• News

  • Singkap Budaya

Dikutuk Raja Dayak, Kedua Putranya Berubah Menjadi Buaya dan Naga

Ilustrasi budaya suku Dayak
foto: sinentangnews.com
Ilustrasi budaya suku Dayak

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Cerita ini ditulis berdasar budaya tutur masyarakat Dayak di daerah  Kahayan Hilir, Pulau Mintin, Kalimantan Tengah.  Menukil Cerita Rakyat Kalimantan Tengah (1982: 44-45), ada satu kisah menarik tentang legenda buaya dan naga di daerah ini.

Alkisah, dahulu  kala di  Pulau  Mintin terdapat  satu Kerajaan Dayak yang terkenal masyhur ke mana-mana karena kemakmurannya  di bawah pimpinan seorang raja yang adil dan bijaksana.

Namun, suatu  kali, meninggallah permaisuri yang sangat dicintainya Sang Raja. Sejak kejadian itu Sang Raja menjadi berubah dan tampak selalu murung. Ia kehilangan gairah memerintah dan mengatur kerajaannya. Akibatnya, kejayaannya semakin redup.

Sadar akan kondisi psikologinya yang tidak baik, Sang Raja memutuskan untuk mengembara agar mampu menyembuhkan dirinya dari duka akibat ditinggal Sang Permaisuri.

Sebelum pergi, ia memanggil kedua putranya yang bernama Naga dan Buaya. Mereka diminta untuk menggantikan kedudukannya. 

Begitu kedua putranya menghadap, Baginda Raja segera menyerahkan tampuk kekuasaannya kepada mereka berdua. Sedang Baginda kemudian pergi berlayar untuk mengobati sakit hatinya.

Kedua putera raja ini menyambut baik maksud ayahnya dan berjanji akan melaksanakan tugas tersebut  dengan sebaik-baiknya.

Sejak kepergian ayahandanya, maka pimpinan kerajaan dipegang bersama oleh kedua putera  raja ini. Namun, mereka berdua mempunyai watak yang berbeda.

Naga mempunyai watak senang berfoya-foya dengan wanita, mabuk-mabukkan, dan berjudi. Untuk memuaskan  dirinya, ia tidak segan-segan menjual harta benda milik kerajaan yang ada di istana.

Sedang saudaranya, Buaya, mempunyai watak pemurah, ramah tamah, tidak boros dan suka menolong.

Hari  demi  hari,  bulan  demi  bulan,  semakin  berkuranglah harta-benda kerajaan karena perbuatan  Naga dan suasana kerajaan menjadi semakin memburuk.

Kemelaratan dan kemiskinan rakyat semakin menjadi-jadi.  Buaya  akhirnya marah kepada saudaranya Naga, yang tidak  melaksanakan  amanat  ayahnya  Sri Baginda.

Ia tidak  dapat  membiarkan hal ini menjadi berlarut-larut.  Ia harus segera mengambil tindakan tegas terhadap perbuatan Naga.

Maka terjadilah pertengkaran antara kedua bersaudara ini. Perkelahian semakin meluas. Prajurit kerajaan pun terbagi dua, sebagian memihak kepada Naga dan sebagian lain memihak kepada Buaya. Korban pun mulai jatuh bergelimpangan.

Adapun Sri Baginda Raja yang sedang berlayar dan telah sembuh dari dukanya, tiba-tiba mendapat suatu  firasat yang tidak baik. 

Hatinya  berdebar-debar dan gelisah.  Ia kemudian memutuskan untuk segera kembali ke kerajaannya. Ia berbalik arah dan dengan kesaktiannya, dalam sekejab mata, ia telah tiba di kerajaannya yang sedang dilanda peperangan. 

Betapa murkanya   Baginda  kepada  kedua  kedua putranya. Ia segera menghentikan pertempuran  itu.  Naga dan Buaya  dipanggil dan diminta menceriterakan  apa yang sebenarnya terjadi.

"Kalian telah melanggar pesanku dan menyia-nyiakan  keper cayaan  yang  kuberikan.  Untuk  itu  hukumankulah  yang  akan kalian terima.  Naga jadilah engkau Naga yang  sebenarnya  dan hidup di dalam air.  Buaya jadilah engkau Buaya yang sebenarnya dan hidup pula dalam air,” kata Baginda.

Tatapan Baginda kemudian mengarah ke Buaya. Katanya, “Buaya, karena kesalahanmu tidak begitu berat, maka menetaplah engkau di daerah ini untuk menjaga pulau Mintin ini. Selain itu engkau harus mampu membendung masuk nya air asin ke daerah ini.” 

Sementara kepada Naga, Baginda bersabda, “Naga, engkau  harus menjaga agar di sepanjang sungai Kapuas jangan ditumbuhi oleh Cendawan Bantilung  (sejenis jamur) dan tinggallah engkau di sana."

Setelah Baginda Raja mengucapkan hukuman (kutukannya)  kepada kedua  puteranya  ini,  maka  hujan  pun  turun  dengan lebatnya, disertai  kilat  dan  petir. 

Kedua  putera raja  ini pun  langsung berubah menjadi naga dan buaya yang sebenarnya dan masuklah ke dalam air.

Buaya hidup di daerah Pulau Mintin sedangkan Naga pergi ke sungai Kapuas. Dan menurut masyarakat setempat, Anjir Kalampan adalah bekas Naga lewat menuju Kapuas. Demikianlah budaya tutur masyarakat Pulau Mintin yang masih dipelihara hingga kini.

Editor : Taat Ujianto