• News

  • Singkap Budaya

Natuna yang Malang, Diperebutkan tapi Sejarah dan Budayanya Terabaikan

Ilustrasi keindahan pantai di Kepulauan Natuna
foto: ayokenatuna.com
Ilustrasi keindahan pantai di Kepulauan Natuna

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Nama Pulau Natuna ramai dibicarakan seiring munculnya polemik dan klaim China terhadap perairan di kepulauan tersebut. Namun, tahukah kita semua bahwa masyarakat Natuna memiliki keprihatinan yang patut mendapat perhatian?

Menukil catatan penelusuran Tempo dalam judul “Kampung Segeram; Natuna dan Sejarah yang Terlupakan”, Sabtu (28/9/2019) silam, terungkap bahwa sejarah dan budaya Melayu khususnya di wilayah Kampung Segeram, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, kian terlupakan dan terabaikan.

Sisa-sisa peninggalan leluhur warga Natuna kini terancam mengalami kepunahan. Untuk menyelamatkan dan melestarikannya, diperlukan upaya serius. Apa saja budaya dan sejarah tersebut?

Budaya dan adat-istiadat Melayu di Segeram telah luntur ketika memasuki abad ke-21. Tradisi yang masih bertahan dan tersisa hanya tradisi lokal di bidang keagamaan, seperti Maulid Nabi dan tahun baru Islam.

Padahal, dahulu ada tarian Melayu. Ada pula pakaian adat khas Natuna. Namun model dan gaya berpakaian kini semua berasal dari luar.

Jejak peninggalan leluhur yang masih ada hingga kini hanyalah pecahan keramik zaman lampau yang bisa ditemui di jalanan kampung, seperti piring dan sendok. Itu pun tak terurus. Warga kebanyakan tidak tahu merawat dan bagaimana memperlakukan benda berharga tersebut.

Di pulau ini juga ada tujuh lokasi makam bersejarah yang unik. Makam itu bernisankan batu karang putih berpori-pori, diukir sedalam 5 cm membentuk pola.  Namun banyak warga setempat tak bisa menjelaskan secara baik tentang siapa sesungguhnya tokoh yang dikuburkan tersebut.

Tujuh lokasi makam itu sebenarnya tersebar tak terlalu berjauhan. Masing-masing terdiri dari dua kuburan yang berdampingan. Tak ada catatan yang menjelaskan siapa, dari kerajaan mana, dan kapan kuburan itu ada.

Masyarakat Natuna kini lebih banyak hanya tahu tentang legenda asal muasal Natuna. Kisahnya berisi tentang sosok Putri Melayu Jati. Hanya, namanya kisah legenda dari cerita tutur yang diwariskan,  diperlukan kajian karena kebenarannya belum bisa teruji.

Padahal, penelusuran sejarah asal usul penduduk dan asal mula Pulau Natuna sangat penting untuk membangun identitas komunal. Lalu bagaimana identitas itu bisa dibentuk jika tidak mengetahui asal mulanya?

Kepulauan Natuna adalah salah satu kepulauan milik Indonesia yang indah alamnya dan kaya sumber dayanya. Kepulauan yang sempat terancam diklaim kepemilikannya oleh Tiongkok ini memiliki keindahan yang belum banyak tereksplorasi.

Pertanyaan, siapa atau suku mana yang lebih dulu mendiami Kepulauan Natuna ini? Sejumlah literatur masih sulit dilacak untuk mendapatkan data yang pasti tentang siapa penghuni pertama kepulauan Natuna ini.

Legenda asal mula Natuna

Berdasarkan penelusuran Netralnews, menurut legenda, penghuni pertama Pulau Natuna Besar adalah Demang Megat. Alkisah, ada seorang anak yang terbawa hanyut sebatang kayu. Anak itu, menurut kisah, berasal dari Siam (Thailand). Kala itu pulau tersebut belum bernama.

Air laut yang menghanyutkan kayu itu kemudian mendamparkannya di sebuah pulau. Entah atas kekuatan dari mana, tiba-tiba anak itu berubah besar dan berbulu. Dialah yang kemudian disebut Demang Megat yang juga memiliki kekuatan dan kesaktian.
 
Demang Megat, yang menjadi penghuni pertama Pulau Natuna Besar itu, kemudian menikah dengan seorang putri Kerajaan Johor bernama Engku Fatimah. Kala itu Engku Fatimah sedang berlayar menuju gugusan Kepulauan Natuna dan kemudian mendarat di pantai Pulau Natuna Besar.
 
Di bawah sebuah pohon besar bernama bungur, di tempat itulah Engku Fatimah bertemu dengan Demang Megat. Karena saling terpikat, mereka kemudian menikah dan tinggal di pulau itu.
 
Dari nama pohon tempat pertemuan antara Engku Fatimah dan Demang Megat itulah tanah atau pulau itu kemudian disebut Bunguran. Pernikahan itu berjalan langgeng dan menjadi berkah bagi Engku Fatimah.
 
Sebelumnya, Engku Fatimah telah 40 kali menikah, tetapi tak berapa lama setelah menikah suaminya selalu meninggal. Hanya bersama Demang Megat, pernikahan Engku Fatimah bisa langgeng.

Oleh Kerajaan Johor, Demang Megat kemudian digelari Datuk Kaya. Gelar itu diberikan untuk yang pertama kalinya dan merupakan gelar tertinggi.

Natuna pun semakin menjadi makin kaya. Tidak hanya karena sumber daya alam yang dimilikinya dan segala potensi kelautan yang menjadi anugerahnya, tetapi juga kekayaan latar belakang warga yang mendiaminya.

Editor : Taat Ujianto