• News

  • Singkap Budaya

Suami Pemabuk, Gemar Melacur, lalu Bunuh Diri, Justru Dirayakan Orang Tionghoa?

Ilustrasi budaya dan tradisi etnis Tionghoa
foto: cnnindonesia
Ilustrasi budaya dan tradisi etnis Tionghoa

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Etnis Tionghoa memiliki ritual khusus yang dilakukan berdekatan dengan Tahun Baru Imlek. Ritual itu bernama Festival Si Siang Ang atau Song Wang atau sering juga disebut juga Tahun Baru Kecil.

Festival ini dirayakan untuk mengantar Dewa Dapur Zao Jun dalam rangka melaporkan tugasnya selama setahun di Bumi kepada Tian (Dewa tertinggi). Lalu siapakah Dewa Dapur Zao Jun?

Penghormatan Dewa Dapur Zao Jun bermula dari kisah seorang suami bernama Zhang. Suatu ketika, ia melakukan perbuatan yang dilarang Dewa (dosa) sehingga ditimpa kemalangan. Ia kemudian merasa sangat bersalah.

Karena larut dalam penyesalan, ia meloncat ke dalam tungku dapur yang apinya membara (bunuh diri). Kejadian itu disaksikan istrinya yang tak mampu mencegah kenekatan suaminya. Sejak kematian Zhang, istrinya membuat meja semacam altar kecil di atas tungku.

Di altar tersebut, ia rutin membakar dupa untuk menghormati Dewa Dapur sekaligus mendoakan arwah suaminya. Semenjak itu, kebiasaan menyembah Dewa Dapur berkembang di Tiongkok.

Di Indonesia, masyarakat etnis Tionghoa biasanya merayakan festival ini pada penanggalan Imlek tanggal 24 bulan 12. Pertanyaanya, mengapa Zhang yang bunuh diri dikenang dan dirayakan menjadi festival?

Ragam kisah Dewa Dapur

Mengadopsi tulisan Ardian Zhang dalam budaya-tionghoa.net, sumber mitologi Tiongkok adalah kepercayaan bahwa semua yang ada di alam ini memiliki kesadaran atau roh. Maka semua benda juga harus dihormati, karena menyimpan nilai yang berguna bagi kehidupan, termasuk dalam hal ini tungku dapur.

Selain itu, dalam masyarakat Tiongkok Kuno, siapapun penemu atau inovator sangat dihormati, contohnya adalah Suiren, penemu api di zaman batu atau masa kehidupan manusia purba.

Dalam catatan buku Hanfeizi Wudu, Suiren berhasil menemukan api dengan cara menggosokkan dua batang kayu. Manusia di zaman batu akhirnya mengenal api sebagai penerangan, api sebagai senjata mengusir binatang buas, dan api sebagai alat memasak. Api menandai lompatan peradaban.

Api adalah kebutuhan utama bagi keberadaan tungku dapur. Dalam asal-usul peradaban Tiongkok Kuno, tampaknya tungku dan dapur diartikan sama.

Sementara itu, Dewa Dapur adalah salah satu dewa kuno. Pada zaman Dinasti Xia (2070-1600 SM) sudah ada penyembahan terhadapnya. Kitab klasik Li Ji mencatat bahwa Dewa Dapur atau Zhao Jun adalah Zu Rong.

Sementara dalam catatan "Musim Semi dan Gugur", Zhu Rong adalah keturunan Huangdi dan anak Zhuanxu.  Dikatakan bahwa Dewa Dapur itu adalah arwah yang rambutnya disanggul. Artinya, pada mulanya Dewa Dapur itu dianggap berjenis kelamin perempuan.

Namun pada zaman Han, Huainan Zi menulis bahwa Zao Jun itu adalah Kaisar Yan dan digambarkan sebagai seorang pria. Kaisar Yan dianggap sebagai Dewa Api, sementara Zhu Rong adalah pejabat pengurus api.

Sedikit berbeda dengan sumber Taiping Yulan. Di situ disebutkan bahwa Huangdi atau Kaisar Kuning adalah penemu tungku dan disebut sebagai Zaoshen.

Perbedaan kisah dan sebutan Dewa Api dalam catatan sejarah, sebenarnya tidak menghilangkan hakekat pesan yang ingin disampaikan. Pertama adalah pentingnya budaya menghormati sosok penemu api. Kedua adalah api merupakan alat pertama yang dibutuhkan dalam memasak di dapur.

Pesan moral penyesalan dan pertobatan

Selain kisah tentang sosok Dewa Api, dalam masyarakat Tionghoa juga memiliki tradisi lisan lainnya terkait Festival Song Wang. Namun, kisah-kisah ini sebenarnya lebih menekankan pada ajaran moralitas dan bukan kisah penemu api.

Sepanjang sejarah, manusia sering melakukan tindak kejahatan yang mengkoyak keadilan dan kemanusiaan. Kejahatan melahirkan malapetaka. Ada sebagian yang akhirnya mengalami penyesalan dan pertobatan. Di balik Festival Song Wang ternyata menyimpan falsafah pertobatan.

Kisah itu menceritakan tokoh bernama Zhang Yu. Ia dikenal sebagai seorang suami yang suka judi, mabuk-mabukan, dan melacur. Kebiasaan tersebut menyebabkan kekayaannya ludes dan jatuh miskin. Ia kemudian nekat menjual istrinya untuk bisa melanjutkan kebiasaan buruknya.

Harta terakhirnya juga ludes. Ia kemudian hidup dengan mengemis. Suatu hari ia mengemis di sebuah rumah orang kaya. Ia terkejut, ia berjumpa dengan istri yang telah ia jual dan kini menjadi budak di rumah itu.

Istrinya masih menaruh belas kasihan kepada Zhang, sehingga ia diajak masuk ke ruang dapur. Istrinya ingin memberinya makan. Namun tiba-tiba, terdengar majikannya pulang dan meminta istrnya memasak masakan. Zhang pun panik.

Ia merasa malu dan tak ingin menimbulkan masalah bagi istrinya yang terbukti tetap mencintainya. Zhang kemudian nekat meloncat masuk ke dalam tungku api di dapur tersebut. Istrinya tak kuasa mencegahnya. Zhang akhirnya tewas dan tidak meninggalkan jejak.

Istri Zhang merahasiakan kejadian tersebut. Majikannya pun tidak mengetahuinya. Namun, istri Zhang kemudian selalu melakukan sembahyang di depan tungku untuk mengenang suaminya.

Suatu ketika, majikannya menanyakan mengapa ia berdoa di depan tungku. Perempuan itu pun menjawab bahwa manusia bisa memasak dan makan karena tungku. Ia menghormati tungku yang telah membuat manusia bisa menikmati makanan yang membuatnya tetap hidup.

Jadi, cukup jelas bahwa Festival Song Wang adalah perayaan tentang falsafah pertobatan. Festival tersebut dirayakan bukan untuk memuji Zhang yang melakukan bunuh diri.

Editor : Taat Ujianto