu  melahirkan turunan  Antang Bajela Bulaw.

Antang Bajela Bulaw menurunkan  Antang Tunjung Kilat. Antang Tunjung Kilat melahirkan Antang Rangga. Antang Rangga menurunkan  Antang Riak  Nyaho dan Antang Riak Nyaho mengirimkan anaknya An tang  Riak  Mihing ke  dunia  ini  dan  dari turunannya  terdapat Antang Tarung.

Sedangkan Antang Tarung melahirkan Antang Darahen  yaitu  raja  burung  elang yang menjadi nenek  moyang segala burung elang di dunia ini.

Demikianlah  ceritera   asal-usul burung  elang bermula  dari Bukit Ampah Kereng Saheb Rabia di Pantai Tasik Bagantung Langit.

Editor : Taat Ujianto