• News

  • Singkap Budaya

Panggil Roh Halus Ala Suku Bugis untuk Usir COVID-19, Mungkinkah?

Ilustrasi ritual pengobatan ala suku Bugis
foto: infobudaya
Ilustrasi ritual pengobatan ala suku Bugis

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dengan wajah serius, Ua Denu bercerita, “Saudara laki-lakiku buang air di antara pohon bakau, saat kembali ia tak bisa bicara lagi. Ia dimasuki roh paitua.”  Keluarga Ua Denu menjadi panik dibuatnya.

Segera dipanggilah dongkaka, yaitu dukun perantara manusia dan roh halus yang dipercaya ada di laut, darat, udara, dan gunung. Setelah membaca mantra khusus, sang dongkaka memukul keras punggung laki-laki itu. Seketika, lelaki itu normal kembali.

Kepercayaan Suku Bajo terhadap roh-roh yang berada di segala penjuru adalah pedoman hidup mereka. Dalam kepercayaan itu terdapat aturan, mana yang boleh dan mana yang dilarang atau disebut pamali.

Ada banyak sekali pamali. Ada larangan tidak boleh sendiri di tengah laut, ada larangan mengumpat saat mencari ikan di laut, ada pantangan menyebut roh dengan tidak sopan, dan sebagainya. Pamali menjadi pedoman keteraturan hidup Suku Bajo.

Francois Robert Zacot, serorang berkebangsaan Perancis sempat melakukan penelitian etnografis selama puluhan tahun. Ia tinggal dan hidup membaur dalam masyarakat Bajo di Pulau Nain (di bagian Utara Manado) dan di Desa Torosiaje, Gorontalo.

Tahun 2002, ia berhasil menerbitkan buku berjudul Orang Bajo, Suku Pengembara Laut. Dalam buku itu, dikisahkan bagaimana Francois berhasil bercakap-cakap dengan roh-roh (dalam buku itu disebut setan) yang menentukan keselamatan hidup Suku Bajo (halaman 199-207).

Francois menyebut roh nenek moyang maupun kekuatan gaib dalam benda (animisme-dinamisme) dengan istilah setan. Penulis berpendapat, sebutan yang lebih tepat seharusnya adalah roh halus dan kekuatan gaib.

Setan dalam masyarakat Bajo, tidak semua jahat. Mereka ada yang menimbulkan penyakit, membahayakan, mencelakakan, tapi ada yang membantu memecahkan masalah hingga menyembuhkan orang sakit.

Setan dalam masyarakat Bajo adalah kekuatan yang ikut menentukan arah hidup seseorang. Mereka berada di tengah-tengah manusia, dan bila mencelakakan, maka harus dilakukan komunikasi dan memberi apa yang mereka inginkan. Biasanya diberikan sesaji yang jenisnya sesuai dengan roh mana yang mengganggu.

Sebagai seorang Perancis, Francois dengan sabar membaur dalam kehidupan Suku Bajo. Sampai akhirnya, ia dianggap biasa dan bukan lagi orang asing. Suatu ketika, karena sudah tumbuh kepercayaan dan kedekatan, saat itu pun tiba.

“Kalau kamu mau, kamu bisa berbicara langsung dengan setan dan mengajukan pertanyaan,” demikian tawaran sorang warga Bajo. “Syaratnya cukup mudah dan kita hanya perlu bantuan dongkaka,” lanjutnya. Tawaran itu pun tidak disia-siakan Francois.

Ritual memanggil dan berkomunikasi dengan roh halus syaratnya cukup sederhana. Setelah dongkaka setempat, Mbo Me, menyatakan bersedia, Francois diminta menyediakan sebotol anggur atau minuman keras. Ia pun membawa sebotol wiski. Mereka duduk melingkar di atas tikar. Di tengahnya terdapat baki berisi bara api dan dupa.

Mbo Me kemudian mulai menuang wiski ke dalam gelas. Membaca mantra dan memutar-mutar gelas di atas bara yang berisi dupa. Gelas itu kemudian ia teguk isinya. Sekali, dua kali, dan ketiga kalinya, tiba-tiba tubuh Mbo Me kejang seperti tersengat listrik.

Francois sempat terkejut, namun ditenangkan warga Bajo yang ikut dalam ritual. Perlahan Mbo Me duduk kembali dengan tenang. Kini ia sudah siap, katanya, “Apa yang ingin kamu minta hingga kamu memanggilku?”

Tubuh Mbo Me sekarang berisi roh. Ia bukan lagi sebagai dongkala, tetapi sebagai tubuh yang telah digerakkan oleh roh halus. Francois pun segera bertanya banyak hal. Mulai dari roh-roh yang ada di alam semesta, mana yang jahat, mana yang baik.

Roh yang sedang bercakap-cakap saat itu adalah Sitti Amin, Sitti Awan, Siparoca, Sikalupe, Sirompo, dan Makulao. Mereka berasal dari laut. Di antara roh itu ada yang jahat, yaitu Siparoca. Lainnya adalah roh baik.

Orang Bajo bisa kena serampang atau penyakit karena roh tertentu yang mengganggu. Di darat, bisa mengakibatkan badan dan kepala panas. Bila roh laut, kepala panas dan badan, serta tangan menjadi dingin. Pengobatannya berbeda, sesaji yang diberikan juga berbeda. Sitti Awan adalah roh yang biasa membantu menyembuhkan penyakit.

Roh-roh mengawasi dan mengontrol lautan dan segenap ikan-ikan. Orang Bajo dilarang menangkap ikan dengan memaki-maki. Makian dibenci oleh roh penunggu laut, yaitu Siparoca dan Sikalupe. Bila dilanggar, ia tidak akan dapat ikan, bahkan bagang (perahu) bisa terbalik.

Kembali ke ritual, selama lima jam ritual itu berlangsung. Hingga akhirnya percakapan dinyatakan cukup. Mereka duduk melingkar, saling menjabat tangan, sebagian membaca doa atau mantra. Tiba-tiba Mbo Me kembali kejang. Ia kemudian menggosokkan mata seolah baru bangun tidur.

Mbo Me kini telah kembali seperti semula. Roh yang menyusupi tubuhnya telah pergi. Ia mengaku penasaran tentang apa yang baru terjadi. Ia merasa tak sadarkan diri. Francois pun memutar kembali percakapan yang telah ia rekam. Mbo Me tercenung dan serius mendengarkan dari awal sampai akhir. Ritual pun berakhir.

Pertanyaan sederhana, boleh dijawab, boleh tidak dijawab, apakah dalam menghadapi wabah virus corona atau COVID-19, praktik pengobatan dunia modern bisa dikombinasikan dengan model ritual memanggil roh ala Suku Bugis? Mungkin dan bisakah metode itu untuk menghalau virus corona?

Editor : Taat Ujianto