• News

  • Singkap Budaya

Ketika Perempuan Tionghoa Hamil, Palu hingga Kepiting Bisa Bikin Sial

Ilustrasi perempuan etnis Tionghoa sedang hamil
foto: pixabay.com
Ilustrasi perempuan etnis Tionghoa sedang hamil

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ada beragam tradisi dalam masyarakat dalam memandang arti kehamilan. Berbagai ritual, pantangan, dan kewajiban harus dilakukan seorang ibu yang sedang hamil. Demikian halnya dalam tradisi yang berlaku pada etnis Tionghoa.

Etnis Tionghoa peranakan di Indonesia juga merawat tradisi tersebut secara turun-temurun. Seperti halnya etnis lainnya, mereka menjalani tradisi itu demi kelancaran masa kehamilan hingga si kecil dilahirkan.

Bila menengok sejarah kuno etnis Tionghoa, masa kehamilan adalah masa penuh kekhawatiran. Mereka cenderung mengharapkan anak yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki. Bila perempuan, ibu dan si jabang bayi tidak diperlakukan istimewa.

Tradisi seperti itu berlangsung di Tiongkok, tatkala zaman masih diliputi perang. Mereka berpikir, anak laki-laki lebih berderajat tinggi untuk melanjutkan keturunan dan menghadapi situasi yang keras. Namun, seiring kemajuan zaman, laki-laki atau perempuan kini sama-sama istimewa.

Pada bulan pertama kehamilan, sang ibu merasa terlambat haid. Rata-rata belum merasa yakin. Untuk memastikannya, biasanya akan pergi ke dokter untuk tes kehamilan.

Setelah diperoleh kepastian, tibalah masa selanjutnya dengan seabrek kewajiban dan pantangan. Sama halnya dengan etnis lainnya, dalam masyarakat Tionghoa, ibu hamil juga menjalani segudang pantangan dan keharusan.

Dalam hal ngidam, nampaknya berbeda dengan Suku Jawa yang kental dengan mitos yang harus dipenuhi. Bila permintaan sang ibu tidak dipenuhi, bisa berdampak tidak baik bagi si jabang bayi. Dalam tradisi Tionghoa, hal seperti ini jarang terjadi.

Konon, ngidam adalah salah satu efek budaya saja. Bila budaya itu tidak menganggap ada, maka fenomena ngidam tidak akan mencolok. Ada yang berpendapat pula bahwa ngidam tergantung tingkat pengetahuan dan pola pikir si ibu. Ibu yang berpendidikan tinggi, jarang mengalami ngidam.

Memasuki bulan keempat, biasanya jenis kelamin janin sudah bisa diketahui. Bila tidak melalui USG, biasanya menebak dengan melihat perubahan fisik sang ibu yang hamil. Konon, kalau muka ibunya lebih mulus dan bertambah cantik, maka anaknya akan perempuan. Sebaliknya, maka laki-laki.

Pada bulan ketujuh, dalam tradisi Tionghoa, sebenarnya tidak ada ritual layaknya Suku Jawa (mitoni). Namun di sejumlah komunitas Tionghoa peranakan, misalnya di Tangerang (Cina Benteng), ternyata ada juga tradisi "nujuh bulan", hanya modelnya saja berbeda.

Demikian pula dengan masyarakat Tionghoa peranakan di Bandung, Jawa Barat. Sama seperti di Tangerang, mereka biasanya membuat rujak. Rujak dikemas secara khusus dan dibagikan kepada saudara dan warga terdekat.

Masa selanjutnya, sang ibu akan menjalani arahan dokter agar persalinan lancar. Biasanya akan diminta mengikuti senam hamil. Ada juga dengan melakukan kegiatan tertentu yang tujuannya juga sama. Misalnya, mengepel lantai rumah dengan cara merangkak.

Saat kelahiran tiba, seperti ibu-ibu dari etnis lainnya, persalinan natural dianggap sebagai suatu kebanggaan bagi seorang ibu. Sudah kodratnya, tugas mulia itu dituntaskan oleh mereka.

Setelah lahir, tibalah masa yang disebut nifas. Butuh waktu selama 40 hari untuk menjalani pemulihan. Banyak sekali aturannya agar sang ibu bisa benar-benar pulih. Bila dilanggar, bisa berdampak pada kesehatan sang ibu di waktu-waktu mendatang.

Sering ditemukan, seorang ibu mengalami pusing terus menerus, rematik, sakit tulang punggung, dan lain-lain. Saat datang ke pengobatan sinse, baru diketahui ternyata ibu tersebut banyak melanggar pantangan pascamelahirkan. Artinya, bila tidak tertib, risiko ditanggung kemudian.

Dalam ilmu kedokteran, pemulihan setelah melahirkan butuh waktu sekitar delapan minggu. Perlu konsumsi zat tertentu agar badan benar-benar sempurna kembali. Dalam etnis Jawa ada ramuan jamu khusus. Demikian juga dalam etnis Tionghoa, ada ramuan herbal khusus yang harus dikonsumsi.

Saat bayi berusia satu bulan, biasanya diadakan perayaan sederhana yang dinamakan Zuo Man Yue (Mandarin) atau Co Mua Gue (Hokkian). Keluarga akan membagikan makanan yang disebut kue Mua Gue kepada kerabat dan tetangga terdekat.

Nah, sebagai informasi terakhir, berikut sejumlah mitologi dalam tradisi etnis Tionghoa yang isinya berupa sejumlah larangan dan keharusan bagi ibu yang sedang hamil, yaitu:

1. Ibu hamil dilarang memberitahukan kehamilan pada tiga bulan pertama. Bila dilanggar, kelak si bayi bisa menjadi orang yang pelit, pemarah, bahkan bisa keguguran.

2. Ibu hamil dilarang membersihkan saluran yang mampet. Bila dilanggar, bisa menyebabkan keguguran.

3. Ibu hamil dilarang mengangkat tangan di atas kepala karena bisa mengganggu si janin.

4. Ibu hamil dilarang menjahit dan menggunakan gunting di sekitar tempat tidur karena bisa menyebabkan si bayi bermuka jelek, bibir sumbing, atau lahir tanpa anus.

5. Ibu hamil dilarang melihat orang sedang melukis atau mencat dinding karena bayi bisa mempunyai tanda lahir yang mengerikan.

6. Ibu hamil dilarang menggunakan palu dan paku karena bisa menimbulkan bekas luka di muka bayi (po qi).

7. Ibu hamil dilarang makan kepiting karena bisa menyebabkan si bayi memiliki lebih dari lima jari.

8. Ibu hamil dilarang menghadiri acara pemakaman atau tempat keramat karena akan mempengaruhi emosi sang bayi.

9. Ibu hamil wajib membawa pisau lipat atau silet dalam tas untuk mengusir mahluk halus (sha qi). Bisa juga dengan membawa an tai fu alias Fu atau jimat pelindung.

10. Ibu hamil dilarang mandi dan keluar rumah setelah pukul 21.00 karena unsur Yin menguat pada malam hari. Unsur Yin adalah hawa dinginnya malam, yang tidak baik untuk si janin.

11. Ibu hamil dilarang menganiaya hewan karena bisa mengakibatkan janin terkena penyakit kulit (konsep hun dan po).

12. Ibu hamil dilarang marah dan berperilaku tidak sopan kepada orang lain, khususnya pada orang tua dan orang cacat, karena akan mempengarui fisik janin dan waktu persalinan.

13. Ibu hamil diwajibkan untuk banyak membaca hal-hal yang menenteramkan hati serta mendengar musik yang juga bisa menenangkan si janin.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber