• News

  • Singkap Budaya

Indonesia Punya Ritual Panggil Hujan, Ritual Hentikan Hujan Lempar Kancut?

Ilustrasi ritual merekayasa hujan
foto: istimewa
Ilustrasi ritual merekayasa hujan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Keinginan manusia sangat dipengaruhi dengan kondisi yang sedang dialaminya. Saat musim kemarau melanda, munculah permintaan segera turun hujan. Sebaliknya, saat musim penghujan, meminta hujan dihentikan karena takut banjir.

Untuk ritual memanggil hujan saat kemarau melanda, ada banyak sekali. Namun adakah ritual-ritual khusus untuk menghentikan hujan agar banjir bisa terkendali?

Di masyarakat Karo, Sumatera Utara, ada ritual yang namanya "gundala-gundala". Para peserta upacara mengenakan topeng kayu.

Gundala-gundala pada umumnya ditampilkan dalam upacara Ndilo Wari Udan, yaitu upacara memanggil hujan pada musim kemarau panjang.

Contoh ritual memanggil hujan lainnya yang penuh magis ada di masyarakat Sunda, Jawa Barat. Warga di Desa Cigarukgak, Kecamatan Ciawi Gebang, Kabupaten Kuninganmemiliki ritual memanggil hujan dengan nama"Babangkongan".

Saat kemarau berkepanjangan, upacara meminta hujan demi mengairi sawah serta untuk kebutuhan sehari-hari akan digelar.

Babangkongan atau upacara meminta hujan ketika musim kemarau biasanya dilaksanakan pada terbenamnya matahari hingga tengah malam pada pukul 00.00.

Dalam upacara itu, ada seorang pawang hujan yang akan membacakan doa-doa agar ritual dapat berjalan lancar tanpa adanya halangan.

Lalu bagaimana dengan ritual menolak, menghentikan, memindahkan, atau merekayasa agar tidak turun hujan?

Berdasar penelusuran Netralnews, ternyata, di masyarakat Indonesia ada cukup banyak mitos dan ritual merekayasa hujan. Entah mana yang paling mujarab, namun bagi sebagian orang, teknik tersebut diyakini bisa cegah hujan.

Cara pertama adalah dengan memasang “tusuk sate” yakni menusuk sejumlah benda menjadi seperti sate. Bahan itu antara lain bawang putih, bawang merah, buah atau sayur, cabe, dan satu ikat sapu lidi. Bahan ditusukkan pada sapu lidi dan diposisikan berdiri terbalik.

Tempatkan tusuk sate dengan sapu lidi di empat penjuru angin. Kemudian, taburkan garam di sekitar sapu lidi tersebut. Bagi yang percaya, cara ini ampuh mengusir hujan.

Cara kedua bisa dibilang sangat unik. Ada yang percaya hujan bisa direkayasa dengan melempar celana dalam atau sempak, atau kancut ke atap rumah. Sederhana bukan?

Hanya saja, jangan salah. Celana dalam atau kancut yang dilempar ke atap rumah haruslah kancut bekas pakai empunya hajatan (misalnya pesta pernikahan) yang belum dicuci alias bekas pakai.

Makanya untuk melakukan pelemparan sempak di genteng tidak boleh diwakilkan. Harus dirinya sendiri yang melakukannya.

Cara ketiga biasa disebut dengan “metode air mancur”. Agar hujan tidak melanda di rumah orang yang sedang hajatan, maka si empunya hajatan harus melakukan pantang mandi selama hari di mana acara dilangsungkan.

Tak berhenti sampai di situ, ketika acara akan berlangsung, si empunya acara atau ketua panitia harus disembur air putih oleh pawang hujan dengan dilengkapi mantra-mantra khusus.

Cara keempat, bisa dikatakan merupakan rekayasa teknologi namun kini sudah menjadi kebiasaan di mayarakat. Untuk merekayasa hujan digunakanlah cahaya tinggi hingga energi laser. Fungsinya untuk menginduksi hujan dan badai.

Dilansir dari express.co.uk, para ilmuwan telah menemukan cara aneh untuk memberantas kekeringan di seluruh dunia dengan menggunakan sinar laser. Saat ini, ilmuwan punya gagasan untuk menginduksi badai hujan dan petir dengan energi tinggi laser.

Para ahli dari University of Central Florida dan University of Arizona percaya bahwa dengan mengembangkan serangkaian sinar laser, dapat mengaktifkan listrik statis sehingga menginduksi hujan dan badai.

Cara kerjanya, saat satu sinar ditembakkan, akan ada sinar-sinar lain yang mengelilingi dan berfungsi sebagai penampungan energi

Cara terakhir adalah dengan mengandalkan pawang hujan. Siapa yang disebut pawang, tidak bisa dianggap remeh. Orang ini dipastikan memang memiliki kemampuan khusus untuk menggunakan kekuatan magis sehingga bisa “merayu” alam sesuai permintaannya.

Sang pawang biasanya berusaha merekayasa alam dan bukan menyihir. Artinya, agar tak hukan, ia biasanya akan berusaha memindahkan awan atau menggeser hujan ke daerah lain.

Tentua saja ada ritual khusus yang dilakukan pawang saat menggeser hujan. Ada juga sejumlah sesaji dan mantra-mantra khusus yang ia gunakan.

Cara terakhir adalah dengan menggunakan doa sesuai agama masing-masing. Mengutip laman nu.or.id, manusia hanya bisa berdoa agar hujan turun bisa berhenti.

Berikut doa agar hujan yang turun bisa berhenti. Doa di bawah ini sebagai salah satu ikhtiar kepada Allah SWT. Sesungguhnya hal ini pernah dilakukan Rasulullah SAW semasa hidupnya sebagaimana diterangkan dalam Sahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Anas, beliau pernah berdoa:

"Allahumma hawalayna wa la 'alayna, Allahumma alal akami wad thirobi, wa buthunil audiyyati wa manabitis syajari".

Artinya:

"Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami, dan jangan turunkan kepada kami untuk merusak kami. Ya Allah turunkanlah hujan di dataran tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan".

Demikian doa ketika hujan turun dan meminta pada Allah untuk menghentikannya.

Editor : Taat Ujianto